Akses Internet Luas, APJII Dorong Peningkatan Kualitas Jaringan

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:09:31 WIB
Pekerja melakukan perbaikan pada salah satu base transceiver station/BTS [FOTO: NET].

JAKARTA - Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menilai bahwa peningkatan mutu layanan internet kini menjadi tantangan paling mendasar yang harus diselesaikan oleh Indonesia ke depan. Pasalnya, perluasan jangkauan konektivitas yang semakin masif saat ini belum diimbangi dengan performa jaringan yang andal secara merata.

Ketua Umum APJII, Muhammad Arif menuturkan bahwa internet telah bertransformasi menjadi infrastruktur vital yang menentukan tingkat daya saing bangsa. Oleh sebab itu, pembangunan konektivitas tidak lagi berfokus semata-mata pada penyediaan jaringan, melainkan memastikan agar seluruh warga negara dapat menikmati akses internet yang cepat, bermutu, dan terjangkau.

“Ke depan, tantangan kami adalah menghadirkan konektivitas yang berkualitas sebagai fondasi transformasi digital Indonesia,” ujar Arif dikutip Sabtu (8/8/2026).

Berdasarkan riset internal APJII, tingkat penetrasi internet di Indonesia menunjukkan tren kenaikan yang konsisten. Pada 2024, angka penetrasi berada di kisaran 79,5% atau setara 221 juta penduduk, lalu melonjak hingga menyentuh 81,72% atau sekitar 235 juta pengguna pada 2026. Angka tersebut menegaskan posisi internet sebagai kebutuhan pokok sekaligus motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi digital nasional.

Kendati jangkauannya kian meluas, mutu layanan internet Indonesia berdasarkan metrik global masih tertinggal jauh apabila disandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan laporan Speedtest Global Index dari Ookla per Juni 2026, kecepatan rata-rata internet Indonesia masih menghuni zona bawah di lingkup ASEAN.

Pada kategori internet seluler (mobile broadband), median kecepatan unduh nasional tercatat sebesar 62,54 Mbps. Capaian ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-7 dari 9 negara di Asia Tenggara serta posisi ke-74 di kancah global.

Posisi Indonesia tertinggal jauh di bawah Brunei Darussalam yang memimpin kawasan dengan kecepatan 254,20 Mbps, Vietnam sebesar 210,85 Mbps, Singapura sebesar 183,40 Mbps, serta Malaysia di angka 154,37 Mbps. Indonesia tercatat hanya unggul tipis dari Filipina (59,31 Mbps) dan Laos (42,85 Mbps).

Sementara itu, untuk kategori internet kabel rumah (fixed broadband), posisi Indonesia semakin mengkhawatirkan karena terpuruk di peringkat ke-9 dari 10 negara Asia Tenggara, dan hanya mampu mengungguli Myanmar. Kesenjangan mutu jaringan ini sebagian besar diakibatkan oleh hambatan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, di mana pemerataan infrastruktur serat optik bawah laut antarwilayah menuntut penanaman modal yang sangat besar. Ditambah lagi, konsentrasi infrastruktur internet cepat masih terpusat di kota-kota besar serta Pulau Jawa, sehingga rata-rata performa nasional tereduksi oleh kualitas layanan di daerah periferi yang belum setara.

Merespons disparitas kualitas tersebut, APJII menegaskan bahwa percepatan pembangunan tidak boleh ditunda demi menjaga keberlanjutan momentum ekonomi digital tanah air. Arif menyatakan bahwa pertumbuhan jumlah pengguna wajib diiringi dengan peningkatan mutu layanan, pemerataan infrastruktur, pengamanan siber, serta peningkatan literasi digital masyarakat.

“APJII akan terus berkolaborasi dengan pemerintah, industri, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan transformasi digital Indonesia berjalan secara inklusif dan berkelanjutan,” kata Arif.

Terkini