Menhan Dorong Kemandirian MRO Pesawat TNI AU Lewat Modernisasi Hercules

Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:26:32 WIB
Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin. (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin mendorong peningkatan kemampuan industri pertahanan serta kedirgantaraan nasional guna mendukung pemeliharaan armada angkut TNI Angkatan Udara (TNI AU). 

Berdasarkan keterangan Sjafrie, pembaharuan pesawat C-130 Hercules yang sekarang sanggup dikerjakan di dalam negeri menjadi salah satu cara memperkuat kemandirian Republik Indonesia dalam perawatan alat utama sistem persenjataan (alutsista). 

Dirinya menuturkan, proses pembaharuan C-130 Hercules yang dikerjakan PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) menjadi salah satu tonggak krusial sebab sebelumnya Indonesia masih memperoleh sokongan dari Lockheed Martin.

"Hari ini adalah satu garis awal bahwa modernisasi pesawat transport yang dimiliki oleh TNI Angkatan Udara C-130 merupakan tahun yang pertama kami angkat bahwa kami sudah berdiri di atas kaki kami sendiri di dalam modernisasi alat angkut transportasi yang dimiliki oleh TNI AU," ujar Sjafrie dalam acara serah terima modernisasi C-130 Hercules A-1319 di Tangerang, Rabu (19/8/2026).

Sjafrie mengutarakan, kecakapan tersebut tidak cuma mencakup sisi teknis, melainkan pula pengawakan beserta sokongan perlengkapan serta material. Menurut dirinya, penguatan kapabilitas industri domestik bakal menjadi bagian dari rancangan pemerintah dalam mendirikan daya tahan pertahanan negara. 

Dirinya menyambungkan, pemerintah berkehendak pemeliharaan pesawat angkut TNI AU ke depan semakin banyak dikerjakan oleh tenaga teknis lokal yang telah disiapkan.

"Pemeliharaan pesawat transportasi milik angkatan udara tidak hanya C-130, tapi juga kepada pesawat transport yang dimiliki oleh TNI Angkatan Udara yang lain itu akan dipelihara oleh negara kami sendiri dan menggunakan tenaga teknis dari putra-putra bangsa yang sudah kami persiapkan," jelasnya.

Di dalam pengembangan industri kedirgantaraan nasional, Sjafrie turut mengutarakan peran PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bakal semakin dimantapkan. Dirinya menuturkan, pada tahun mendatang pihak pemerintah bakal memantau hasil pembaharuan pesawat angkut yang dikerjakan oleh PTDI.

"Kalau hari ini kami lihat di Garuda melalui GMF, tapi nanti tahun depan kami akan melakukan suatu peluncuran dari hasil modernisasi PTDI," ungkap Sjafrie.

Di samping memantapkan kapabilitas MRO (maintenance, repair and overhaul) domestik, Kemenhan pun merancang pemanfaatan aset negara guna menopang keperluan perawatan serta penyimpanan armada TNI AU. 

Sjafrie mengutarakan, kekayaan negara yang diamanahkan kepada Kemenhan di Kertajati, Jawa Barat, bakal dioptimalkan guna menopang kegiatan perawatan sekaligus berperan sebagai pangkalan penyimpanan pesawat.

"Nanti kami gunakan untuk kepentingan pemeliharaan, kemudian juga kami gunakan untuk sebagai pangkalan penyimpanan pesawat, baik itu transport maupun pesawat tempur," katanya.

Langkah tersebut dirancang seiring bersama rencana penambahan jumlah armada TNI AU. Berdasarkan keterangan Sjafrie, Indonesia ke depan bakal mempunyai kuantitas pesawat angkut dan juga pesawat tempur yang lebih banyak sehingga keperluan fasilitas perawatan dan penyimpanan pun bakal bertambah.

"Karena ke depan kami akan mendapatkan jumlah pesawat transportasi dan juga pesawat tempur yang lebih besar," ujar dia.

Sjafrie memandang penguatan ekosistem industri pertahanan dan kedirgantaraan lokal menjadi bagian dari taktik makro pembangunan kekuatan pertahanan. 

Sinergi antara Kemenhan, TNI AU, GMF, PTDI, serta pihak industri terkait bakal terus didorong guna mengatrol kemampuan nasional di dalam menopang keperluan alutsista. 

Menurutnya, langkah tersebut dinilai mampu membuat Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna alutsista, melainkan pula semakin cakap melaksanakan perawatan serta modernisasi armada secara mandiri di dalam negeri.

Terkini