Pemerintah Luncurkan MOLINAS untuk Perkuat Industri Kendaraan Listrik

Kamis, 13 Agustus 2026 | 20:07:32 WIB
Motor listrik Vinfast [FOTO: NET].

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan untuk meresmikan Ekosistem Motor Listrik Nasional atau yang disingkat MOLINAS sebagai wujud langkah strategis pemerintah dalam membangun ekosistem industri kendaraan bermotor listrik roda dua yang terintegrasi secara utuh, memiliki daya saing tinggi, serta bersifat berkelanjutan.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengemukakan bahwa acara peresmian MOLINAS ini diagendakan berlangsung pada hari Kamis (13/8/2026) bertempat di area fasilitas produksi milik PT Ilectra Motor Group (ALVA) yang terletak di kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

“Agenda Presiden meliputi peninjauan fasilitas produksi dan exhibition, penyampaian laporan, peninjauan secara langsung ekosistem MOLINAS, arahan Presiden, peluncuran ekosistem MOLINAS, serta penandatanganan komitmen bersama para pemangku kepentingan,” kata Prasetyo dalam keterangan pers tertulis melalui pesan teks kepada wartawan, Kamis (13/8/2026).

Menurut penjelasan Prasetyo, rangkaian agenda tersebut merupakan bagian dari komitmen fundamental pemerintah guna mendirikan ekosistem motor listrik nasional secara komprehensif dari hulu ke hilir, dan bukan sekadar sebatas memperkenalkan produk unit kendaraan listrik tipe baru ke pasaran.

Inisiatif program MOLINAS sendiri digagas secara kolaboratif oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BP Danantara) bersama PT Len Industri beserta segenap unsur pemangku kepentingan terkait lainnya.

Cakupan ekosistem yang dibangun merangkum rantai suplai industri yang menyeluruh, mulai dari sektor manufaktur dan industri pendukung, penyediaan komponen serta baterai, pembangunan infrastruktur pengisian daya (charging) dan penukaran baterai (battery swapping), skema pembiayaan, jalur distribusi, layanan purnajual, hingga kepastian penyerapan di pasar domestik.

“Program ini dirancang sebagai ekosistem nasional, bukan sebagai peluncuran satu merek atau satu model kendaraan,” ujar Prasetyo.

Tindak Lanjut Arahan Prabowo

Prasetyo memaparkan lebih lanjut bahwa pelaksanaan peresmian MOLINAS ini merupakan bentuk tindak lanjut konkret dari surat permohonan kehadiran Presiden yang diajukan oleh Direktur Utama PT Len Industri lewat surat resmi Nomor 665/Len/DU/VII/2026 bertanggal 29 Juli 2026.

Surat permohonan tersebut sekaligus menjadi implementasi atas arahan langsung yang disampaikan Presiden dalam rapat terbatas tertanggal 14 Juli 2026 yang secara khusus membahas percepatan pengembangan motor listrik nasional.

PT Len Industri sendiri merupakan salah satu badan usaha di bawah naungan holding BUMN industri pertahanan atau Defend ID yang berada di bawah koordinasi Kementerian Pertahanan.

Di dalam kerangka pengembangan Motor Listrik Nasional ini, PT Len Industri menjalin koordinasi intensif bersama Kementerian Pertahanan serta kementerian, lembaga pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya sesuai dengan ruang lingkup tugas serta kewenangan masing-masing.

PT Len Industri ditunjuk secara resmi sebagai lead integrator yang memikul tanggung jawab untuk mengorkestrasi sinergi kolaborasi antar seluruh pemangku kepentingan di dalam ekosistem MOLINAS.

“PT Len Industri menjadi bagian dari koordinasi holding Defend ID/Kementerian Pertahanan,” kata Prasetyo.

Berposisi sebagai lead integrator, PT Len Industri dilaporkan memiliki kapasitas produksi maksimal mencapai 100.000 unit motor listrik dalam kurun waktu satu tahun.

Perusahaan plat merah tersebut juga telah melayangkan proposal usulan agar MOLINAS ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) sekaligus memohon penerbitan surat penugasan resmi melalui Surat Len Nomor 664/Len/DU/VII/2026.

Berdasarkan arsip data Kementerian Sekretariat Negara, usulan tersebut saat ini masih dalam tahap penanganan administratif di Sekretariat Kabinet melalui Deputi Bidang Hubungan Kelembagaan.

Pasar Motor Listrik

Langkah pengembangan MOLINAS ini dieksekusi di tengah potensi pasar kendaraan listrik roda dua di dalam negeri yang dinilai masih memegang ruang pertumbuhan yang sangat luas.

Data resmi yang dikeluarkan oleh PT Len Industri memperlihatkan proyeksi total angka permintaan motor listrik pada tahun 2028 mendatang bakal menyentuh kisaran angka 1,5 juta unit.

Sementara itu, target volume produksi motor listrik nasional untuk tahun 2026 diprediksi mencapai 75.000 unit yang merujuk pada data Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) 2026.

Adapun realisasi angka penjualan motor listrik sepanjang tahun 2025 tercatat berada di angka 55.059 unit berdasarkan basis data Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) Kementerian Perhubungan.

Angka tersebut menunjukkan adanya koreksi penurunan sekitar 28,6% apabila dikomparasikan dengan catatan rekor puncak penjualan pada tahun 2024 yang sempat menyentuh 77.078 unit, di mana kala itu mayoritas transaksi masih ditopang oleh skema subsidi pemerintah.

Dengan torehan volume tersebut, pangsa pasar motor listrik nasional pada tahun 2025 terpantau masih berada di bawah angka 1% apabila dibandingkan dengan total keseluruhan pasar sepeda motor konvensional di Indonesia yang mencapai sekitar 6,4 juta unit.

Pemerintah memandang realisasi kondisi pasar tersebut sebagai landasan kuat untuk segera mendorong peluncuran program motor listrik nasional serta membangun ekosistem terpadu guna mempercepat laju penetrasi kendaraan listrik di dalam negeri.

“Program MOLINAS diarahkan untuk membangun ekosistem nasional secara terintegrasi, mulai dari industri sampai penyerapan pasar,” ujar Prasetyo.

Berpotensi Ciptakan 215.000 Lapangan Kerja

Proses pengembangan ekosistem motor listrik nasional ini pun diproyeksikan mampu mendatangkan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan terhadap roda perekonomian nasional.

Berdasarkan hasil kajian yang tertuang dalam dokumen bahan Kementerian Sekretariat Negara bersumber dari PT Len Industri, pengembangan ekosistem MOLINAS secara menyeluruh (end-to-end) selama rentang waktu 2026–2031 diperkirakan menyimpan potensi perputaran ekonomi hingga sekitar Rp150 triliun.

Dari sudut pandang penyerapan tenaga kerja, ekspansi sektor industri ini diperkirakan mampu membuka dan menciptakan sekitar 215.000 lapangan pekerjaan baru yang berasal dari sektor original equipment manufacturer (OEM), industri komponen, pabrikasi baterai, penyedia infrastruktur pengisian daya, hingga berbagai lini sektor pendukung lainnya.

Kehadiran ekosistem motor listrik ini turut diproyeksikan memberikan kontribusi positif dalam bentuk penghematan subsidi bahan bakar minyak serta perbaikan keseimbangan neraca perdagangan pada sektor energi dengan estimasi nilai mencapai sekitar Rp82,2 triliun.

Di samping itu, masifnya adopsi kendaraan listrik di dalam negeri diyakini sanggup meredam tingkat ketergantungan negara terhadap pasokan impor minyak mentah sekaligus mendongkrak kinerja neraca perdagangan nasional pada kurun 2027–2037 dengan nilai sekitar Rp45 triliun.

Secara akumulatif, total keseluruhan manfaat ekonomi yang berhasil dikalkulasikan dalam dokumen tersebut diperkirakan bergerak pada kisaran angka Rp44 triliun sampai dengan Rp77 triliun.

Prasetyo menegaskan bahwa pembangunan MOLINAS tidak semata-mata diorientasikan untuk menumbuhkan industri kendaraan listrik belaka, melainkan turut membangun fondasi basis industri nasional yang tangguh dalam menopang segala kebutuhan ekosistem kendaraan listrik mulai dari sisi kapasitas produksi, pasokan energi, skema pembiayaan, jalur distribusi, hingga layanan purnajual.

Bidik 140 Juta Orang

Ditinjau dari kacamata penetrasi pasar, program MOLINAS dirancang untuk membidik berbagai segmen demografi pengguna dengan total target populasi mencapai sekitar 140 juta jiwa.

Segmen sasaran pertama dialokasikan bagi instansi pemerintahan serta badan usaha milik negara (BUMN) yang diperkirakan memiliki potensi kebutuhan pengadaan sekitar 6 juta unit kendaraan.

Berikutnya terdapat kelompok pengemudi layanan transportasi ojek daring dengan estimasi jumlah pengendara aktif mencapai sekitar 500.000 hingga 600.000 orang.

Segmen konsumen masyarakat perdesaan menjelma sebagai kelompok basis terbesar dengan potensi jangkauan mencapai sekitar 65 juta hingga 70 juta jiwa.

Adapun kelompok komuter perkotaan dipetakan berada pada kisaran angka 33 juta hingga 39 juta orang.

Sementara itu, segmen pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diperkirakan memiliki potensi pasar sekitar 13 juta sampai 20 juta pengguna aktif.

Pemetaan komprehensif tersebut memperlihatkan bahwa arah pengembangan motor listrik nasional tidak hanya dipusatkan untuk memenuhi gaya hidup masyarakat perkotaan semata, melainkan turut mengakomodasi kebutuhan mobilitas harian warga di perdesaan, para pelaku UMKM, pengemudi transportasi online, hingga kendaraan operasional formal milik pemerintah dan BUMN.

TKDN Jadi Fokus

Pada sektor industri manufaktur, tingkat kesiapan produksi serta skalabilitas skala usaha menjadi salah satu pilar penekanan utama dalam pengoperasian MOLINAS.

Merujuk pada data informasi yang dipaparkan, pencapaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) saat ini berada pada posisi level 40%. Pemerintah sendiri menaruh target ambisius untuk mendongkrak kenaikan porsi TKDN tersebut hingga menyentuh angka 60%.

Penguatan persentase TKDN ini diharapkan mampu melipatgandakan keterlibatan industri nasional di dalam rantai pasok global motor listrik, khususnya pada sektor komponen suku cadang, sel baterai, fasilitas manufaktur, infrastruktur pengisian daya, hingga penyediaan layanan pendukung.

Prasetyo menuturkan bahwa inisiatif pembangunan ekosistem MOLINAS ini merupakan bagian integral dari ikhtiar pemerintah untuk melahirkan industri motor listrik nasional yang jauh lebih perkasa sekaligus memangkas tingkat ketergantungan pasokan produk dan komponen impor dari luar negeri.

“Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem motor listrik nasional yang terintegrasi, berdaya saing, dan berkelanjutan untuk Indonesia maju,” kata Prasetyo.

Dorong Industri dan Energi Bersih

Pemerintah memandang bahwa realisasi program MOLINAS mengusung sederet misi sasaran strategis, mulai dari memperkuat daya tahan industri nasional, mengakselerasi transisi penggunaan sumber energi yang lebih bersih, memacu pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya, hingga menghadirkan opsi sarana mobilitas transportasi yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

Oleh sebab itu, cetak biru ekosistem MOLINAS dirancang agar tidak berhenti pada kemampuan merakit kendaraan saja. Rantai pasok industri yang dibangun mencakup spektrum luas mulai dari sektor manufaktur, rantai komponen dan baterai, infrastruktur charging serta battery swapping, instrumen pembiayaan, jaringan distribusi, layanan purnajual, hingga jaminan penyerapan pasar.

Format model terpadu tersebut diharapkan mampu merajut hubungan yang erat antara kebijakan sektor industri, inovasi pengembangan teknologi, pemenuhan kebutuhan energi, dukungan pembiayaan, hingga dinamika pasar kendaraan listrik di tanah air.

Melalui sokongan kapasitas produksi PT Len Industri yang sanggup menembus angka 100.000 unit tiap tahunnya serta target lonjakan TKDN dari 40% menuju 60%, pemerintah optimis dapat membentuk sentra basis manufaktur kendaraan listrik nasional yang siap berekspansi ke skala yang jauh lebih masif.

Prasetyo menambahkan, pihak pemerintah berkomitmen untuk terus menggalang sinergi dan kolaborasi lintas kementerian serta lembaga, korporasi BUMN, para pelaku industri swasta, hingga seluruh pemangku kepentingan terkait guna memastikan ekosistem ini mampu beroperasi secara konsisten dan berkesinambungan.

“Pembangunan ekosistem motor listrik nasional diharapkan dapat memperkuat industri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menyediakan mobilitas yang lebih terjangkau bagi masyarakat,” ujarnya.

Rangkaian peresmian MOLINAS di fasilitas produksi ALVA di Cikarang tersebut sekaligus menandai babak permulaan langkah nyata pemerintah dalam membangun ekosistem kendaraan bermotor listrik roda dua nasional secara terpadu, dengan menempatkan PT Len Industri sebagai lead integrator serta Danantara sebagai salah satu insiator utama program tersebut.

Terkini