Kenali Penyakit Katup Jantung yang Berkembang Perlahan

Kamis, 06 Agustus 2026 | 01:37:02 WIB
Ilustrasi serangan jantung [FOTO: NET].

JAKARTA - Penyakit katup jantung sering berkembang secara perlahan, sehingga banyak penderita tidak menyadari adanya penurunan fungsi jantung hingga gejala muncul lebih berat. Oleh karena itu, pemeriksaan sejak dini diperlukan untuk menentukan penanganan yang sesuai.

Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Vera Citra Setiawan Hoei menjelaskan bahwa penyakit katup jantung terjadi ketika katup mengalami penyempitan (stenosis) atau tidak mampu menutup dengan sempurna (regurgitasi). Kondisi tersebut membuat aliran darah terganggu dan menyebabkan jantung bekerja lebih keras.

"Penyakit katup jantung terjadi ketika katup menyempit atau tidak menutup sempurna, sehingga aliran darah terganggu dan jantung bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, bisa terjadi pembesaran jantung, gangguan irama, hingga penurunan fungsi pompa. Karena gejalanya muncul perlahan, pemeriksaan penting untuk menilai kerusakan dan menentukan penanganan yang tepat untuk pasien," kata dr. Vera dalam keterangannya, Kamis (6/8/2026).

Ia menerangkan bahwa jantung memiliki empat katup, yaitu mitral, aorta, trikuspid, dan pulmonal yang berfungsi menjaga aliran darah tetap berjalan sesuai arah. Gangguan pada katup yang berlangsung dalam waktu lama dapat memicu pembesaran ruang jantung, gangguan irama, pembentukan bekuan darah, hingga menurunnya kemampuan jantung dalam memompa darah.

Penyakit katup jantung dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti demam rematik setelah infeksi tenggorokan, proses penuaan dan pengapuran katup, infeksi katup jantung (endokarditis), kelainan bawaan, hipertensi, serangan jantung, hingga gagal jantung.

Gangguan tersebut dapat dialami oleh berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung maupun faktor risiko terkait. Pada ibu hamil, gangguan katup yang sebelumnya tidak menimbulkan gejala juga dapat mulai terasa akibat meningkatnya beban kerja jantung.

Gejala yang perlu diperhatikan antara lain sesak napas saat beraktivitas atau ketika berbaring, mudah mengalami kelelahan, jantung berdebar atau berdetak tidak teratur, nyeri dada, pusing hingga kehilangan kesadaran, serta pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau perut.

Menurut Vera, tingkat keparahan gejala tidak selalu menggambarkan tingkat kerusakan katup karena terdapat pasien dengan gangguan berat yang justru mengalami keluhan ringan.

Pemeriksaan utama untuk memastikan diagnosis dilakukan melalui ekokardiografi atau USG jantung untuk melihat bentuk dan fungsi katup, tingkat penyempitan maupun kebocoran, ukuran ruang jantung, serta kekuatan pompa jantung. Pemeriksaan tambahan seperti elektrokardiografi (EKG), rontgen dada, tes latih jantung, CT scan, MRI jantung, hingga kateterisasi jantung dapat dilakukan sesuai kondisi pasien.

Ia menambahkan bahwa tidak seluruh pasien dengan penyakit katup jantung membutuhkan tindakan operasi. Pada kondisi ringan, pasien dapat menjalani pemantauan rutin dan mendapatkan obat untuk mengurangi cairan, mengendalikan tekanan darah serta irama jantung, dan mencegah pembentukan bekuan darah sesuai kebutuhan.

"Penanganan ditentukan berdasarkan tingkat kerusakan katup, gejala, fungsi pompa jantung, dan kondisi pasien. Pada kasus berat, tindakan dapat berupa pelebaran katup dengan balon, perbaikan atau penggantian katup, bedah minimal invasif, maupun TAVI untuk pasien tertentu," ujar Vera.

Sementara itu, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Margareth Aryani Santoso menyampaikan bahwa penanganan penyakit katup jantung membutuhkan diagnosis yang akurat, kerja sama tim multidisiplin, serta dukungan fasilitas yang memadai mulai dari pemeriksaan hingga tahap rehabilitasi.

Menurutnya, layanan jantung terpadu diharapkan tidak hanya menangani gangguan katup, tetapi juga membantu mempertahankan fungsi jantung dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Terkini