Menguat ke Level Ini, Simak Prediksi Pergerakan Rupiah Pekan Depan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:52:31 WIB
Nilai tukar rupiah. (Foto: NET)

JAKARTA - Rupiah mengakhiri pekan ini dengan mencatatkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Peluang apresiasi terbuka lebar pada pekan depan, walau pasar terus menghadapi berbagai risiko dari dinamika kebijakan The Federal Reserve (The Fed) beserta faktor geopolitik.

Berdasarkan catatan Bloomberg pada Jumat (14/8/2026), nilai tukar rupiah di pasar spot melesat Rp 50 atau 0,28% dalam sehari menjadi Rp 17.827 per dolar AS. Selama sepekan, kurs rupiah spot menanjak 0,39% dari posisi sebelumnya di angka Rp 17.897 per dolar AS. 

Sejalan dengan itu, kurs rupiah Jisdor hari ini menanjak Rp 46 atau 0,26% secara harian ke level Rp 17.836 per dolar AS. Dalam rentang sepekan, kurs rupiah Jisdor mendaki 0,43% dari posisi Rp 17.913 per dolar AS.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan menyatakan bahwa apresiasi rupiah sepanjang pekan ini utamanya didukung oleh meredanya perkiraan kenaikan suku bunga The Fed pada September. 

Menurut pandangannya, data consumer price index (CPI) AS bulan Juli berada dalam kondisi yang relatif terkendali. Di samping itu, producer price index (PPI) AS tercatat stabil tanpa mengalami kenaikan secara bulanan.

"Setelah data tersebut, pasar memangkas probabilitas kenaikan suku bunga September menjadi sekitar 35%, dari sekitar 55% pada pekan sebelumnya. Kondisi ini ikut menahan dolar, dengan DXY berada di sekitar area 99-100, sehingga memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat," ujar Brahmantya kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).

Sementara itu dari ranah domestik, langkah kebijakan Bank Indonesia (BI) turut berperan sebagai penyangga bagi rupiah. BI memilih mempertahankan suku bunga acuan pada posisi 5,75% di bulan Juli seusai sebelumnya menaikkan suku bunga secara agresif. 

Tidak hanya itu, BI bersama pemerintah senantiasa berupaya menjaga daya tarik imbal hasil aset rupiah guna mempertahankan arus masuk modal asing.

Kendati demikian, Brahmantya memandang bahwa penguatan rupiah saat ini masih tergolong rentan. Salah satu ancaman bersumber dari lonjakan harga minyak akibat ketidakpastian hubungan antara AS dan Iran.

"Indonesia merupakan net importer minyak. Jika harga energi kembali melonjak, tekanan terhadap neraca perdagangan, inflasi, dan kebutuhan dolar domestik bisa meningkat," jelasnya.

Menyongsong perdagangan pekan depan, Brahmantya memproyeksikan rupiah cenderung bergerak sideways disertai bias penguatan yang terbatas. 

Prospek tersebut berpotensi bertahan manakala ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed terus merosot dan indeks dolar AS (DXY) sanggup bertahan di bawah kisaran 100-101.

Kendati demikian, para pelaku pasar tetap wajib mewaspadai dua potensi risiko utama. Pertama, perkembangan konflik antara AS dan Iran beserta situasi di Selat Hormuz.

Ketidakpastian di wilayah tersebut berisiko memicu kembali kenaikan harga minyak, di mana harga minyak Brent berpotensi mendekati US$90 per barel atau bahkan melampauinya.

Ancaman kedua bersangkut paut dengan pergeseran ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed. Walaupun data inflasi AS pada pekan ini tergolong cukup baik, tingkat inflasi AS posisinya masih berada di atas target. 

Apabila data ekonomi berikutnya kembali menunjukkan indikasi penguatan ataupun harga energi mengalami lonjakan drastis, perkiraan kenaikan suku bunga bisa kembali terdongkrak dan memicu kebangkitan dolar AS.

Di sisi lain dari ranah domestik, pasar akan terus mengawasi arah kebijakan BI serta perkembangan arus modal asing. Menurut pandangan Brahmantya, sepanjang BI konsisten menjaga stabilitas nilai tukar serta tidak terjadi pelarian modal dalam skala besar, rupiah tetap mempunyai kesempatan mempertahankan tren penguatannya.

Dengan memperhitungkan berbagai variabel tersebut, Brahmantya memprediksikan rupiah bakal berfluktuasi dalam rentang Rp 17.700 sampai Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan pekan depan.

Terkini