Gandeng HHP Jepang, APLN Divestasi Saham Proyek Bukit Podomoro

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:51:02 WIB
PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) [FOTO: NET].

JAKARTA — Emiten properti PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) menggandeng pengembang properti asal Jepang, Hankyu Hanshin Properties Corp. (HHP), dalam pengembangan proyek Bukit Podomoro Jakarta. Kolaborasi tersebut ditandai dengan pengalihan sebagian kepemilikan saham APLN di PT Graha Cipta Kharisma (GCK)—entitas yang menaungi proyek Bukit Podomoro—kepada HHP selaku mitra strategis.

Corporate Secretary APLN Justini Omas menyampaikan bahwa kerja sama dengan HHP ini bukan merupakan kolaborasi perdana bagi kedua institusi. APLN dan HHP sebelumnya telah menjalin kemitraan pada sejumlah proyek properti unggulan, seperti Central Park Mall, Central Park Mall 2 (Neo Soho Mall), serta Deli Park Medan.

Menurut Justini, rekam jejak kemitraan tersebut menjadi landasan kokoh bagi kedua belah pihak untuk kembali memperluas sinergi di industri properti.

"Kerja sama ini menjadi landasan bagi kedua perusahaan untuk terus memperluas sinergi dalam menghadirkan pengembangan properti yang inovatif, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat maupun para pemangku kepentingan," ujar Justini dalam keterangan resmi, Senin (10/8/2026).

Masuknya HHP selaku mitra strategis turut menyuntikkan manfaat finansial bagi APLN. Justini menerangkan bahwa dana hasil transaksi divestasi saham bakal dialokasikan guna menopang kebutuhan operasional dan pengembangan bisnis perseroan, sekaligus diarahkan untuk mereduksi beban utang APLN.

"Hasil transaksi ini akan digunakan untuk mendukung operasional dan pengembangan usaha APLN, serta mengurangi beban utang," imbuhnya.

Secara rinci, kerja sama strategis APLN dan HHP direalisasikan lewat serangkaian transaksi yang saling terikat. Dalam transaksi itu, APLN mengalihkan sebanyak 282.793 saham biasa GCK atau setara 35,5% kepada HHP. Sebelum transaksi bergulir, APLN tercatat menguasai 677.110 saham biasa atau 85% dari total modal GCK yang telah disetor penuh.

Namun demikian, pengalihan saham tersebut tidak melucuti status APLN sebagai pemegang saham pengendali GCK. Pasalnya, dalam rangkaian transaksi yang sama, APLN turut membeli sebagian saham GCK milik pemegang saham eksisting lainnya, yaitu 28.279 saham (3,55%) milik PT Kreasi Wahana Nusantara dan 14.140 saham (1,775%) milik PT Bumi Kirana.

Usai seluruh rangkaian transaksi tuntas, porsi kepemilikan APLN di GCK menjadi 436.736 saham biasa atau setara dengan 54,825%. Dengan porsi kepemilikan tersebut, kendali atas GCK tetap berada di tangan APLN, sementara HHP resmi masuk sebagai mitra strategis dalam proyek tersebut.

Proyek Bukit Podomoro

Bukit Podomoro Jakarta merupakan salah satu proyek strategis APLN yang dibangun sebagai kawasan hunian terpadu sejak 2021. Proyek tersebut berdiri di atas lahan seluas 9,6 hektare dengan total target pengembangan sebanyak 432 unit, yang mencakup 317 rumah tapak dan 115 unit ruko.

Adapun dari sisi kinerja, sepanjang semester I/2026 APLN membukukan penjualan dan pendapatan usaha mencapai Rp3,66 triliun. Capaian ini melesat 117% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,69 triliun.

Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, perseroan juga sukses membalikkan posisi rugi komprehensif pada semester pertama tahun lalu menjadi capaian laba komprehensif periode berjalan senilai Rp523,5 miliar. Pengakuan penjualan pada semester I/2026 tersebut didorong oleh aksi penjualan Mall Deli Park Medan senilai Rp2,2 triliun kepada PT DPM Assets Indonesia (DPMAI) melalui anak usaha APLN, yaitu PT Sinar Menara Deli (SMD).

Dampak positif dari membaiknya kinerja APLN turut tecermin dari akumulasi liabilitas perusahaan yang konsisten menurun. Pada semester I/2026, total liabilitas atau beban utang APLN tercatat sebesar Rp10,37 triliun, lebih rendah dibanding posisi akhir 2025 yang mencapai Rp11,28 triliun.

Selama 2,5 tahun terakhir, APLN terhitung agresif memangkas beban utangnya. Sebagai pembanding, pada akhir 2023 total liabilitas APLN masih berada di angka Rp14,87 triliun. Ini berarti, dalam kurun 2,5 tahun APLN berhasil melunasi utang hingga senilai Rp4,50 triliun.

APLN tercatat konsisten melakukan monetisasi atas portofolio properti bernilai tinggi demi membiayai proyek-proyek baru serta memotong utang, terkhusus utang dalam denominasi dolar AS. Beberapa aset besar yang telah didivestasi APLN sebelumnya mencakup Central Park Mall, Neo Soho Mall, Pullman Ciawi Vimala Hills, hingga Deli Park Mall Medan.

Terkini