Menteri ESDM Bahlil Segera Buka Tender PLTS Tahap Pertama 30 GW

Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:16:02 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengutarakan bakal lekas membuka tender program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW), dengan tahap pertama sejumlah 30 GW.

“Tahun ini, kami akan mulai masuk tahap pertama pembangunan 30 GW. Dengan Pak Dirut PLN (Darmawan Prasodjo), kami sudah bahas. Tendernya kami akan mulai lakukan,” ujar Bahlil dalam acara The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Bahlil mengutarakan di dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, sekira 70–75 persen kapasitas bakal berasal dari Energi Baru Terbarukan (EBT) dan sistem penyimpanan energi semacam baterai serta pumped storage.

Sebagai wujud keseriusan pemerintah, sambung dia, Presiden Prabowo Subianto mengutarakan bahwa pihak pemerintah bakal mendorong pembangunan PLTS 100 GW guna beberapa tahun ke depan.

“Bauran energi baru terbarukan akan kami tetap lakukan,” ujar Bahlil.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan pihak pemerintah bakal membangun PLTS berkapasitas 30 gigawatt (GW) serta menyetop pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sebesar 13 GW pada tahun 2026.

Presiden menyatakan Indonesia mempunyai potensi energi surya yang masif lantaran memperoleh pancaran sinar matahari hampir sepanjang tahun. Situasi tersebut dipandang mampu dimanfaatkan guna menyediakan pasokan listrik, khususnya di daerah-daerah terpencil.

Prabowo menyatakan pemanfaatan PLTS pun sanggup memperkokoh kemandirian energi nasional oleh karena memangkas keperluan terhadap bahan bakar minyak untuk pembangkit tenaga listrik.

Pemerintah mematok target pembangunan PLTS secara bertahap hingga menggapai kapasitas 100 GW.

Merujuk pada kalkulasi Kementerian Koordinator Perekonomian, kapasitas tersebut berpotensi menekan biaya pokok produksi listrik hingga mencapai Rp73,9 triliun per tahun.

Di samping itu, pemanfaatan energi surya pada skala besar pun diproyeksikan sanggup mereduksi kebutuhan impor bahan bakar minyak serta menghemat cadangan devisa negara.

Terkini