Pemkab Pati Berupaya Optimalkan Penyerapan Garam Petani Saat Panen Raya

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:19:02 WIB
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati adalah Hadi Santosa. (Foto: NET)

JAKARTA - Pemerintah Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, menyatakan keseriusan dalam memaksimalkan penyerapan komoditas garam masyarakat seiring dengan membludaknya hasil panen raya, yang mengakibatkan kemerosotan nilai jual barang tersebut pada level produsen.

"Pemkab Pati tentu akan mengoptimalkan keberadaan industri dan gudang penyimpanan garam rakyat untuk membantu menyerap hasil produksi petani," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati adalah Hadi Santosa di Pati, Minggu (9/8/2026).

Menurut Hadi, eksistensi PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT) selaku pabrik pengolahan garam industri yang terletak di Desa Raci, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, dapat difungsikan secara maksimal guna menunjang penyerapan garam masyarakat.

Disamping itu, ungkap Hadi, di wilayah Kabupaten Pati juga terdapat tiga gudang rakyat beserta lima gudang yang sudah tersedia. Seluruh sarana tersebut dapat didayagunakan untuk mempertinggi penyerapan garam lokal.

Di Kabupaten Pati, tambah Hadi, juga terdapat satu koperasi garam yang mengemban kewajiban membantu menyerap hasil panen petani garam. "Keberadaan koperasi desa juga bisa dikolaborasikan, sehingga bisa membantu tingkat kesejahteraan para petani garam," ujarnya.

Hadi membeberkan tingkat produktivitas garam saat musim panas tahun ini justru mencatatkan penurunan jika disandingkan dengan musim panas sebelumnya. 

Situasi tersebut terdampak oleh kondisi lahan di area produksi garam yang masih relatif lembap sesudah melalui periode penghujan yang cukup lama. Dampaknya, alur produksi garam memerlukan durasi lebih panjang, sehingga hasil kerja petani mengalami penyusutan.

Ali Muntoha, salah satu petani garam dari Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Pati, membenarkan musim panas kali ini tidak selaras dengan tahun-tahun silam, lantaran tanah di lokasi produksi garam cenderung tawar sehingga menyebabkan alur produksi garam memerlukan durasi lebih lama.

"Jika sebelumnya dalam waktu tiga hari bisa panen, kini butuh waktu hingga empat hari karena uap panas dari tanah tidak maksimal karena selain tawar juga tanahnya cenderung basah. Sedangkan, hasil panennya juga turun menjadi 1 kuintal dari sebelumnya bisa 1,5 kuintal," ujarnya.

Menurut Ali, situasi tersebut dapat dirasakan dari derajat panas di area produksi. Bila sebelumnya pada sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WIB derajat panas sudah cukup tinggi, saat ini panas yang dihasilkan tanah pada durasi tersebut belum maksimal.

Selain kendala produktivitas, para petani juga mendapati minimnya penyerapan garam. Korporasi penghasil garam konsumsi diinformasikan belum menyerap stok bahan mentah dari petani sehingga berimbas terhadap nilai jual di tingkat petani.

Ali menyampaikan banderol garam yang dulunya menyentuh angka Rp1.100 per kilogram sekarang merosot menjadi kisaran Rp700 per kilogram. Meskipun mendapati kemerosotan harga, ia mengakui petani garam masih mendapatkan surplus.

Menurutnya, hal yang lebih krusial pemerintah tidak melakukan impor garam sehingga hasil produksi garam masyarakat tetap mempunyai kans untuk diserap industri dalam negeri. 

Kabupaten Pati memiliki luas area produksi garam menyentuh 2.901,63 hektare yang terbagi di empat kecamatan dengan hasil produksi garam pada 2025 tercatat mencapai 93.482,23 ton.

Terkini