KKP Bersama ITB Hadirkan Sistem Monitoring Penyu Semidigital NTT

Jumat, 31 Juli 2026 | 20:39:03 WIB
KKP dan ITB Kembangkan Monitoring Penyu Semidigital di Wilayah 3T [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersinergi bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) merintis pengembangan sistem pemantauan penyu bersistem semidigital bertempat di Desa Eilogo, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur, guna menyokong upaya pelestarian konservasi satwa penyu di kawasan terluar, tertinggal, dan terdepan (3T).

Kepala Pusat Kebijakan Strategis KKP Syamdidi mengemukakan bahwa program tersebut diarahkan untuk mendongkrak keterlibatan aktif komunitas masyarakat pesisir dalam upaya menjaga keselamatan penyu beserta ekosistem habitatnya melalui metode yang mudah dipahami, melibatkan partisipasi publik, serta selaras dengan karakteristik lokal daerah.

"Pendekatan yang sederhana, partisipatif, dan sesuai dengan kondisi setempat penting agar sistem monitoring dapat digunakan secara berkelanjutan oleh masyarakat," kata Syamdidi dalam keterangan di Jakarta, Jumat.

Berdasarkan penjelasannya, kawasan kategori 3T layaknya Desa Eilogo sampai saat ini masih menjumpai kendala berupa minimnya infrastruktur konektivitas jaringan telekomunikasi serta variasi tingkat kemampuan literasi digital yang berbeda-beda di tengah warganya.

Oleh sebab itu, inisiatif program ini mengandalkan pemanfaatan aplikasi digital KoboCollect yang dirancang agar tetap bisa dipakai untuk memasukkan data pencatatan meskipun perangkat gawai tidak tersambung ke jaringan internet.

Syamdidi memaparkan bahwa platform aplikasi tersebut diadaptasi langsung dari instrumen modul pencatatan milik Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dengan menyematkan tambahan variabel parameter suhu serta tingkat keasaman (pH) tanah demi memperkaya kualitas himpunan data observasi lapangan.

Lewat sarana aplikasi itu, masyarakat dimungkinkan untuk mengisi borang formulir pemantauan secara mandiri sekaligus merekam dokumentasi visual kondisi wilayah pesisir menggunakan telepon seluler pintar masing-masing.

Seluruh data pengamatan yang terekam secara luring (offline) tersebut nantinya bisa disinkronkan kembali secara otomatis manakala perangkat gawai telah mendeteksi adanya jangkauan koneksi jaringan internet.

Syamdidi menaruh optimisme bahwa pemanfaatan aplikasi ini mampu memangkas kerumitan pelaporan kondisi habitat penyu sehingga menjadi jauh lebih efisien, tersusun rapi, serta fleksibel, di samping memaksimalkan fungsi gawai pintar yang sudah dipegang oleh masyarakat setempat.

Pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat ini dikomandoi langsung oleh Prof. Dr. Mutiara Rachmat Putri yang berasal dari Kelompok Keahlian Oseanografi Lingkungan dan Terapan, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB. Pihak KKP turut ambil bagian dalam memberikan rangkaian penyuluhan edukasi kepada warga berkaitan dengan wawasan literasi kelautan serta pelestarian penyu.

Rangkaian realisasi program sepanjang tahun 2026 ini meliputi beberapa tahapan penting mulai dari fase persiapan, sosialisasi, pelatihan teknis, pendampingan intensif, hingga evaluasi monitoring yang berkesinambungan.

Fokus sasaran utama dari program ini ditujukan bagi Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Pantai Hidup Rukun di Desa Eilogo guna menjalankan fungsi observasi serta proteksi kawasan titik pendaratan penyu.

Di samping memperkokoh kapasitas kelembagaan kelompok pelestari alam tersebut, program ini turut menyasar kalangan generasi muda melalui agenda edukasi literasi laut bagi para pelajar tingkat sekolah menengah atas.

Adanya kegiatan interaktif ini diharapkan mampu menumbuhkan kepekaan sosial masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian populasi penyu beserta kesehatan ekosistem wilayah pesisir, sekaligus memperkuat keterlibatan publik dalam agenda perlindungan laut nasional.

Inisiatif kolaboratif ini turut menggandeng Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), sejumlah kelompok pengawas masyarakat lokal di wilayah Kabupaten Sabu Raijua, para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta unsur akademisi perwakilan Universitas Nusa Cendana.

Terkini