JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) secara neto menyentuh angka Rp501,2 triliun hingga penghujung semester I/2026. Nominal tersebut melesat 62,4% secara tahunan (year on year/YoY) apabila dikomparasikan dengan periode yang sama tahun lalu yang berada di kisaran Rp308,6 triliun.
Merujuk pada laporan APBN KiTa edisi Juli 2026, realisasi penarikan utang melalui instrumen SBN hingga tanggal 30 Juni 2026 tersebut telah merealisasikan 62,7% dari pagu target APBN 2026 yang dipatok senilai Rp799,5 triliun.
Secara keseluruhan, realisasi pembiayaan utang neto pemerintah hingga paruh awal tahun 2026 mencapai Rp477,4 triliun atau setara dengan 57,4% dari target APBN tahun ini yang sebesar Rp832,2 triliun. Capaian tersebut turut dipengaruhi oleh pembiayaan lewat pinjaman yang masih menorehkan realisasi negatif atau pembayaran pinjaman neto senilai Rp23,8 triliun.
"Pembiayaan utang dikelola secara prudent dan terukur serta memperhatikan likuiditas pemerintah, kondisi kas yang optimal, dan dinamika pasar keuangan," tulis Kemenkeu dalam laporan APBN KiTa edisi Juli 2026, dikutip Minggu (26/7/2026).
Kemenkeu mengutarakan bahwa pemenuhan pembiayaan utang sejauh ini berjalan sesuai dengan perencanaan melalui pengelolaan kas serta utang secara aktif guna mempertahankan ketersediaan kas negara beserta Saldo Anggaran Lebih (SAL).
Di samping itu, pemerintah pun mengklaim senantiasa mempertimbangkan efisiensi biaya dana (cost of fund) serta mitigasi risiko supaya indikator utang tetap terjaga di zona yang aman.
Di sisi lain, tingkat imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun terpantau mengalami kenaikan sebesar 1,12 poin persentase sejak awal tahun, bergeser dari posisi 6,11% menjadi 7,23% pada Juli 2026. Sementara itu, yield spread atau selisih imbal hasil SBN tenor 10 tahun sebesar 7,23% terhadap US Treasury (UST) tenor 10 tahun di level 4,55% tercatat bertengger pada angka 2,68 poin persentase.
Kendati pasar keuangan global masih dibayangi oleh sentimen risk-off, Kemenkeu menilai besarnya penawaran yang masuk (incoming bids) dalam lelang SBN sepanjang tahun berjalan ini tetap terkendali dengan baik.
"Indikator bid to cover ratio tetap bagus dengan rata-rata 1,8 kali untuk lelang SUN [Surat Utang Negara] dan 2,5 kali untuk lelang SBSN [Surat Berharga Syariah Negara]," tutup laporan tersebut.