Indeks Kepuasan Layanan Haji 2026 Mencapai 82,71 Poin Berdasarkan BPS

Kamis, 06 Agustus 2026 | 03:58:01 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti. (Foto: NET)

JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat kepuasan jemaah terhadap pelayanan haji Indonesia di luar negeri pada tahun 2026 mencapai angka 82,71 poin, yang masuk ke dalam kategori sangat baik. 

Hasil riset tersebut memperlihatkan adanya peningkatan mutu pelayanan pada hampir seluruh tahapan pelaksanaan ibadah haji, termasuk di fase puncak Arafah, Muzdalifah, serta Mina (Armuzna) yang selama ini kerap menjadi titik tersulit.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengemukakan, Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia (IKLHI) luar negeri 2026 terdiri dari indeks proses sebesar 82,39 poin serta indeks output 83,0 poin. 

Menurut dia, secara umum hasil layanan yang diterima jemaah dinilai jauh lebih baik jika dibandingkan dengan proses pelayanan yang mereka rasakan.

"Secara umum seluruh jenis layanan memperoleh nilai di atas 81 poin. Artinya layanan jemaah haji dirasakan sangat baik oleh para jemaah, bahkan mereka mengatakan memuaskan," ujar Amalia dalam pemaparan hasil survei di kantor pusat BPS, Kamis (6/8/2026).

Dia menyampaikan bahwa pihak BPS mencatat, berdasarkan titik amatan, pelayanan di bandara meraih tingkat kepuasan tertinggi dengan indeks 84,76 poin. 

Sementara itu, indeks kepuasan di Madinah mencapai 82,53 poin, Mekah 82,59 poin, sedangkan Armuzna mencatatkan 79,70 poin, menjadikannya yang terendah apabila dibandingkan dengan lokasi pengamatan lainnya.

Meskipun demikian, Amalia menegaskan bahwa nilai Armuzna pada tahun ini memperlihatkan kemajuan dibandingkan penyelenggaraan haji 2025. Menurut dia, seluruh jenis layanan di kawasan tersebut mengalami kenaikan sehingga mencerminkan membaiknya kualitas pelayanan pada fase puncak ibadah haji.

"Layanan Armuzna memiliki nilai terendah dibandingkan titik amatan lain, tetapi pada dasarnya seluruh jenis layanan di Armuzna mengalami peningkatan yang jauh lebih baik dibandingkan tahun 2025. Ini menunjukkan adanya perbaikan kualitas pelayanan pada fase puncak ibadah haji," katanya.

Di fase Armuzna, layanan petugas haji memperoleh angka tertinggi yakni 81,91 poin, naik 1,40 poin apabila dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, layanan kesehatan mencapai 81,51 poin, layanan ibadah 80,46 poin, layanan transportasi menanjak 4,03 poin, serta layanan akomodasi naik tipis 0,68 poin.

Lonjakan paling besar terjadi pada layanan konsumsi. Indeks kepuasan untuk aspek tersebut bertambah 4,85 poin menjadi 81,16 poin. Berdasarkan hasil wawancara BPS, jemaah menilai makanan dan minuman yang didapatkan selama puncak haji jauh lebih memadai dibandingkan tahun lalu.

Menurut Amalia, temuan tersebut menunjukkan bahwa berbagai upaya pembenahan yang dikerjakan pemerintah selama pelaksanaan ibadah haji dapat dirasakan secara langsung oleh jemaah serta tercermin dalam hasil survei yang dijalankan secara representatif.

Apabila dicermati berdasarkan jenis layanan secara keseluruhan, transportasi menjadi layanan dengan tingkat kepuasan tertinggi yaitu 83,13 poin. Angka tersebut mencerminkan kepuasan jemaah terhadap proses maupun hasil layanan transportasi selama berada di Arab Saudi.

Sebaliknya, layanan kesehatan menjadi aspek dengan nilai terendah, kendati tetap berada pada kategori sangat baik, yakni 81,93 poin. BPS juga menemukan adanya variasi tingkat kepuasan berdasarkan embarkasi keberangkatan.

Embarkasi Banda Aceh mencatatkan nilai tertinggi dengan 85,20 poin, disusul Makassar (84,09 poin) serta Balikpapan (83,72 poin). Di sisi lain, embarkasi Jakarta-Bekasi yang dilayani Asrama Haji Pondok Gede memperoleh nilai terendah yaitu 78,67 poin.

Secara keseluruhan, terdapat 10 embarkasi yang membukukan angka di atas rata-rata nasional IKLHI luar negeri sebesar 82,71 poin. Amalia menerangkan, pengukuran tahun ini menerapkan metodologi baru.

IKLHI merupakan bentuk penyempurnaan dari Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI) dengan menyertakan pengukuran layanan haji secara lebih menyeluruh, baik di dalam maupun luar negeri, serta menilai mutu pelayanan dari segi proses dan output yang diterima jemaah.

Pihaknya menerjunkan 7 petugas dengan data sampel mencapai 14.400 kuesioner yang mencakup 1.600 sampel di dalam negeri yaitu sebelum keberangkatan, 6.400 kuesioner untuk gelombang haji pertama yakni melewati Madinah, serta jumlah sampel yang sama untuk kedatangan melalui Mekah.

Survei dilakukan secara dari pintu ke pintu, melakukan pengisian bersama, hingga dibantu kecerdasan buatan guna menerjemahkan tulisan tangan. Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menuturkan temuan BPS juga menjadi perhatian lembaganya.

Untuk layanan Armuzna, dia menyatakan akan meningkatkan perhatian pada tahun-tahun mendatang. Tantangan saat ini utamanya ketika pelayanan di Mina. Sebagaimana diketahui, dalam ibadah haji, jemaah diwajibkan bermalam di Mina selama paling sedikit setengah malam.

Situasi yang memerlukan layanan serentak tersebut membuat seluruh akomodasi dari toilet hingga tenda harus tersedia dan berfungsi penuh.

"Kami upayakan tahun ini [penyelenggaraan haji 2027] lebih baik dari tahun kemarin [haji 2026]," katanya.

Demografi Jemaah Haji 2026

Di dalam rilis yang serupa, BPS turut membeberkan jemaah haji Indonesia pada musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi masih didominasi oleh kelompok lanjut usia (lansia). Lebih dari sepertiga jemaah atau 36,6% tercatat berusia 60 tahun ke atas.

Bahkan apabila dirinci, 21,5% jemaah berada dalam kelompok umur di atas 65 tahun. Demografi ini mengindikasikan dibutuhkannya layanan kesehatan serta pendampingan yang jauh lebih intensif selama menunaikan ibadah di Tanah Suci.

Di samping faktor usia, BPS juga mendapati masih terdapat jemaah yang berasal dari golongan ekonomi terbawah. Sebanyak 7% jemaah haji berasal dari desil 1–4 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSES), yang merepresentasikan kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling minim.

Rinciannya, jemaah dari desil 1 mencapai 1,3%, desil 2 sebesar 1,6%, desil 3 sejumlah 1,7%, dan desil 4 sebesar 2,4%. Di sisi lain, kelompok ekonomi atas mendominasi komposisi jemaah.

Jemaah dari desil 10 tercatat mencapai 29,4%, diikuti desil 9 sebesar 17,1% dan desil 8 sebesar 10,8%. Sebanyak 19,8% jemaah belum terklasifikasi di dalam DTSES.

Kajian BPS pun memperlihatkan adanya jemaah penyandang disabilitas dalam pelaksanaan haji tahun ini. Persentasenya mencapai 0,2% dari total calon jemaah, sementara 99,5% merupakan non-disabilitas dan 0,3% sisanya belum teridentifikasi status disabilitasnya.

Secara keseluruhan, jemaah haji 2026 didominasi oleh perempuan yang mencapai 55,86%. Tingkat pendidikan sebagian besar merupakan tamatan SMA ke bawah yaitu 65,15% serta dominasi kelompok dewasa di atas 40 tahun dengan total 89,67%.

Terkini