Hindari Gadget Terlalu Dini, Begini Cara Tepat Stimulasi Anak

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:46:32 WIB
Cara Tepat Stimulasi Anak Agar Cerdas Tanpa Gadget Dini [FOTO: NET].

JAKARTA - Ketika menjumpai buah hati yang tengah rewel ataupun sangat aktif, menyodorkan gawai kerap menjadi opsi pintas andalan bagi kaum orang tua kekinian. Padahal, kebiasaan memperlihatkan tayangan digital pada rentang usia yang terlalu belia menyimpan pelbagai dampak buruk bagi kelangsungan sistem kognitif anak. 

Dokter spesialis anak, dr. Yoga Andika, Sp.A, menegaskan bahwa gawai mempunyai ketentuan penggunaan yang amat ketat guna merawat perkembangan jaringan saraf si kecil.

"Anjurannya layar hanya boleh di atas dua tahun. Di bawah dua tahun tidak boleh karena otak lagi berkembang sangat pesat," terang dr. Yoga di acara edukatif imersif "S-26 Exceptional Journey: Journey Inside the Brain", Senayan City Mall, Jakarta, Jumat (24/7/2026).

Berinteraksi lewat gawai atau screen time pada masa balita bakal membombardir indra penglihatan anak melalui paparan cahaya yang terlampau menyilaukan. Fenomena ini secara medis menyebabkan rentang atensi buah hati berubah menjadi amat sempit. 

"Dia melihat cahaya terlalu banyak sehingga fokusnya menjadi pendek. Saat dia menjadi pendek, dia menjadi overstimulasi lihat yang terlalu besar, sehingga akan berdampak ke sensorik yang lain," papar dr. Yoga. 

Penurunan rentang atensi ini memicu imbas beruntun terhadap kecakapan sensorik serta motorik tubuh secara menyeluruh. Salah satu efek samping yang jarang disadari oleh orang tua yakni timbulnya hambatan pada sistem proprioseptif, yakni kemampuan internal fisik dalam merespons posisi serta pergerakan persendian. 

"Anaknya menjadi tidak bisa fokus dengan baik karena stimulasinya terlalu banyak. Dan anak menjadi lebih banyak bergerak karena proprioseptifnya jadi terganggu," terang dr. Yoga. Karenanya, menjauhkan anak dari layar gawai merupakan langkah preventif yang amat krusial agar seluruh sistem kognitifnya sanggup berproses secara sempurna.

Di luar persoalan gawai, ambisi keluarga guna melahirkan anak berprestasi terkadang memicu penyediaan porsi akademis yang terlampau berat pada fase balita. Faktanya, dunia anak dalam rentang umur tersebut idealnya dipenuhi oleh kegiatan fisik serta keceriaan. 

Dokter Yoga menganjurkan supaya waktu anak balita dicurahkan sepenuhnya guna mengeksplorasi lingkungan sekitar secara rileks tanpa beban edukasi formal. "Kalau di usia dua sampai lima tahun, itu dua sampai tiga tahun itu dominasinya sebaiknya bermain saja. Nah, saat di atas tiga tahun baru kita bisa ngajarin hal-hal yang sifatnya pembelajaran," jelas dr. Yoga. Sekiranya anak dipaksa mengonsumsi kurikulum kaku terlalu cepat, ada harga mahal yang mesti dibayar manakala ia bertumbuh dewasa.

 Kreativitas anak berisiko meredup akibat hilangnya momentum berharga di fase kanak-kanak. "Karena kalau dia belajar terlalu cepat tadi, dunia anaknya hilang terlalu cepat. Efeknya, anak menjadi tidak bisa menikmati dunia dia dengan baik, sehingga saat dia dewasa dia kreativitasnya akan jadi lebih tumpul," ungkap dr. Yoga. 

Ia menggarisbawahi urgensi keseimbangan antara wawasan serta waktu luang dalam agenda harian buah hati. "Sehingga kalau kita mau mengasuh anak kita dan menstimulasi dengan baik, bermain dan belajarnya harus seimbang," imbuhnya.

Membangun keseimbangan pola asuh tersebut ternyata dapat dieksekusi lewat metode yang amat ringkas. Orang tua tidak diwajibkan merancang jadwal harian rumit yang menguras banyak tenaga. Sebaliknya, latihan penalaran sanggup disisipkan melalui aktivitas pemecahan masalah berdurasi singkat di dalam rumah. "Stimulasi paling sederhana adalah berikan satu mainan, satu waktu, dalam waktu lima belas menit.

 Dan nantinya anak akan belajar untuk pemecahan masalah," dokter Yoga berujar. Durasi yang terpusat itu dinilai jauh lebih berdaya guna dalam membentuk memori. Ayah dan ibu sanggup memanfaatkan sarana pendukung interaktif layaknya balok susun, atau sekadar agenda membaca cerita bersama di dalam kamar. "Contoh kayak latihan nyusun Lego, naruh-naruh ke tempat tertentu, atau membaca buku, atau bernyanyi," tambah dr. Yoga. 

Landasan utama dari latihan ini yaitu menyediakan ruang tenang bagi jaringan saraf anak guna mencerna satu kategori instruksi dalam satu kesempatan, sehingga kapasitas berpikir runtut terbentuk secara alami. "Sifatnya yang anak menikmati prosesnya, dan menikmati momennya. Itulah sebabnya satu kegiatan, satu waktu, supaya dia bisa fokus dengan baik, sehingga kemampuan berpikir dan pemecahan masalahnya juga berkembang dengan baik," pungkas dr. Yoga.

Terkini