JAKARTA - Menjelang pelaksanaan Asia Pacific Cities for Health and Development (APCAT) Summit 2026, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, mengungkapkan sejumlah agenda strategis.
Agenda tersebut akan menjadi fokus utama dalam forum yang bertujuan memperkuat peran pemerintah daerah dalam isu kesehatan dan pengendalian tembakau.
Sebagai ajang penting yang melibatkan kepala daerah di kawasan Asia Pasifik, APCAT bertujuan untuk memperkuat peran pemerintah daerah dalam isu kesehatan dan pembangunan, khususnya dalam pengendalian tembakau dan pencegahan penyakit tidak menular.
Forum ini, yang telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun, menjadi platform bagi kota-kota di Asia Pasifik untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam mengatasi masalah kesehatan global. Dalam konteks ini, Bima Arya menekankan beberapa isu utama yang harus menjadi perhatian menjelang APCAT Summit 2026.
Isu Pengendalian Tembakau: Tantangan yang Semakin Kompleks
Salah satu agenda utama yang disorot oleh Bima Arya adalah pengendalian tembakau. Menurutnya, meskipun banyak kemajuan yang telah dicapai dalam pengurangan konsumsi tembakau, tantangan yang dihadapi dalam sektor ini masih sangat besar.
Terutama, dalam hal bagaimana menghadapi industri tembakau yang semakin canggih dan memiliki banyak inovasi. Industri tembakau kini semakin mudah menyusup ke kehidupan keluarga dan masyarakat melalui produk-produk baru yang tidak lagi hanya berupa rokok.
Produk-produk tembakau kini sering kali dikemas dengan cara yang lebih menarik, menyerupai permen atau minuman ringan, sehingga lebih sulit untuk dikenali oleh masyarakat.
Bima Arya menjelaskan bahwa pengendalian tembakau bukan hanya tantangan untuk kepala daerah, tetapi juga tantangan yang lebih besar karena peran industri tembakau yang semakin beragam.
Iklan tembakau yang dikemas dengan cara kreatif ini menjadi tantangan besar bagi para pemerintah daerah dalam upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya tembakau.
Ia menekankan pentingnya memperkuat kebijakan dan regulasi yang mengatur pemasaran tembakau agar tidak menciptakan kesan positif terhadap produk-produk tersebut, terutama di kalangan anak muda dan keluarga.
Harmonisasi Regulasi untuk Pengendalian Tembakau
Selain pengendalian tembakau, regulasi juga menjadi salah satu fokus utama yang diangkat oleh Bima Arya. Dalam paparannya, Bima menekankan bahwa pengendalian tembakau memerlukan harmonisasi regulasi antara tingkat pusat dan daerah.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memiliki peran besar dalam memastikan bahwa peraturan yang ada di tingkat daerah mendukung upaya pengendalian tembakau yang dilakukan di tingkat nasional.
Bima menjelaskan bahwa Kemendagri telah melakukan koordinasi yang baik dalam memastikan bahwa peraturan daerah di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia sesuai dengan semangat kebijakan pengendalian tembakau yang telah ditetapkan.
"Peran Kemendagri adalah untuk melakukan harmonisasi, memastikan bahwa seluruh peraturan daerah yang ada di tingkat lokal mendukung kebijakan pengendalian tembakau secara nasional," ungkap Bima.
Koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah akan mempermudah penerapan kebijakan pengendalian tembakau di seluruh wilayah Indonesia, sehingga tidak ada lagi peraturan yang bertentangan atau tidak efektif dalam mengatasi masalah ini.
Regenerasi Kepemimpinan: Melibatkan Pemimpin Baru dalam Gerakan Pengendalian Tembakau
Isu ketiga yang menjadi perhatian penting Bima adalah regenerasi kepemimpinan di tingkat daerah. Menurutnya, regenerasi kepemimpinan sangat penting agar gerakan pengendalian tembakau bisa berkelanjutan.
Pemimpin-pemimpin baru, baik di tingkat gubernur, bupati, camat, lurah, hingga kepala dinas, harus dilibatkan dalam perjuangan melawan industri tembakau dan memperkuat kebijakan kesehatan yang sudah ada.
Bima juga menyatakan bahwa dalam waktu dekat, pihaknya akan menggelar pertemuan dengan pemimpin baru di forum APCAT untuk merancang agenda yang lebih fokus ke depan.
Ia berharap agar para pemimpin baru ini bisa memberikan perhatian yang lebih besar terhadap isu pengendalian tembakau, sebagaimana yang telah dilakukan oleh pemimpin sebelumnya.
“Penting bagi kita untuk memastikan bahwa para pemimpin baru ini memiliki perhatian yang sama terhadap isu pengendalian tembakau. Kita tidak hanya berbicara tentang pemimpin di tingkat gubernur atau bupati, tetapi juga camat, lurah, dan kepala dinas,” kata Bima.
Bima juga menekankan bahwa regenerasi kepemimpinan bukan hanya soal pergantian figur pemimpin, tetapi juga tentang memperkuat kesadaran mereka untuk melibatkan masyarakat dalam pergerakan ini.
Dengan melibatkan pemimpin dari berbagai tingkatan, diharapkan gerakan ini bisa berjalan dengan lebih berkelanjutan, mencakup seluruh lapisan pemerintahan, dan tidak hanya terfokus pada satu atau dua pemimpin saja.
APCAT Summit 2026: Mendorong Aksi Nyata di Tingkat Daerah
Sebagai ajang yang akan dihadiri oleh puluhan kepala daerah dari berbagai kota di Asia Pasifik, APCAT Summit 2026 diharapkan dapat mendorong aksi nyata dalam pengendalian tembakau dan pencegahan penyakit tidak menular di tingkat daerah.
Bima Arya berharap bahwa forum ini tidak hanya sekadar menjadi ajang diskusi atau pertukaran ide, tetapi juga memberikan dampak positif yang langsung terlihat di lapangan. Ia ingin agar para peserta dapat membawa pulang kebijakan-kebijakan yang lebih konkret dan dapat diterapkan langsung di kota mereka masing-masing.
"APCAT harus lebih dari sekadar forum formal. Kami berharap forum ini bisa mengubah ide-ide menjadi kebijakan yang dapat diterapkan di tingkat lokal. Setiap kepala daerah harus bisa membawa pulang kebijakan yang bisa langsung diimplementasikan di daerah mereka," ujar Bima.
Harapan ini mencerminkan pentingnya melibatkan seluruh elemen pemerintah daerah dalam upaya pengendalian tembakau, sehingga kebijakan yang ada tidak hanya menjadi program sementara, tetapi bagian dari gerakan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Sebagai penutup, Bima Arya menegaskan bahwa pengendalian tembakau, harmonisasi regulasi, dan regenerasi kepemimpinan adalah tiga isu utama yang akan dibahas dalam APCAT Summit 2026.
Forum ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang untuk mendiskusikan tantangan-tantangan yang ada, tetapi juga untuk menciptakan solusi yang dapat diterapkan secara nyata di tingkat daerah.
Dengan melibatkan semua pemimpin daerah dan pemangku kepentingan lainnya, gerakan pengendalian tembakau dapat terus berkembang dan memberi dampak positif pada kesehatan masyarakat, baik di Indonesia maupun di seluruh kawasan Asia Pasifik.
Bima juga menegaskan bahwa pengendalian tembakau bukan hanya soal regulasi dan kebijakan, tetapi juga tentang menciptakan kesadaran kolektif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Oleh karena itu, diharapkan APCAT Summit 2026 menjadi langkah penting menuju pengendalian tembakau yang lebih efektif dan perbaikan kebijakan kesehatan di tingkat daerah yang berkelanjutan.