Cegah Risiko Cuci Darah, Kenali Gejala Awal dan Penyebab Batu Ginjal

Rabu, 29 Juli 2026 | 02:23:31 WIB
Waspada Batu Ginjal, Dokter Ingatkan Risiko Gagal Ginjal & Cuci Darah [FOTO: NET].

JAKARTA - Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD.KGH., FINASIM mengimbau publik untuk tidak mengesampingkan indikasi awal gangguan ginjal, khususnya masalah batu ginjal.

Menurutnya, kelambanan dalam mengantisipasi tanda-tabel awal penyakit ginjal berisiko memicu komplikasi parah berujung gagal ginjal yang mewajibkan pasien menjalani prosedur cuci darah.

"Kalau batunya kami diamkan, bisa menyebabkan infeksi, aliran urine menjadi tersumbat sehingga terjadi hidronefrosis atau pembengkakan ginjal. Kalau terlambat ditangani, akhirnya bisa menjadi gagal ginjal," kata Mutalib dalam peluncuran Urology & Nephrology Clinic Bethsaida Hospital Gading Serpong di Auditorium Bethsaida Hospital, Tangerang, Rabu.

Ia menuturkan bahwa batu ginjal masih mendominasi daftar kasus yang kerap ditemui pada fasilitas layanan urologi tanah air. Kondisi tersebut berpotensi memicu infeksi saluran kemih berulang, hambatan aliran air seni, penurunan performa organ ginjal, hingga tahap gagal ginjal terminal jika abai dari penanganan dini.

Berdasarkan pemaparan Mutalib, masyarakat dianjurkan untuk peka terhadap tanda-tanda awal seperti rasa nyeri pada area pinggang atau punggung bawah, perih saat buang air kecil, kemunculan darah pada urine, maupun hambatan ketika berkemih. Tindakan pemeriksaan medis sejak dini sangat krusial guna menghindari kerusakan permanen pada jaringan ginjal.

Ia menerangkan bahwa rendahnya tingkat konsumsi cairan menjadi salah satu pemicu utama terbentuknya endapan batu ginjal, terlebih bagi wilayah beriklim tropis seperti Indonesia.

"Kalau kurang minum, tubuh cenderung mengalami dehidrasi. Kristal hasil metabolisme makanan akan berkumpul di ginjal dan lama-kelamaan membentuk batu," ujarnya.

Selain persoalan dehidrasi, kebiasaan mengonsumsi makanan, minuman, obat-obatan, ataupun suplemen herbal secara berlebihan yang berisiko merusak ginjal juga patut diwaspadai. Oleh sebab itu, pemahaman seputar gaya hidup higienis serta konsumsi obat secara bijaksana memegang peranan penting dalam pencegahan gangguan ginjal.

Mutalib memaparkan bahwa ancaman penyakit ginjal tidak sebatas mengincar kalangan lansia saja. Segmen usia produktif pun rentan terpapar akibat kebiasaan buruk kurang minum serta minimnya inisiatif melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Ia menyebutkan kasus batu ginjal banyak ditemukan pada kelompok usia 25 hingga 35 tahun. Screening kesehatan, termasuk tes urinalisis, dianjurkan untuk mulai rutin dijalani sejak usia muda, utamanya bagi individu yang memiliki rekam jejak riwayat penyakit ginjal dalam silsilah keluarga.

Di samping itu, kelompok anak-anak juga menuntut atensi khusus mengingat kebiasaan mengonsumsi produk minuman berpengawet dan tinggi kandungan gula secara berlebihan dapat memicu potensi gangguan ginjal. Kalangan orang tua pun diminta aktif mengawasi pola konsumsi buah hati sejak usia dini.

Guna menekan potensi pembentukan batu ginjal, Mutalib menganjurkan publik agar membiasakan diri meminum air putih berkisar 1,5 hingga 2 liter setiap hari, konsisten berolahraga, serta menerapkan pola asupan gizi seimbang demi memelihara kesehatan ginjal serta metabolisme tubuh.

Sementara itu, pihak Bethsaida Hospital Gading Serpong memperkenalkan layanan terpadu Urology & Nephrology Clinic yang mengintegrasikan penanganan masalah saluran kemih serta ginjal lewat dukungan teknologi minimal invasif, guna mengoptimalkan aspek deteksi dini dan terapi penyembuhan yang lebih menyeluruh.

Terkini