Transformasi Olahraga Golf Menjadi Lebih Inklusif dan Terjangkau

Kamis, 13 Agustus 2026 | 04:41:32 WIB
Olahraga Golf. (Foto: NET)

JAKARTA — Biaya pembelian satu set stik golf pada penghujung dasawarsa 1990-an sempat disamakan dengan uang muka KPR rumah tipe 36. Saat ini, kondisi tersebut telah mengalami perubahan total. 

Olahraga golf dianggap semakin inklusif serta mulai dikenal oleh warga dari beragam lapisan, sehingga tidak lagi eksklusif bagi kalangan elit saja.

“Kalau saya boleh bicara di akhir 90an, kalau orang mau main golf itu beli golf stick-nya sama seperti rumah KPR tipe 36. Tapi sekarang golf itu lebih murah dan lebih mudah,” ujar Senior General Manager Brand Marketing & Consumer Engagement PT MAP Aktif Adiperkasa, Martina Harianda Mutis di Lotte Shopping Avenue, Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Transformasi itu, menurutnya, menjadikan golf semakin terbuka bagi publik yang tadinya menganggap cabang olahraga ini memerlukan anggaran besar. Pendapat serupa diungkapkan oleh AVP Golf House Indonesia PT MAP Aktif Adiperkasa Ashok Kumar. 

Ia menuturkan bahwa keterbukaan golf tidak hanya terlihat dari aspek gender serta umur, melainkan juga dari semakin variatifnya latar belakang ekonomi para penggiatnya.

“Bukan cuma cowok-cewek, bukan cuma anak-anak, tapi kelas menengah C, D, E juga kayaknya sudah mulai kenal golf,” kata Ashok.

Keragaman peminat golf ini justru membuka kesempatan bagi para pelaku usaha guna menyiapkan variasi perlengkapan yang lebih banyak, khususnya bagi mereka yang baru berniat mencoba. 

Golf House, sebagai contoh, menawarkan paket alat khusus pemula dengan tarif yang lebih ekonomis, termasuk paket set golf yang telah mencakup sarana esensial seperti gloves atau sarung tangan.

“Beginner itu harusnya dia mencoba dulu, baru dia tahu kekurangannya apa. Jadi kami tidak mengusulkan kalau ada beginner langsung beli set yang harga Rp 100 juta,” ujar Ashok.

Prinsipnya sangat mendasar, pemula dianjurkan mengawali dari perangkat yang lebih sederhana terlebih dahulu. Manakala telah mempunyai jam terbang yang memadai, mereka barulah mampu mengenali bagian mana yang sesungguhnya harus ditingkatkan. 

Pendekatan ini pun didukung lewat ketersediaan barang dari bermacam-macam merek beserta tingkat harga.

“Dari brand A yang memang sekian harganya sampai ke C. Jadi itu yang kami berikan kepada kami supaya pilihan sesuai dengan kantong,” katanya.

Di samping paket khusus pemula, Golf House turut mengandalkan skema tukar tambah atau trade in agar piranti golf dapat diakses dengan lebih mudah. Uniknya, perangkat lama yang diserahkan tidak harus berada dalam kondisi prima guna memperoleh potongan harga khusus.

“Walaupun patah, bekas, kami kasih special discount. Tujuannya adalah untuk menarik mereka untuk start,” jelas Ashok.

Langkah ini menyasar calon partisipan yang sebenarnya sudah lama berniat menjajal golf, tetapi masih terkendala bujet perlengkapan.

“Kadang-kadang ada yang di kelas B, C, D tadi, ‘Saya tuh pengen golf, cuma mungkin agak terlalu mahal’. Makanya kami memberikan pilihan,” katanya.

Di luar metode trade in, sejumlah agenda diskon lain pun dipersiapkan guna menopang kenaikan jumlah pemain, salah satunya program buy one get one free yang bakal diselenggarakan dalam waktu dekat. Golf House juga menyediakan zona bazar yang memuat barang dari inventaris tahun lalu dengan banderol yang lebih miring.

“Kalau bagi beginner tidak jadi masalah, yang penting bisa dipakai dulu,” tutur Ashok.

Baginya, peningkatan jumlah partisipan menjadi aspek krusial bagi industri golf. Pasalnya, semakin banyak individu yang mengenal dan memainkan golf, semakin luas pula pasar yang dapat tumbuh. 

Di sisi lain, situasi finansial turut menjadi ujian bagi sektor perlengkapan golf. Masyarakat cenderung bertindak lebih selektif dalam memilih komoditas yang hendak dibeli. Guna menghadapi situasi tersebut, Golf House memilih untuk memahami keperluan konsumen sebelum mendorong mereka memborong produk anyar. 

Pengalaman selama puluhan tahun di bidang ini membuat pihaknya mampu membedakan antara barang yang benar-benar diperlukan konsumen dan komoditas yang sekadar diinginkan.

“Ada kelas yang namanya ‘I want’, saya maunya ini. Ada kelas yang ‘I need’,” katanya.

Di dalam olahraga golf, sejumlah piranti masuk kategori kebutuhan karena wajib dipakai serta diganti secara berkala. Bola golf, sebagai contoh, menjadi salah satu sarana yang bakal terus dicari selama seseorang aktif bermain. 

Hal serupa berlaku pada gloves yang mempunyai batas waktu pemakaian dan harus diganti apabila sudah tidak layak pakai. Sementara itu, pergantian stik atau golf club cenderung masuk kelompok barang yang bersifat keinginan.

“Kalau saya golfer, saya perlu beli bola itu harus. Gloves itu keharusan. Tapi apakah saya mau ganti golf stick, saya tunggu dulu,” ucap Ashok.

Ia mengibaratkan, bola yang serupa dapat dijumpai pada cabang olahraga lain seperti tenis. Atlet barangkali tidak mesti langsung mengganti raket, namun bola, senar, serta grip wajib diperbarui agar kegiatan bermain tetap berlangsung. 

Karenanya, strategi Golf House di tengah situasi finansial saat ini lebih difokuskan pada pemenuhan keperluan utama pemain.

“Untuk pada saat begini yang kami fokuskan adalah ‘what I need’,” ujarnya.

Metode tersebut sekaligus memperlihatkan bahwasanya kemajuan golf tidak semata-mata bergantung pada penjualan produk premium. 

Dengan menghadirkan komoditas sesuai keperluan, rentang harga yang lebih luas, serta program seperti trade in maupun diskon, golf diharapkan bisa semakin gampang dicoba oleh masyarakat yang mulanya menganggap cabang olahraga tersebut berada di luar jangkauan. 

Semakin kecil hambatan bagi pemula untuk memulai, semakin tinggi pula potensi golf bertransformasi menjadi olahraga yang dinikmati oleh publik dari berbagai kalangan.

Terkini