Hadapi Ketidakpastian Global, Deposito Valas Melesat 42%

Minggu, 26 Juli 2026 | 18:39:01 WIB
Korporasi Parkir Dana Dolar, Deposito Valas Melonjak 42% Juni 2026 [FOTO: NET].

JAKARTA — Korporasi-korporasi di Tanah Air kian mematri opsi menimbun aset dalam bentuk mata uang dolar Amerika Serikat (AS) alih-alih memakainya demi keperluan ekspansi. Langkah taktis tersebut terefleksi dari eskalasi simpanan berjangka valuta asing (valas) yang meroket hingga 42% secara tahunan (year on year/YoY) per Juni 2026, sementara laju pertumbuhan simpanan berjangka rupiah hanya bergerak lamban.

Data Analisis Uang Beredar Bank Indonesia (BI) mengindikasikan simpanan berjangka valas menanjak 42% YoY pada Juni 2026, melompat tajam jika dikomparasikan dengan kenaikan 27,9% YoY pada bulan sebelumnya. Sebaliknya, simpanan berjangka rupiah sekadar naik 1,9% YoY.

Di balik eskalasi tersebut, kalangan analis mencermati pergeseran pola tindak korporasi yang condong memarkirkan dana dolar di lembaga perbankan sebagai tindakan preventif guna merespons ketidakpastian perekonomian global, depresiasi kurs rupiah, hingga tingginya tingkat suku bunga internasional.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede berpendapat bahwa kenaikan simpanan berjangka valas tidak semata-mata bersumber dari aliran dana segar yang masuk ke ekosistem perbankan. Para korporasi turut mengalihkan aset dari giro valas menuju simpanan berjangka agar dapat mengantongi imbal hasil yang lebih menguntungkan.

“Data BI menunjukkan deposito valas naik dari Rp451 triliun pada Mei menjadi Rp494,3 triliun pada Juni. Pada saat yang sama, giro valas justru turun dari Rp873,2 triliun menjadi Rp850,2 triliun. Ini menunjukkan nasabah besar memilih mengunci dana dolar dalam deposito,” kata Josua, Jumat (24/7/2026).

Menurut Josua, badan usaha mengambil kebijakan itu demi mengamankan nilai harta sekaligus meraup bunga yang lebih memikat di tengah tekanan terhadap rupiah akibat kisruh geopolitik Timur Tengah serta proyeksi suku bunga tinggi di AS.

Ekonom Makro PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) Myrdal Gunarto memandang gejala tersebut sebagai gambaran sikap berhati-hati (wait and see) kalangan dunia usaha. 

Di tengah gelombang ketidakpastian global, banyak entitas bisnis memilih menunda pelebaran sayap usaha maupun pengeluaran modal (capital expenditure/capex).

“Mereka lebih memilih memegang likuiditas dalam bentuk dolar AS sebagai langkah hedging alami untuk mengantisipasi kewajiban valas atau kebutuhan impor di masa depan,” ujar Myrda, Jumat (24/7/2026).

Di samping faktor keraguan global, Myrdal turut memandang penerapan aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) ikut memperkuat ekspansi simpanan berjangka valas. 

Kewajiban menaruh DHE sektor sumber daya alam di dalam sistem finansial nasional mendesak para eksportir untuk menumpuk lebih banyak dana dolar pada bank pelat merah maupun swasta nasional, terutama lewat instrumen simpanan berjangka valas.

Di sisi lain, menjulangnya suku bunga global menyebabkan instrumen tabungan berbasis dolar senantiasa menawarkan tingkat pengembalian yang kompetitif, sehingga merangsang korporasi maupun pemilik modal besar (high net worth individual/HNWI) untuk mempertahankan kepemilikan aset valas mereka.

Bank Jumbo Paling Diuntungkan

Kendati dana dolar membanjiri sektor perbankan, dampaknya tidak terdistribusi secara merata. Josua menuturkan bahwa bank-bank berskala besar yang memiliki fondasi nasabah eksportir, importir, serta jaringan transaksi valas yang tangguh menjadi pihak yang paling meraup keuntungan. 

Bank-bank bersangkutan mempunyai kapasitas untuk menyalurkan kembali dana valas menjadi kredit, pembiayaan perdagangan internasional (trade finance), ataupun transaksi lindung nilai (hedging).

Sebaliknya, institusi perbankan yang sekadar menghimpun simpanan berjangka valas tanpa diimbangi penyaluran kredit valas berisiko menghadapi tekanan terhadap marjin laba.

“Kalau dana valas hanya diparkir pada instrumen berimbal hasil rendah sementara bunga deposito tetap harus dibayar, profitabilitas bank bisa tertekan,” kata Josua.

Pandangan senada diutarakan oleh Myrdal. Menurutnya, kelompok bank KBMI 4 dan bank asing bertindak sebagai penerima manfaat terbesar lantaran menguasai ekosistem wholesale banking yang solid serta relasi jangka panjang bersama korporasi multinasional dan eksportir kakap. 

Di samping itu, bank yang memegang portofolio pembiayaan perdagangan internasional mampu memutar balik likuiditas valas menjadi aset produktif secara kilat demi menjaga profitabilitas.

Dibalik meroketnya simpanan berjangka valas, perbankan turut menjumpai sandungan anyar berupa pembengkakan beban dana (cost of fund). 

Migrasi dana dari giro valas menuju simpanan berjangka menuntut bank untuk membayarkan imbalan bunga yang lebih tinggi kepada para deposan. Situasi ini menjelma sebagai tantangan manakala permintaan kredit valas belum melesat secepat laju penghimpunan dana.

Myrdal mengingatkan, jika penyaluran kredit valas melambat akibat korporasi yang menunda investasi, bank berpotensi mengalami negative carry. Artinya, beban bunga simpanan berjangka melampaui pemasokan yang dihasilkan dari penempatan dana tersebut.

“Untuk mempertahankan profitabilitas, bank biasanya memitigasi hal ini dengan memutar kelebihan likuiditas tersebut ke dalam instrumen treasury yang aman dan berimbal hasil tinggi, seperti Surat Berharga Negara (SBN) valas atau instrumen operasi moneter valas milik Bank Indonesia,” tuturnya.

Meski demikian, dari sudut pandang ketersediaan dana, derasnya aliran dolar tetap mendatangkan nilai positif. Rasio likuiditas valas menjadi lebih longgar, yang pada akhirnya memperkokoh daya tahan perbankan untuk membiayai perdagangan internasional, pelunasan utang luar negeri, ataupun pemenuhan kebutuhan pembiayaan valas.

Sementara itu, sejumlah bank turut menegaskan bahwa simpanan valas senantiasa berperan sebagai komponen pendukung dalam struktur dana pihak ketiga (DPK). Corporate Secretary PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) Wisnu Sunandar mengutarakan bahwa porsi DPK valas perseroan masih bertengger di bawah ambang 5% dari total keseluruhan DPK. 

Meskipun demikian, simpanan valas BSI tetap menorehkan rapor pertumbuhan positif di angka 32,88% secara tahunan.

Wisnu menyatakan komposisi dana BSI masih didominasi oleh mata uang rupiah. Hingga saat ini, akumulasi DPK perusahaan menyentuh Rp372 triliun atau naik sekitar 16,76% jika dikomparasikan dengan periode serupa tahun lalu.

“Komposisi jumlah tabungan valas bukan yang menjadi utama sebagai penopang DPK namun tetap menjadi pelengkap layanan tabungan di Bank Syariah Indonesia,” ungkap Wisnu, Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, antusiasme masyarakat untuk menabung tetap menanjak di tengah gelombang fluktuasi ekonomi. Kondisi ini memperlihatkan naiknya kesadaran publik dalam merawat kestabilan keuangan sekaligus mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan terhadap sektor perbankan.

Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) pun konsisten menjaga titik ekuilibrium antara kecukupan likuiditas valas serta ekspansi kredit. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. 

Haryn menyampaikan bahwa hingga Maret 2026, simpanan berjangka valas BCA tercatat sejumlah Rp16,6 triliun, sedangkan simpanan berjangka rupiah mencapai Rp186,7 triliun.

Secara akumulatif, dana pihak ketiga BCA menyentuh angka Rp1.292 triliun dengan dominasi porsi dana murah (current account saving account/CASA) yang bertahan di kisaran 85,2% dari total keseluruhan DPK.

“BCA berkomitmen menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas valas dengan ekspansi kredit yang sehat, dengan tetap mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar dan risiko,” jelas Hera, Jumat (24/7/2026).

Terkini