Emas Masih Tertekan, Gagal Tembus Resistance US$4.104

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:31:32 WIB
Proyeksi Emas 3 Agustus 2026: Tertekan Dolar & Gagal Breakout [FOTO: NET].

JAKARTA — Laju harga emas pada perdagangan hari ini, Senin (3/8/2026), dianalisis masih berada di dalam tekanan usai gagal menembus level resistance utama. Berdasarkan data Kitco, harga emas pada perdagangan hari ini terpantau menguat 0,51% atau 20,6 poin menuju level 4.062,4 per troy ounce tepat pukul 10.34 WIB.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menyatakan bahwa harga emas pada kerangka waktu harian masih memperlihatkan kecenderungan bearish setelah gagal ditutup pada area di atas resistance US$4.104 per troy ounce. Level itu saat ini menjadi batas krusial yang wajib ditembus seandainya emas mau kembali membangun momentum kenaikan. 

Berdasarkan keterangannya, kegagalan breakout tersebut mengindikasikan tekanan beli belum cukup kuat dalam menggeser dominasi pelaku pasar yang masih melakukan aksi jual.

Sinyal koreksi tersebut turut dipertegas lewat kemunculan pola Bearish Engulfing, yang kerap dimaknai sebagai tanda pembalikan arah menuju ke bawah sehabis reli gagal berlanjut.

"Kemunculan pola tersebut di dekat area resistance menunjukkan pelaku pasar mulai meningkatkan aksi jual dan merealisasikan keuntungan, sehingga peluang koreksi dalam jangka pendek hingga menengah masih terbuka," ungkap Geraldo di dalam risetnya pada Senin (3/8/2026).

Merujuk pada proyeksi Dupoin Futures, target pelemahan terdekat terletak di area support US$4.010. Level tersebut dipandang sebagai area krusial guna menetapkan apakah koreksi masih bersifat terbatas atau justru berkembang menjadi penurunan yang lebih dalam. Sepanjang harga masih bergerak di bawah resistance US$4.104, peluang pelemahan ke arah support itu dipandang senantiasa menjadi skenario utama.

Dari ranah fundamental, Dupoin Futures memandang pergerakan harga emas masih disetir oleh dinamika dolar Amerika Serikat beserta imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury Yield. Selama dolar AS tetap tangguh dan imbal hasil obligasi bertahan tinggi, daya tarik emas sebagai instrumen tanpa imbal hasil dipandang cenderung merosot karena para investor lebih melabuhkan pilihan ke instrumen yang menyajikan tingkat pengembalian lebih besar.

Pasar juga menantikan deretan data ekonomi Amerika Serikat, yang mencakup inflasi, pasar tenaga kerja, serta pernyataan para pejabat Federal Reserve yang bakal menjadi kompas arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Jika data ekonomi kembali memperlihatkan performa yang solid, peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama diestimasi semakin kuat sehingga berpotensi mendongkrak dolar AS sekaligus menekan harga emas. Sebaliknya, apabila data ekonomi memperlihatkan perlambatan ataupun tekanan inflasi mulai reda, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter bisa kembali meninggi. Kondisi tersebut berpotensi melemahkan dolar AS serta menurunkan US Treasury Yield sehingga menjelma sebagai katalis positif bagi harga emas.

Di sisi lain, dinamika geopolitik turut dipandang konsisten menjadi elemen yang perlu dicermati. Meningkatnya ketidakpastian global sewaktu-waktu berpotensi memicu lonjakan permintaan terhadap aset safe haven layaknya emas serta meredam tekanan jual yang bersumber dari menguatnya dolar AS ataupun naiknya imbal hasil obligasi.

Terkini

Penyebab Brain Fog saat Menopause dan Cara Mengatasinya

Senin, 03 Agustus 2026 | 02:43:02 WIB

Kemnaker Andalkan Magang Nasional Tekan Pengangguran Muda

Senin, 03 Agustus 2026 | 02:40:02 WIB

Selain Pisang, Ini 5 Buah dengan Serat Lebih Tinggi

Senin, 03 Agustus 2026 | 02:35:01 WIB

Cara Membuat Semur Jengkol Gurih Pedas yang Empuk

Senin, 03 Agustus 2026 | 02:30:31 WIB

Kolaborasi IP Global dan Kreator Lokal Indonesia

Senin, 03 Agustus 2026 | 02:25:31 WIB