Inovasi Kolostrum UMM Tekan Kematian Pedet dan Dongkrak Susu

Selasa, 28 Juli 2026 | 23:00:01 WIB
Riset UMM Ungkap Kolostrum Efektif Tekan Kematian Anak Sapi [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemberian kolostrum terbukti secara empiris sukses memangkas angka kematian anak sapi atau pedet pada masa praseapih (pre-weaning), sekaligus diandalkan sebagai solusi dalam menggenjot volume produksi susu sapi perah di Tanah Air ke depannya.

Capaian riset yang memberikan dampak langsung di sektor peternakan ini merupakan hasil dari disertasi mahasiswa program doktor (S3) Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yakni Wijayanto.

"Saya memilih latar belakang ini karena industri persusuan prospeknya bagus di tengah impor yang masih 80-81%. Tantangan terbesarnya ada di fase pre-weaning dengan angka kematian tinggi. Dengan manajemen kolostrum, kematian bisa ditekan dan produksi indukan ke depan akan tinggi," tegasnya usai sidang disertasi, Jumat (24/7/2026).

Wijayanto menguji coba metode penelitian kolostrum tersebut pada fasilitas peternakan Greenfield mulai penghujung Desember 2025 dan sukses membuktikan adanya susut persentase kematian pedet yang sebelumnya kerap dipicu oleh infeksi penyakit berbahaya seperti diare serta pneumonia.

"Sebelumnya tingkat kematian di angka lebih dari 2,5% tiap bulannya. Setelah diaplikasikan, angkanya turun jauh menjadi kurang dari 2%. Hal ini tentu mencegah kerugian materiil, mengingat harga satu ekor pedet bisa mencapai Rp6 juta," ujarnya.

Merespons keberhasilan riset yang bernilai praktis tinggi tersebut, profesor pembimbing utama atau promotor, Prof. Lili Zalizar, menggarisbawahi bahwa pihak UMM konsisten mewajibkan seluruh civitas akademikanya untuk menelurkan riset inovatif yang menawarkan solusi nyata atas persoalan riil di tengah masyarakat, baik bagi korporasi skala besar maupun peternak tradisional.

"UMM selalu mendorong bahwa hasil penelitian secara akademik tidak hanya bisa dipertanggungjawabkan dan berkualitas, tetapi juga harus aplikatif di masyarakat. Ini benar-benar sejalan dengan semangat Dikti Berdampak," ujarnya.

Ia mengestimasi hasil penemuan ilmiah ini bakal berfungsi sebagai acuan pokok dalam melahirkan bibit indukan sapi perah unggul yang siap dikembangkan menjadi inovasi lanjutan di ranah industri peternakan.

"Harapannya ke depan tentu saja temuan ini akan dikembangkan lagi, sehingga Kampus Putih bisa terus memfasilitasi lahirnya inovasi baru yang lebih bermanfaat secara nyata, baik untuk industri peternakan itu sendiri maupun untuk masyarakat luas," sambungnya.

Lebih lanjut, ia menaruh harapan besar agar penerapan manajemen kolostrum ini lekas disosialisasikan dan diedukasikan secara masif kepada Koperasi Unit Desa (KUD) serta kalangan peternak rakyat binaan.

Berbekal pendampingan yang intensif, ia meyakini standarisasi pemeliharaan pedet bakal semakin merata di seluruh level peternak. Langkah taktis ini diyakini sebagai pilar krusial untuk melahirkan populasi sapi indukan yang kuat, mendongkrak taraf hidup peternak lokal, serta secara bertahap memutus rantai ketergantungan Indonesia terhadap tingginya volume impor produk susu.

Terkini