Kolaborasi IP Global dan Kreator Lokal Indonesia

Senin, 03 Agustus 2026 | 02:25:31 WIB
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar. (Foto: NET)

JAKARTA - Kemitraan antara pemegang kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) global dan para kreator dalam negeri dipandang mampu membuka prospek usaha anyar bagi para pelaku industri kreatif lewat jalur lisensi resmi yang memberi keleluasaan bagi kreator untuk menguangkan karya mereka.

Irene menyampaikan bahwa skema kemitraan yang diterapkan pada ajang HoYo FEST melalui pemanfaatan produk berlisensi merupakan salah satu upaya guna mendongkrak nilai tambah sektor ekonomi kreatif tanah air, utamanya pada ranah gim, kriya, ilustrasi, serta desain, di samping memperluas jangkauan ke pasar yang lebih masif.

"HoYo FEST menunjukkan bahwa kolaborasi antara IP global dan kreator lokal mampu menciptakan nilai ekonomi yang saling menguntungkan. Inisiatif seperti ini membuka ruang yang lebih luas bagi talenta Indonesia untuk menghasilkan karya kreatif yang memiliki nilai komersial sekaligus menjangkau pasar yang lebih besar," kata Irene dalam keterangan yang diterima Senin (3/8/2026).

Lebih lanjut, pemanfaatan IP kini tidak lagi terbatas pada ranah permainan digital saja, melainkan telah menjelma menjadi ekosistem ekonomi yang merangkul bermacam-macam cabang kreatif. 

Berkat kemitraan tersebut, para kreator lokal mendapatkan peluang untuk menelurkan produk kriya serta cinderamata resmi yang bersumber dari karakter gim global, sehingga kapasitas saing serta nilai jual produk mereka dapat terdongkrak.

Sepanjang penyelenggaraan HoYo FEST 2026, tercatat sebanyak 71 pelaku ekonomi kreatif turut berpartisipasi dalam zona Artist Alley yang menyediakan sekitar 50 stan. Barang-barang yang ditampilkan merupakan wujud kerja sama antara kreator Nusantara dan pihak HoYoverse melalui mekanisme lisensi sah.

Irene memandang langkah strategis ini sebagai pencapaian vital sebab menyediakan wadah bagi para kreator guna meraup keuntungan finansial dari karya cipta mereka tanpa harus kehilangan hak milik atas buah kreativitas yang telah dirintis.

Ia menaruh harapan agar pola kerja sama serupa dapat diperluas dengan menggandeng lebih banyak pemilik IP dari kancah internasional. Upaya tersebut diyakini sanggup mengakselerasi ekspansi industri kreatif domestik sekaligus memperkokoh kedudukan Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif di regional.

Aswin Atonie selaku Associate Brand Director HoYoverse Indonesia/COGNOSPHERE PTE. LTD mengutarakan bahwa HoYo FEST 2026 telah menyedot kehadiran lebih dari 9.500 pengunjung sejak pertama kali dibuka pada tanggal 30 Juli. 

Menurut pandangannya, besarnya animo publik mencerminkan potensi ekonomi masif yang sanggup berkembang dari persinggungan antara industri gim, kelompok masyarakat, dan para kreator daerah.

"Kami berharap sinergi antara pemerintah, industri, dan komunitas seperti ini dapat terus berkembang sehingga semakin banyak talenta kreatif Indonesia yang memiliki kesempatan untuk berkarya, berkembang, dan dikenal di tingkat yang lebih luas," ujar Aswin.

Di samping berfungsi sebagai wadah berkumpulnya para pencinta gim, ajang HoYo FEST turut berperan sebagai sarana promosi bagi para kreator lokal guna memperkenalkan barang kreasi mereka kepada cakupan pasar yang lebih luas.

Pihak pemerintah menilai bahwa kemitraan yang berpijak pada lisensi IP berpotensi menjadi salah satu acuan pengembangan ekonomi kreatif yang berkesinambungan karena mampu merangsang kemunculan peluang usaha segar sekaligus memperkokoh tatanan ekosistem bisnis kreatif di tanah air.

Terkini