JAKARTA - Sektor pertanian kembali menunjukkan perannya sebagai tulang punggung ekonomi Lampung.
Setelah menghadapi kontraksi pada 2024, kini pertanian mulai pulih dengan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Pemulihan ini tidak hanya terlihat dari angka produksi, tetapi juga dari stabilitas harga komoditas dan peningkatan kapasitas infrastruktur pertanian.
Pengamat Ekonomi Lampung, Asrian Hendi Caya, menyatakan bahwa ekonomi Lampung sepanjang 2025 menunjukkan kinerja yang cukup baik, dengan pertumbuhan diperkirakan berada di kisaran 5,15 hingga 5,25 persen.
“Ekonomi Lampung tahun 2025 menunjukkan kinerja yang baik. Perkiraannya tumbuh sebesar 5,15–5,25 persen,” ujarnya.
Pemulihan Sektor Pertanian Setelah Kontraksi
Kebangkitan sektor pertanian menjadi salah satu faktor utama pertumbuhan tersebut. Pada 2024, sektor pertanian Lampung sempat mencatat pertumbuhan negatif, sekitar minus 2 persen, yang berdampak pada kinerja ekonomi secara keseluruhan. Namun pada 2025, sektor ini mulai tumbuh positif, diperkirakan sekitar 3–4 persen.
“Hal ini dari sektor pertanian yang kemungkinan tumbuh sekitar 3–4 persen, dari tahun 2024 lalu yang tercatat minus 2 persen,” jelas Asrian.
Pemulihan ini mencerminkan efektivitas kebijakan pemerintah daerah dan dukungan terhadap program pertanian nasional.
Dukungan Infrastruktur Memperkuat Produksi
Pertumbuhan sektor pertanian Lampung tidak terlepas dari dukungan infrastruktur yang mulai beroperasi. Bendungan dan sumber daya air yang tersedia memudahkan irigasi lahan pertanian, sehingga produktivitas tanaman meningkat.
Ketersediaan air yang memadai menjadi faktor kunci bagi keberhasilan sektor pertanian, terutama pada komoditas seperti padi dan jagung.
“Asrian menambahkan, sektor pertanian Lampung juga karena keberadaan infrastruktur sumber daya air yang mulai beroperasi sebagai program nasional. Pertanian juga berkembang dengan adanya bendungan yang sudah beroperasi sebagai program nasional, karena pertanian sangat tergantung dengan air,” katanya.
Kebijakan Prioritas Pertanian
Pemprov Lampung memprioritaskan sektor pertanian melalui berbagai program yang selaras dengan kebijakan nasional. Program pupuk organik cair, penyediaan bibit unggul, hingga fasilitas pengeringan hasil pertanian (dryer) membantu petani meningkatkan hasil produksi dan kualitas komoditas.
“Hal ini sejalan dengan kebijakan Pemprov yang memprioritaskan pertanian dengan program pupuk organik cair, bibit, dan dryer yang sejalan dengan kebijakan nasional tentang ketahanan pangan,” ujar Asrian. Program-program ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendukung kedaulatan pangan daerah.
Dampak Penyesuaian Harga Komoditas
Selain dukungan infrastruktur dan program pemerintah, penyesuaian harga komoditas juga memberi dampak positif bagi petani. Harga gabah dan jagung mengalami kenaikan yang signifikan, sehingga pendapatan petani meningkat. Kondisi ini mendorong keberlanjutan sektor pertanian dan memperkuat kontribusinya terhadap ekonomi Lampung.
“Yakni harga gabah dan jagung naik cukup signifikan,” kata Asrian. Kenaikan harga ini memberikan insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi sekaligus memperbaiki kualitas hasil pertanian.
Fondasi Ekonomi untuk 2026
Capaian ekonomi Lampung pada 2025 menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan 2026. Dengan dukungan sektor pertanian, pertumbuhan ekonomi daerah diperkirakan lebih tinggi, mencapai 5,3–6 persen.
Kinerja ini membuka peluang bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengembangan sektor lain yang terkait dengan pertanian, seperti industri pengolahan pangan dan logistik.
“Capaian 2025 merupakan fondasi ekonomi yang kokoh untuk kinerja 2026. Karena itu, pada 2026 ekonomi Lampung diprediksi tumbuh lebih tinggi 5,3–6 persen,” ujarnya.
Peran Pertanian dalam Peningkatan Kesejahteraan
Pertanian Lampung tidak hanya berperan dalam angka pertumbuhan, tetapi juga dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan pendapatan yang lebih stabil dan harga komoditas yang kompetitif, petani mampu memenuhi kebutuhan hidup, meningkatkan investasi dalam pertanian, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor pangan.
Infrastruktur yang memadai dan kebijakan pemerintah yang tepat memastikan bahwa sektor pertanian tetap menjadi penopang ekonomi daerah, terutama bagi kelompok masyarakat yang bergantung langsung pada lahan pertanian.
Sinergi Pemerintah dan Petani
Keberhasilan sektor pertanian Lampung juga ditopang oleh sinergi antara pemerintah daerah dan petani. Program pendampingan, pelatihan teknik pertanian modern, serta penyediaan fasilitas pertanian modern memastikan hasil panen meningkat dan kualitas produk terjaga.
Kebijakan ini menunjukkan komitmen Pemprov Lampung dalam memperkuat ketahanan pangan, menjaga harga komoditas stabil, dan menciptakan ekonomi yang inklusif bagi masyarakat pedesaan.
Prospek Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Dengan dukungan sektor pertanian yang kuat, pertumbuhan ekonomi Lampung diperkirakan berlanjut positif pada tahun 2026. Selain pertanian, sektor-sektor lain seperti industri pengolahan, distribusi pangan, dan perdagangan lokal ikut mendapatkan manfaat dari kinerja pertanian yang meningkat.
Keberhasilan ini menegaskan bahwa sektor pertanian tetap menjadi motor penggerak ekonomi Lampung, sekaligus menjadi contoh bagaimana sinergi antara kebijakan pemerintah, infrastruktur, dan inovasi petani dapat menciptakan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.