Fokus Sektor Strategis, Danantara Jalankan 13 Proyek Hilirisasi

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:56:01 WIB
CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani. (Foto: NET)

JAKARTA - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tengah menggarap 13 proyek hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai sekitar Rp225 triliun. 

Proyek tersebut mencakup sejumlah sektor strategis, mulai dari mineral dan energi hingga pertanian, pangan, serta komoditas perkebunan. 

CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyatakan, pengembangan proyek hilirisasi tersebut dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama mencakup enam proyek yang tersebar di 13 daerah, sedangkan tahap kedua menambahkan 13 proyek lainnya.

“Kalau yang menyangkut di Danantara, kami sudah melakukan kurang lebih ada 13 di dalam dua tahap. Yang pertama di tahap pertama ada 6 proyek di 13 daerah, tahap kedua di 13 proyek tambahan sehingga total yang kami lakukan investasinya adalah Rp225 triliun,” ujar Rosan dalam Konferensi Pers Nota Keuangan dan RAPBN 2027 di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Rosan memaparkan, proyek-proyek tersebut mencakup beragam sektor hilirisasi. Danantara pun melakukan pemantauan terhadap perkembangan setiap proyek lewat dashboard yang diperbarui tiap hari demi melihat progres investasi maupun pembangunan.

Sektor mineral menjadi salah satu fokus utama dalam portofolio hilirisasi Danantara. Sejumlah proyek yang masuk dalam daftar antara lain pengolahan alumina menjadi aluminium serta pengolahan bauksit menjadi smelter-grade alumina di Mempawah, Kalimantan Barat. 

Danantara pun mengembangkan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Di sektor nikel, terdapat proyek produksi stainless steel di Morowali, Sulawesi Tengah, serta pengembangan produksi carbon steel slab berbahan baku nikel. 

Proyek mineral lainnya mencakup produksi carbon steel slab dari bijih besi lokal di Cilegon, Banten. Selain itu, terdapat pengembangan fasilitas produksi aspal Buton di Karawang, Jawa Barat, serta proyek hilirisasi tembaga dan emas di Gresik, Jawa Timur.

Tidak hanya mineral, Danantara juga mengembangkan proyek hilirisasi di sektor energi. Salah satunya adalah produksi bioavtur berbahan baku used cooking oil (UCO) yang berlokasi di Cilacap, Jawa Tengah. Proyek lainnya adalah pengembangan bioethanol di Banyuwangi, Jawa Timur.

Dalam paparan Rosan, tercantum pula pembangunan fasilitas kilang gasoline di Dumai dan Cilacap. Danantara pun memasukkan proyek produksi tangki penyimpanan bahan bakar di sejumlah wilayah, termasuk Palembang, Balikpapan, dan Mamuju.

Hilirisasi Danantara turut menyasar sektor pertanian dan pangan. Salah satu proyek yang dikembangkan adalah integrated poultry business yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Di samping itu, terdapat proyek pengolahan industri garam yang mencakup wilayah Sampang, Madura, dan Balikpapan. 

Danantara juga mendorong hilirisasi komoditas perkebunan. Salah satunya berupa pengolahan minyak kelapa sawit menjadi oleokimia dan biodiesel di Sei Mangkei, Sumatera Utara. Proyek lainnya mencakup pengolahan pala menjadi oleoresin serta integrated coconut downstream processing yang berlokasi di Maluku Tengah.

Di sisi lain, Rosan menyebut sektor hilirisasi secara keseluruhan memberikan kontribusi sekitar 22,1% terhadap realisasi investasi nasional. Pada semester pertama 2026, realisasi investasi hilirisasi tercatat mencapai Rp181,4 triliun atau tumbuh 10,2% secara tahunan. 

Kendati demikian, investasi hilirisasi masih didominasi oleh sektor mineral. Nilainya mencapai sekitar Rp121 triliun. Pemerintah kini mendorong agar pengembangan hilirisasi diperluas ke sektor perkebunan, kehutanan, serta minyak dan gas bumi. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperluas dampak ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.

Rosan menilai proyek hilirisasi berbasis perkebunan dan kehutanan mempunyai potensi menyerap lebih banyak tenaga kerja dibandingkan proyek hilirisasi mineral, sekalipun nilai investasi yang ditanamkan cenderung lebih kecil.

“Kami mendorong juga tentunya hilirisasi di perkebunan, kehutanan, minyak dan gas bumi. Karena dari segi penyerapan tenaga kerja, memang kalau investasi di hilirisasi di bidang kehutanan, di perkebunan itu penyerapan tenaga kerjanya lebih besar walaupun dari segi nominalnya di bawah angka dari investasi di bidang mineral,” jelas Rosan.

Terkini