IJBNet Dorong Pemanfaatan Kelapa Nonstandar untuk Bahan Baku Bioavtur 2027

Kamis, 13 Agustus 2026 | 02:53:01 WIB
IJBNet Dorong Kelapa Nonstandar Jadi Bahan Baku Bioavtur Mulai 2027. (Foto:: NET)

JAKARTA - Indonesia dipandang mempunyai peluang besar mengoptimalkan pendayagunaan kelapa sebagai elemen pokok sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur, seiring desakan aviasi global untuk menaikkan pemakaian bahan bakar rendah emisi.

Pimpinan Tertinggi Indonesia-Japan Business Network (IJBNet) Suyoto Rais menyatakan, potensi itu disokong oleh ketersediaan pasokan kelapa di Nusantara, termasuk kelapa non-standar yang selama ini belum dimaksimalkan dengan baik.

Menurutnya, kelapa non-standar telah mengantongi restu dari International Civil Aviation Organization (ICAO) untuk dipakai sebagai elemen pokok SAF.

Restu tersebut menjadi salah satu tahapan krusial dalam penciptaan bioavtur berbasis kelapa di Tanah Air.

"Jadi kami sengaja memanfaatkan kelapa-kelapa kami yang kami istilahkan non-standar, dipakai untuk bahan baku bioavtur," ujar Suyoto, Rabu (12/8/2026).

Dia menguraikan, ICAO adalah badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mematok aturan aviasi sipil internasional, termasuk berkenaan dengan elemen pokok yang bisa dimanfaatkan guna menghasilkan SAF.

Adapun, restu pendayagunaan kelapa non-standar tersebut didapat pada Maret 2024 seusai melewati fase panjang selama kurang lebih 5 tahun dengan sokongan pemerintah serta pelaku industri.

Seusai mengantongi restu, IJBNet bersama sejumlah kolaborator mulai memacu pendirian sarana pengolahan elemen pokok SAF di Banyuasin, Sumatra Selatan.

"Ini telah mengizinkan kelapa non-standar dipakai dan setelah itu kami mulai membangun pabrik di Banyuasin, Sumatra Selatan," sebut Suyoto.

Menurutnya, sarana tersebut saat ini masih berada di fase konstruksi guna memproduksi elemen pokok berupa crude coconut oil (CCO).

Pabrik tersebut dipatok target mulai beroperasi pada April 2027.

Pengembangan CCO, dijalankan dengan menggandeng sejumlah pihak, termasuk pabrik CCO yang telah beroperasi, serta membukakan kesempatan bagi penanam modal guna masuk ke fase pengembangan berikutnya.

"Insyaallah April tahun depan mulai operasi dan saat itu juga kami akan mulai memproduksi bahan baku untuk SAF. Itu yang kelapa non-standar," ungkap Suyoto.

Target Penggunaan Bioavtur

Suyoto mengutarakan, ICAO sebelumnya mematok target penerapan pemakaian bioavtur dengan rasio tertentu pada penerbangan internasional mulai 2028.

Kendati demikian, implementasi tersebut berpotensi mundur menjadi 2030 karena kesiapan industri serta negara-negara masih beragam.

Dia memaparkan, penerapan kewajiban global tersebut nantinya akan menjadikan pemakaian SAF sebagai komponen dari syarat penerbangan internasional.

Sebagai gambaran, Suyoto menuturkan bahwa sejumlah negara telah mematok bauran SAF dalam penerbangan domestiknya.

Indonesia, kata Suyoto, bakal memakai bioavtur sekitar 5%, sementara Jepang sekitar 10%. Finlandia menjadi salah satu negara dengan tingkat pemakaian yang lebih tinggi, menggapai sekitar 30%.

Suyoto menilai Indonesia semestinya bisa menaikkan porsi tersebut lantaran mempunyai kekayaan alam serta elemen pokok yang tergolong berlimpah.

"Harusnya bisa karena untuk bicara potensial kami tuh bahan baku dan sumber daya alamnya banyak sekali. Cuman potensial bahan baku saja atau sumber daya alam saja itu nggak akan jadi produk kalau nggak dikembangkan bareng-bareng," tegasnya.

Menurutnya, penciptaan bioavtur tidak cukup cuma mengandalkan ketersediaan elemen pokok. Industri memerlukan suntikan dana, sumber daya manusia, teknologi, mesin, hingga kepastian pasar.

"Di situ perlu dana, perlu orang, teknologinya, perlu mesin-mesin, perlu pasar. Nah, itu nggak bisa terpisah-pisah. Makanya IJBNet selalu berusaha mengkolaborasikan potensi-potensi tersebut," tambah Suyoto.

Terkini