Potensi Besar Pengembangan Singkong Nasional di Universitas Lampung

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:07:01 WIB
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas). (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy mengemukakan bahwa pengembangan singkong di tanah air mempunyai prospek yang cerah.

“Pengembangan singkong memiliki prospek yang besar karena ubi kayu merupakan salah satu komoditas pangan strategis Indonesia,” ucapnya dalam agenda peresmian National Cassava Center di Universitas Lampung, dari keterangan resmi di Jakarta, Rabu.

Dia menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia mempunyai peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam sektor komoditas ubi kayu.

Melalui target produktivitas yang mencapai 60 ton per hektare, komoditas ini diproyeksikan menjadi bahan baku strategis guna memperkuat daya saing nasional serta merangsang pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal.

Berdasarkan pandangan Rachmat Pambudy, lonjakan harga singkong dari kisaran Rp600–700 per kilogram pada tahun sebelumnya menjadi sekitar Rp2.200 per kilogram saat ini membuka kesempatan yang semakin luas untuk mengangkat taraf hidup para petani.

"Ini adalah waktu kami untuk memakmurkan petani (singkong) kami," kata Kepala Bappenas.

Pada momen yang bersamaan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memberikan sorotan terhadap besarnya sumbangsih Provinsi Lampung pada total produksi singkong nasional.

Ia memaparkan bahwa lebih dari 70 persen hasil produksi singkong nasional berasal dari wilayah Lampung.

Tercatat sebanyak delapan dari total 15 kabupaten di daerah tersebut bertindak sebagai sentra penghasil singkong yang didukung oleh pertumbuhan industri tapioka.

“Singkong sudah menjadi tanaman rakyat di Lampung,” ujar Gubernur Rahmat Mirzani.

Seiring dengan kunjungan Menteri PPN dalam rangka meresmikan National Cassava Center, ia menaruh harapan agar kehadiran pusat riset ini mampu menopang pencapaian ketahanan pangan nasional sebagaimana tercantum di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

National Cassava Center Universitas Lampung sendiri dibangun sebagai salah satu Center of Excellence demi memperkuat riset ubi kayu, membangun rantai nilai dari tingkat hulu sampai hilir, serta memajukan kolaborasi antara dunia riset, sektor industri, dan pemerintah.

Ke depannya, pusat penelitian ini dijadwalkan pula untuk merumuskan roadmap pengembangan ubi kayu nasional yang berorientasi pada pasar dan bertumpu pada inovasi.

Rektor Universitas Lampung Lusmeilia Afriani menegaskan komitmen penuh dari National Cassava Center guna memastikan agar setiap hasil riset dan inovasi dapat dirasakan secara langsung oleh para petani lewat berbagai program pendampingan.

"Kami juga punya mobil petani keliling untuk membantu seluruh petani di Provinsi Lampung. Kami ingin memastikan bahwa petani menjadi penerima manfaat utama dari seluruh inovasi yang dikembangkan," ujar Rektor Lusmeilia Afriani.

Melalui kolaborasi terpadu antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, institusi perguruan tinggi, kalangan industri, serta petani, National Cassava Center diandalkan mampu memperkokoh kedudukan Lampung sebagai pusat pengembangan singkong nasional sekaligus mengantarkan Indonesia menjadi salah satu poros pengembangan singkong yang berdaya saing di kancah internasional.

Terkini