Program KNMP Wajib Imbangi Pembangunan Fisik dan Rekayasa Sosial

Kamis, 30 Juli 2026 | 19:05:01 WIB
BRIN Tekankan Pentingnya Rekayasa Sosial Tepat Sasaran di Program KNMP [FOTO: NET].

JAKARTA - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andrian Ramadhan mengimbau agar program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tidak sekadar berfokus pada pembenahan prasarana fisik, melainkan harus dibarengi dengan intervensi sosial yang benar-benar tepat sasaran.

Ilmuwan dari Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler BRIN tersebut menggarisbawahi bahwa program KNMP hakikatnya didesain secara menyeluruh dari hulu hingga hilir demi merombak ruang kehidupan serta tatanan sosial masyarakat di wilayah pesisir.

"Ketika kami ingin mengubah masyarakat, kami melompat dari realitas yang ada di masyarakat. Sehingga kami mencoba memaksakan sesuatu yang masyarakat belum siap untuk mencapai itu, kemudian ada gap untuk mempertahankan idealitas itu. Maka perlu upaya besar dari yang ingin melakukan perubahan," kata Andrian dalam diskusi di Jakarta, Kamis.

Sehubungan dengan hal itu, Andrian memandang bahwa rekayasa sosial tidak boleh dijalankan memakai sudut pandang utopis yang memaksakan cetak biru ideal secara berlebihan, namun justru melompat terlalu jauh dari realita kehidupan riil masyarakat akar rumput di lapangan.

Ia menguraikan bahwa salah satu kenyataan sosial yang paling mengakar di daerah pesisir adalah keberadaan para tengkulak atau juragan, yang selama bertahun-tahun telah membangun jaringan keterikatan yang amat kuat bersama para nelayan kecil.

Menurut Andrian, kemunculan institusi atau sarana baru layaknya sentra perikanan dalam program KNMP menyimpan potensi memicu pertentangan hebat manakala pemerintah secara frontal menempatkan diri sebagai pesaing langsung bagi para aktor lama tersebut.

"Saya selalu ingat ceramahnya Gus Baha, 'kalau ada tukang cendol, datang tukang cendol yang lainnya, (ada kemungkinan) dia berantem sesama tukang cendol.' Nah sama seperti ini, ketika dia (KNMP) masuk, ada pemain lama, tentu akan ada yang terganggu. Misalnya semua harus masuk ke tempatnya dia, seperti apa, nah belum ditambah lagi dengan hubungan ikatan yang selama ini terjadi," ujar Andrian menganalogikan kemungkinan yang terjadi.

Ia berpendapat bahwa upaya mengarahkan nelayan agar bersedia mendaratkan hasil tangkapan serta menjualnya secara eksklusif di sarana milik program KNMP bukanlah perkara gampang untuk diwujudkan.

Andrian menuturkan bahwa kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh kuatnya sistem perlindungan sosial non-formal yang selama ini diberikan oleh para juragan kepada nelayan, yang tidak bisa serta-merta diputus begitu saja hanya dengan mendirikan fasilitas fisik kontemporer.

"Karena mereka masih terikat utang, mereka terikat dengan ikatan relasi yang panjang, ketika mereka sakit mereka datangnya ke juragan, ketika mereka (mendapat) musibah datangnya ke juragan, sehingga tidak bisa dialihkan secara serta-merta ke sentra-sentra tersebut," katanya menjabarkan dinamika sosial di pesisir.

Pengabaian terhadap fakta relasi sosial ini, sambung dia, terbukti telah terjadi di berbagai lokasi, di mana bangunan tempat pelelangan ikan justru terbengkalai serta mangkrak lantaran nelayan lebih memilih membongkar muatan ikan di dermaga pribadi milik para juragan.

Oleh sebab itu, pihak BRIN mendorong penerapan pola manajemen hibrida dalam pengembangan KNMP, di mana para juragan tidak diperlakukan sebagai musuh, melainkan dirangkul serta diajak bekerja sama secara kontraktual guna bersama-sama membuka rantai distribusi pasar yang lebih luas serta berkeadilan demi kesejahteraan bersama.

Sebelumnya diketahui bahwa Presiden Prabowo Subianto sempat menggarisbawahi bahwa penguatan bidang kelautan menjadi esensi dari langkah besar negara dalam membangun kemandirian bangsa.

Ia menyatakan bahwa potensi kelautan Indonesia merupakan anugerah luar biasa yang wajib dikelola secara optimal guna mengangkat taraf hidup warga pesisir sekaligus meneguhkan kedaulatan ekonomi nasional.

"Kami sangat dihormati karena kami sekarang sudah swasembada pangan, sudah swasembada beras, swasembada jagung, swasembada banyak sekali kami. Kami sekarang tidak perlu impor lagi pangan dari luar dan para nelayan yang punya jasa besar, dan kami ingin memperkuat peran para nelayan kami," kata Presiden Prabowo.

Terkini