Strategi Menteri Rini Perkuat Literasi Finansial Perempuan dan Birokrasi

Selasa, 10 Februari 2026 | 08:35:41 WIB
Strategi Menteri Rini Perkuat Literasi Finansial Perempuan dan Birokrasi

JAKARTA - Keberlanjutan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan politik, tetapi juga oleh seberapa kuat ketahanan ekonomi yang dibangun dari unit terkecil, yaitu keluarga. Dalam sebuah forum edukasi finansial bertajuk “Gold As Legacy: Preserving Wealth For Future Generation” yang digelar di Jakarta pada Jumat, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Rini Widyantini, menekankan bahwa literasi finansial adalah instrumen krusial bagi masa depan.

Menurut Menteri Rini, memahami instrumen investasi hanyalah permukaan dari sebuah misi yang lebih besar: membangun ketahanan keluarga, masyarakat, dan bangsa secara berkelanjutan. Pengelolaan kekayaan dipandang sebagai tanggung jawab lintas generasi, sebuah warisan yang harus dijaga dan diteruskan demi kesejahteraan jangka panjang.

Peran Strategis Perempuan sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi Bangsa

Salah satu poin utama yang menjadi perhatian Menteri Rini adalah urgensi penguatan literasi keuangan bagi kaum perempuan. Ia menegaskan bahwa perempuan memegang peran sentral yang tidak bisa diabaikan dalam ekosistem ekonomi nasional. Perempuan bukan sekadar pengelola rumah tangga, melainkan motor penggerak kepemimpinan ekonomi di tingkat komunitas.

“Perempuan memiliki peran strategis sebagai pilar ketahanan ekonomi, penggerak kepemimpinan ekonomi keluarga dan komunitas, serta agen literasi keuangan,” jelas Menteri Rini saat memberikan sambutan sebagai Keynote Speaker. Dalam perspektifnya, pemberdayaan keuangan bagi perempuan harus diangkat menjadi agenda strategis nasional. Hal ini dikarenakan posisi ibu yang menjadi pendidik utama dalam keluarga, yang perilakunya akan sangat memengaruhi pola pikir finansial anak-anak sebagai generasi penerus.

Filosofi Kekayaan dalam Perspektif Reformasi Birokrasi

Menteri Rini juga menarik korelasi penting antara kecerdasan finansial dengan integritas aparatur negara. Dalam konteks reformasi birokrasi, literasi keuangan yang mumpuni dianggap sebagai fondasi bagi terciptanya aparatur yang adaptif dan berdaya saing. Namun, ia menekankan bahwa makna kekayaan bagi seorang abdi negara tidak boleh diukur hanya dari aspek materi semata.

“Kita meyakini bahwa kekayaan sejati bukan hanya pada apa yang dimiliki, tetapi pada nilai yang diwariskan. True legacy is not wealth alone, but wisdom that endures across generations,” ungkapnya. Kutipan ini menegaskan bahwa integritas dalam mengelola nilai-nilai jauh lebih berharga daripada sekadar akumulasi aset. Bagi birokrasi, warisan terbaik adalah tata kelola pemerintahan yang tangguh dan pelayanan publik yang stabil serta berpihak pada kepentingan bangsa di masa depan.

Kepemimpinan Visioner sebagai Penentu Warisan Masa Depan

Lebih jauh, Menteri PANRB menyoroti bahwa setiap keputusan yang diambil oleh pemimpin hari ini merupakan benih dari warisan kepemimpinan di masa depan. Kepemimpinan yang visioner dan inklusif adalah kunci untuk menghadapi tantangan global yang terus berubah. Ia mengingatkan bahwa tidak semua keberhasilan kepemimpinan terwujud dalam angka-angka statistik, melainkan dalam jejak nilai yang ditinggalkan.

“Perlu kita sadari bahwa keputusan yang kita ambil hari ini akan menentukan warisan kepemimpinan ke depan. Karena sejatinya tidak semua keputusan meninggalkan angka, tetapi sebagian justru meninggalkan jejak nilai yang membentuk arah dan kepercayaan jangka panjang,” tutur Menteri Rini. Keputusan strategis hari ini harus mampu menjawab lebih dari sekadar kebutuhan sesaat; ia harus mampu membangun kepercayaan organisasi yang kokoh.

Ujian Waktu bagi Integritas dan Nilai Kepemimpinan

Menarik perumpamaan dengan emas, Menteri Rini mengibaratkan kualitas kepemimpinan dengan logam mulia tersebut. Emas dikenal karena nilainya yang tetap stabil dan tahan lama, begitu pula seharusnya dengan nilai-nilai kepemimpinan. Menurutnya, kepemimpinan sejati tidak diukur dari kecepatan dalam mengambil keputusan, melainkan dari keberanian untuk memilih dampak yang paling besar dan keteguhan untuk menolak hal-hal yang tidak memiliki nilai moral.

“Pada akhirnya seperti emas, nilai kepemimpinan diuji oleh waktu. Bukan oleh momen. Semakin tepat keputusan yang diambil, semakin berharga warisan yang ditinggalkan dari waktu ke waktu,” tegasnya. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen birokrasi bahwa setiap tindakan yang diambil memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kepercayaan publik dan stabilitas organisasi lintas generasi.

Membangun Budaya Perencanaan Keuangan yang Berorientasi Kesejahteraan

Sebagai penutup dalam kegiatan edukasi finansial tersebut, Menteri Rini mengajak seluruh peserta untuk mulai memperkuat budaya perencanaan keuangan yang transparan dan berkelanjutan. Investasi yang bijak, dalam pandangannya, adalah sebuah strategi untuk menjaga stabilitas nilai sekaligus benteng pertahanan bagi ekonomi keluarga.

Melalui sinergi antara literasi finansial yang kuat di kalangan perempuan dan kepemimpinan yang berintegritas di lingkungan birokrasi, Indonesia diharapkan dapat mewariskan tatanan yang lebih sejahtera. Fokus pada nilai-nilai jangka panjang, transparansi, dan kemandirian ekonomi menjadi pilar utama dalam membangun bangsa yang tidak hanya kaya secara materi, tetapi juga kaya akan kebijaksanaan yang bertahan melampaui waktu.

Terkini