JAKARTA - Kekurangan zat besi kerap tak disadari di balik kesibukan sehari-hari. Tubuh yang mudah mengantuk sering kali dikaitkan dengan kurang tidur, sulit fokus dianggap efek beban kerja, sedangkan rambut rontok hanya disangka akibat stres. Padahal, penurunan kadar zat besi menyebabkan dampak sistemik yang berpengaruh pada energi, konsentrasi, suasana hati, serta kesehatan kulit, kuku, dan rambut. Berikut penjelasan mengenai tanda kekurangan zat besi dan cara mengatasinya.
Tubuh terasa lebih mudah lelah Zat besi krusial bagi pembentukan hemoglobin, protein sel darah merah yang mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh. Saat cadangan zat besi menurun, distribusi oksigen terhambat sehingga energi tubuh cepat terkuras. Menurut Amanda Kahn, dokter penyakit dalam yang dikutip Allure, kekurangan zat besi terasa dalam berbagai aspek kehidupan perempuan.
“Ketika cadangan zat besi rendah, perempuan sering kali merasakannya di berbagai aspek, mulai dari tingkat energi, suasana hati, hingga kondisi rambut,” jelas Amanda. Kelelahan bukan satu-satunya keluhan. Kekurangan zat besi bisa disertai sakit kepala, pusing, sesak napas, nyeri dada, kram otot, kesulitan berkonsentrasi, hingga depresi.
Rambut mulai mengalami perubahan Indikator nyata penurunan zat besi terlihat pada rambut dan kuku. Penurunan kadar ferritin, protein penyimpan zat besi, memicu telogen effluvium, yakni kerontokan rambut signifikan sementara. Perubahan rambut sering menjadi alasan dokter mempertimbangkan pemeriksaan kadar zat besi.
“Perubahan pada rambut dan kuku adalah hal yang paling sering mendorong saya untuk melakukan pemeriksaan kadar zat besi dalam praktik saya,” kata dokter kulit Marisa Garshick menuturkan kepada Allure. Artinya, saat rambut tiba-tiba rontok atau kuku berubah tanpa sebab jelas, kondisi itu tidak selalu berkaitan dengan produk perawatan.
Wajah terlihat lebih pucat Kekurangan zat besi memengaruhi tampilan kulit. Dokter spesialis kulit, Macrene Alexiades, menyebut pasien dengan cadangan zat besi menipis cenderung memiliki kulit pucat, kering, gatal, serta pecah-pecah. Belakangan, wajah pucat kusam dan lingkaran hitam di bawah mata populer dengan istilah “ferritin face”. Namun, istilah tersebut bukan diagnosis medis tunggal. Marisa mengingatkan, kulit pucat dan lingkaran hitam tidak cukup spesifik menunjukkan kekurangan zat besi karena bisa disebabkan banyak faktor.
Mudah terengah dan sulit berkonsentrasi Kekurangan zat besi membuat aktivitas sederhana terasa melelahkan. Sebagian perempuan mungkin lebih mudah terengah saat menaiki tangga, sakit kepala, atau sulit berpikir jernih. Ahli hematologi Rachel Kramer mengatakan, banyak orang terbiasa menganggap dirinya memang mudah lelah.
“Banyak orang mengalami kekurangan zat besi pada usia 20-an dan 30-an, tetapi mereka baru datang kepada kami ketika sudah berusia 40-an,” sebutnya. Karena itu, perubahan kondisi tubuh yang terus-menerus sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai konsekuensi usia atau kesibukan.
Kebutuhan zat besi perlu diperhatikan Perempuan usia 9 hingga 50 tahun membutuhkan sekitar 18 miligram zat besi per hari, yang menurun menjadi 8 miligram setelah menopause. Namun, efektivitas penyerapan bergantung pada sumber makanan: Zat besi heme (hewani) lebih mudah diserap, sedangkan zat besi non-heme (nabati) butuh bantuan vitamin C agar optimal. Jika makanan tidak cukup, suplemen bisa menjadi pilihan setelah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Ahli gastroenterologi Wendi LeBrett mengingatkan, penyebab kekurangan zat besi perlu dicari, bukan hanya ditutupi suplemen.
“Orang tidak boleh mengabaikan suatu masalah hanya karena masalah tersebut bisa diperbaiki dengan suplemen,” kata Wendi.