JAKARTA - Kehadiran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia di panggung global menandai babak baru strategi investasi nasional.
Untuk pertama kalinya, Danantara tampil dalam forum ekonomi dunia World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, dengan membawa sejumlah agenda strategis yang dirancang untuk menopang pembangunan jangka panjang Indonesia. Dalam forum bergengsi yang dihadiri pemimpin negara, pelaku industri, dan investor global tersebut, Danantara memaparkan tiga proyek unggulan yang menjadi prioritas utama lembaga ini.
Pemaparan proyek dilakukan dalam sesi bertajuk “Danantara: Powering Indonesia’s Future” yang berlangsung di Indonesia Pavilion, Selasa, 20 Januari 2026. Melalui sesi ini, Danantara tidak hanya memperkenalkan rencana investasinya, tetapi juga menyampaikan visi jangka panjang mengenai pengelolaan aset negara yang berkelanjutan, berdampak sosial, dan berorientasi pada tata kelola yang kuat.
Debut Danantara di Forum Ekonomi Dunia
Sebagai institusi baru dalam ekosistem investasi nasional, Danantara memanfaatkan momentum WEF Davos 2026 untuk memperkenalkan arah kebijakan dan prioritas investasinya kepada komunitas global. Managing Director Investment Danantara, Stefanus Ade Hadiwidjaja, menjelaskan bahwa lembaganya berfokus pada proyek-proyek strategis yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat serta mendukung transformasi ekonomi Indonesia.
Tiga proyek yang dipaparkan meliputi pembangunan fasilitas waste-to-energy (WTE) di 33 kota, pengembangan industri obat berbasis plasma darah, serta pembangunan Kompleks Haji berstandar internasional di Makkah. Ketiga proyek tersebut dipilih karena dinilai mampu menjawab tantangan struktural Indonesia, mulai dari pengelolaan sampah, ketahanan sektor kesehatan, hingga peningkatan layanan bagi jemaah haji.
“Danantara ingin membangun sesuatu yang tahan lama dan berdampak bagi masyarakat. Kami bergerak cepat, tetapi tidak terburu-buru. Kami ingin memastikan memiliki fondasi yang kuat,” ujar Stefanus Ade Hadiwidjaja.
Proyek Waste-to-Energy Jadi Fokus Awal
Salah satu proyek yang mendapat sorotan utama adalah pengembangan fasilitas waste-to-energy atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Proyek ini dirancang untuk mengatasi persoalan sampah perkotaan sekaligus mendukung transisi energi bersih. Danantara sebelumnya telah mengungkapkan bahwa proses peletakan batu pertama proyek PSEL ditargetkan berlangsung secara bertahap pada periode Maret hingga Juni 2026.
Berdasarkan laporan Danantara bertajuk Addressing Future Waste Challenges, proyek PSEL yang diatur melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 109/2025 merupakan program nasional jangka panjang dengan masa kontrak hingga 30 tahun. Proyek ini tidak hanya berorientasi pada pengolahan sampah, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan ekosistem energi berkelanjutan di berbagai daerah.
Dalam laporan tersebut, Danantara menyebutkan bahwa pelaksanaan program PSEL dibagi ke dalam empat tahapan utama. Saat ini, fokus awal tertuju pada empat wilayah yang dinilai paling siap dari sisi infrastruktur dan kesiapan daerah, yakni Bekasi, Bogor Raya, Bali, dan Yogyakarta.
Tahapan Tender dan Evaluasi Proyek Strategis
Memasuki Januari 2026, agenda utama proyek PSEL adalah penyerahan proposal atau proposal submission dari para peserta tender. Tahap ini menjadi krusial karena akan menentukan mitra strategis yang terlibat dalam pengembangan proyek berskala besar tersebut. Setelah penyerahan proposal, proses akan dilanjutkan dengan evaluasi mendalam yang dijadwalkan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026.
Selain proyek waste-to-energy, Danantara juga memaparkan pengembangan industri obat berbasis plasma darah. Proyek ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan sektor kesehatan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Dengan pengelolaan yang terintegrasi, industri ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan membuka peluang ekspor di masa depan.
Di sektor pelayanan keagamaan, Danantara turut menyoroti pembangunan Kompleks Haji Indonesia di Makkah. Pemerintah Indonesia diketahui telah memenangkan dua proyek strategis di Arab Saudi terkait penyediaan akomodasi jemaah haji. Salah satunya berupa pembelian hotel siap pakai, sementara proyek lainnya berupa pengembangan lahan yang akan dibangun menjadi Kampung Haji Indonesia dengan standar internasional.
Komitmen Tata Kelola dan Reformasi BUMN
Selain memaparkan proyek-proyek strategis, Danantara juga menegaskan komitmennya terhadap tata kelola dan efisiensi internal, khususnya di lingkungan badan usaha milik negara (BUMN). Salah satu langkah konkret yang diambil adalah penghapusan tantiem bagi dewan komisaris BUMN. Kebijakan ini diproyeksikan mampu menghemat anggaran negara sebesar Rp8 triliun hingga Rp8,3 triliun per tahun.
Managing Director Global Relations & Governance Danantara, Mohamad Al-Arief, menilai langkah tersebut sebagai bagian dari reformasi struktural yang bertujuan meningkatkan kredibilitas Indonesia di mata investor global. Menurutnya, kepercayaan pasar internasional tidak hanya dibangun melalui proyek besar, tetapi juga melalui konsistensi tata kelola yang transparan dan akuntabel.
“Reformasi adalah tentang menukar kenyamanan jangka pendek dengan kepercayaan pasar global,” pungkas Mohamad Al-Arief dalam kesempatan yang sama.
Melalui debutnya di WEF Davos 2026, Danantara menegaskan posisinya sebagai instrumen strategis pemerintah dalam mengelola investasi nasional. Dengan membawa proyek-proyek berdampak besar dan menekankan pentingnya tata kelola, Danantara berupaya menunjukkan bahwa Indonesia siap menjadi pemain utama dalam peta investasi global, tidak hanya sebagai tujuan modal, tetapi juga sebagai mitra pembangunan jangka panjang.