JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli secara aktif mendorong upaya penguatan bidang pendidikan Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika atau yang dikenal sebagai STEM di Indonesia demi menekan serta menghapus jurang kesenjangan kemampuan kerja (skill mismatch) di tengah dinamika pasar tenaga kerja.
Berbicara dalam agenda rapat tahunan Asosiasi MIPA Lembaga Tenaga Kependidikan LPTK Indonesia (AMLI) yang dihelat di Kota Jakarta pada hari Kamis, Menaker Yassierli membeberkan fakta bahwa saat ini terdapat kisaran 30 hingga 40 persen angka kesenjangan kemampuan, yang mencakup aspek kesenjangan vertikal maupun horizontal.
Menaker menguraikan lebih lanjut bahwa kategori kesenjangan kemampuan vertikal merujuk pada porsi pekerjaan untuk lulusan jenjang pendidikan SMA/sederajat yang justru diisi oleh para sarjana lulusan S1.
Sementara itu, kesenjangan kemampuan horizontal diartikan sebagai situasi di mana jenis pekerjaan tertentu digarap oleh tenaga kerja yang berasal dari latar belakang disiplin ilmu di luar bidang keahliannya.
Oleh sebab itu, Menaker menyatakan dukungannya penuh terhadap langkah kolaborasi strategis yang melibatkan segenap elemen pemangku kepentingan, termasuk jajaran Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) di seluruh penjuru Indonesia guna menggenjot akselerasi pendidikan STEM.
"Ada sekian banyak dekan beserta jajarannya melakukan koordinasi, melakukan sinergi terkait dengan bagaimana mereka bisa mempersiapkan lulusan yang lebih baik. Jadi ini hal yang positif dan kami pasti dukung," katanya.
Menaker Yassierli memberikan penekanan khusus bahwa rumpun ilmu STEM merupakan fondasi kompetensi fundamental yang wajib dikuasai secara matang oleh seluruh elemen angkatan kerja di tanah air.
Tokoh yang juga menjabat sebagai Guru Besar Teknik Industri di Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut turut mengingatkan agar rancangan kurikulum serta materi pengajaran berbasis STEM di lingkungan perguruan tinggi Indonesia harus senantiasa dievaluasi serta diperbarui secara berkala demi mengakomodasi tuntutan kualifikasi lulusan yang relevan dengan kebutuhan nyata dunia industri.
"Ini menjadi sebuah basic kompetensi yang penting untuk dimiliki oleh para pekerja kami nanti. Dunia industri memiliki peta kebutuhan jabatan tersendiri dan teman-teman di kampus memiliki profil program sendiri, program studi (yang harus lebih spesifik)," ucap Menaker Yassierli.
Di sisi lain, Ketua AMLI Edy Cahyono mengemukakan pandangannya bahwa para lulusan sarjana di Indonesia tengah berhadapan dengan spektrum tantangan yang sangat kompleks, mulai dari menyempitnya ketersediaan lapangan pekerjaan hingga desakan untuk menguasai aneka ragam kompetensi secara paripurna agar sanggup menjawab tuntutan zaman.
"Untuk itu kami duduk di sini bersama-sama berdiskusi bagaimana setiap program studi bisa mengakselerasi, berinovasi, agar dapat memecahkan permasalahan yang kami hadapi bersama," ujarnya.
Sementara itu, Dekan FMIPA UNJ Hadi Nasbey selaku pihak tuan rumah penyelenggaraan acara menyampaikan bahwa kepercayaan yang diamanahkan kepada institusinya merupakan momentum emas guna merajut kolaborasi yang lebih solid di antara fakultas-fakultas MIPA LPTK se-Indonesia.
Menurut pandangannya, lanskap tantangan pendidikan tinggi masa kini menuntut adanya keselarasan kerja sama yang jauh lebih erat, khususnya dalam lingkup inovasi kurikulum, peningkatan standar mutu pembelajaran, riset ilmiah, hingga program pengabdian kepada masyarakat.
"Melalui forum ini kami berharap lahir berbagai rekomendasi strategis yang dapat memperkuat peran MIPA LPTK dalam mencetak pendidik, peneliti, dan lulusan, yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan dunia kerja," tutur Hadi.