Pembangunan Extended Concourse MRT Bundaran HI Kejar Target 2027

Senin, 24 Agustus 2026 | 22:43:02 WIB
Direktur Utama ITJ Yulham Ferdiansyah Roestam. (Foto: NET)

JAKARTA - Perluasan jalur MRT Jakarta sampai ke wilayah Kota menciptakan kebutuhan anyar pada Stasiun Bundaran HI yang diestimasikan bakal menerima tambahan lebih dari 6.000 komuter. 

Pemprov DKI Jakarta lewat PT MRT Jakarta (Perseroda) serta PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ) merancang extended concourse demi menyambut lonjakan tersebut sekaligus mengoptimalkan keterpaduan mobilitas antara MRT, gedung niaga, pejalan kaki, serta area sekitarnya.

Direktur Utama ITJ Yulham Ferdiansyah Roestam menyampaikan bahwa lonjakan pengguna itu bakal menuntut Stasiun MRT Bundaran HI untuk melayani trafik hingga kisaran 17.000 jiwa tiap harinya.

“Diproyeksikan akan ada pertumbuhan lebih dari 6.000 penumpang di satu stasiun. Existing sekarang 11.000 penumpang di satu stasiun. Artinya harus mengelola 17.000 orang,” ujarnya di Kantor MRT, dikutip pada Senin (24/8/2026).

Kebutuhan tersebut menjadi salah satu fondasi pendirian extended concourse seluas 4.439 meter persegi persis di bawah anjungan Transjakarta Bundaran HI Astra. Kelak, area ini bakal terhubung dengan Wisma Nusantara dan Plaza Indonesia, serta difungsikan sebagai zona multiguna yang mewadahi kegiatan komersial, kuliner (F&B), hingga gaya hidup.

Layaknya pusat perbelanjaan mini di bawah tanah, extended concourse mempunyai kegunaan yang lebih luas daripada sekadar koridor peralihan menuju gerbong MRT. Fasilitas tersebut diarahkan guna memperkokoh konektivitas di samping merumuskan nilai tambah dari segi mobilitas serta dinamika kawasan.

“Tujuannya ada empat, extended concourse ini harus mampu kasih penciptaan nilai, value added dari mobilitas, akses, aktivitas, dan value atas kawasan tersebut,” tuturnya.

Keterpaduan itu turut menjadi bagian dari strategi meredam kemacetan. Penambahan akses masuk dirancang agar sanggup menghindari penumpukan (bottlenecking) pada pergerakan pejalan kaki tatkala volume pengguna melambung.

Peningkatan mobilitas bawah tanah ini tetap membawa implikasi terhadap penataan wilayah di atas permukaan tanah. Ferdian mengutarakan bahwa ITJ sedang menyelaraskan titik pemberhentian armada daring agar aktivitas penjemputan tidak memicu kemacetan baru. 

Maklum saja, menilik realitas aktivitas mutakhir di tiap pintu keluar-masuk stasiun, termasuk Stasiun MRT Bundaran HI, barisan pengemudi ojek online (ojol) kerap memadati bahu jalan pada jam-jam padat.

“Koordinasi untuk mengkonsentrasikan ini sedang dilakukan. Di mana ada titik-titik stopping by untuk kendaraan online yang harus dikonsentrasikan juga di situ,” katanya.

Ferdian menerangkan bahwa pihak manajemen masih berupaya menghadirkan titik khusus bagi pengemudi ojol. Kendati demikian, penentuan titik ordinat tersebut masih dikoordinasikan bersama Dinas Perhubungan serta para pengelola gedung di sekitar kawasan.

Bersamaan dengan itu, jalur pedestrian bakal diperlebar guna merespons dampak pembangunan muara pada sisi Timur serta Barat. Koordinasi bersama pemilik gedung telah dijalankan demi menopang pelebaran jalur pejalan kaki tersebut.

Memasuki Juli 2026, konstruksi koridor mobilitas bawah tanah ini telah menyentuh angka 21,46% dan dipatok mencapai 45% menjelang tutup tahun. Harapannya, extended concourse bisa rampung pada Mei 2027 dan langsung difungsikan Juni 2027, bertepatan dengan momentum perayaan 500 tahun Jakarta.

Pengamat Tata Kota sekaligus Akademisi Universitas Indonesia Muh. Azis Muslim berpendapat bahwa realisasi extended concourse memperlihatkan pergeseran paradigma dalam pengelolaan infrastruktur perkotaan. 

Sinergi antara sarana transportasi publik, area komersial, serta fasilitas pejalan kaki sanggup membuat mobilitas publik yang mulanya berpusat di permukaan tanah kini terhubung lewat ruang bawah tanah.

Menurut pandangannya, konsep tersebut berdaya dorong kuat untuk mengoptimalkan konsep TOD di Jakarta yang selama ini dominan beroperasi di atas permukaan via trotoar maupun jembatan penyeberangan orang.

“Konektivitas tersebut berpotensi membentuk pusat keramaian baru sekaligus mengurangi beban aktivitas di permukaan,” ujarnya.

Perpindahan warga dari zona yang terintegrasi itu bisa berlangsung dengan lebih aman serta nyaman karena terlindung dari terik matahari, curah hujan, maupun polusi udara Jakarta. 

Kendati demikian, Azis menggarisbawahi bahwa aspek keselamatan serta kenyamanan wajib diprioritaskan mengingat extended concourse adalah ruang publik anyar yang memiliki karakteristik berbeda dari fasilitas eksisting perkotaan. 

Berbagai potensi risiko seperti ancaman banjir juga patut diantisipasi di dalam tata kelola ruang bawah tanah tersebut. Di sisi lain, kawasan itu perlu senantiasa bersifat inklusif serta dapat dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat.

Dari aspek penataan aktivitas, pihak MRT Jakarta merancang mekanisme khusus guna mengantisipasi kepadatan di zona komersial. Departement Head Commercial MRT Jakarta Ricky Agung Kresna Putra menjamin bahwa antrean bakal ditata sedemikian rupa agar tidak menghalangi kelancaran arus lalu-lalang orang.

“Kami bikinkan queue-line kalau misalnya nanti betul-betul yang di sana sudah penuh gitu. Tentu kami akan pindahkan ke tempat lain untuk antre-nya yang memang tidak mengganggu orang-orang lalu-lalang,” ujarnya.

Pengaturan itu pun bakal diterapkan sejak jauh hari sebelum suatu kegiatan ataupun event diselenggarakan. MRT Jakarta siap berkoordinasi guna merumuskan langkah mitigasi seandainya terjadi lonjakan pengunjung.

Ricky menyampaikan bahwa arah konsep komersial extended concourse dirancang agar para pengunjung tidak sekadar datang untuk membeli makanan lantas pergi begitu saja. Pihak MRT Jakarta berambisi merintis ekosistem yang betah membuat masyarakat singgah lebih lama melalui paduan retail, fesyen, ragam servis, serta gaya hidup.

“Kami inginnya, pada saat orang datang, mereka nggak kayak cuma grab and go lagi, bahwa mereka stay,” katanya.

Formula tersebut menjadikan extended concourse berorientasi sebagai destinasi (destination-oriented) sekaligus mempertahankan identitas utamanya sebagai bagian integral dari stasiun MRT. 

Kurasi tenant turut dijalankan agar mampu menyajikan nuansa berbeda apabila dikomparasikan dengan pusat perbelanjaan yang telah berdiri di sekitar Bundaran HI.

Dalam kerangka eskalasi mobilitas lewat hadirnya integrasi baru, peluang komersial dipastikan bakal bermunculan. 

Dari sudut pandang ekonomis, Yusuf Rendy Manilet selaku perwakilan Core Indonesia menilai bahwa keterhubungan langsung dengan Plaza Indonesia, Grand Hyatt, Wisma Nusantara, serta Pullman bakal mendongkrak captive market di zona tersebut.

Arus komuter yang menanjak berpotensi memicu pengunjung menetap lebih lama guna bersantap, berbelanja, merajut relasi, ataupun memanfaatkan fasilitas lain. 

Berdasarkan analisis Yusuf, kondisi itu diyakini mampu mendongkrak produktivitas kawasan karena interaksi, transaksi, serta roda bisnis berjalan dengan lebih efisien. Pemasukan dari sektor sewa ruang ritel dan iklan juga berpeluang menjelma sebagai sumber pendapatan non-tiket (non-fare revenue).

Aktivitas perniagaan di sana tetap harus memelihara fungsi krusial stasiun sebagai simpul transit. 

Pengendalian kepadatan, sirkulasi penumpang, sistem ventilasi, jalur evakuasi, serta keterpaduan bersama Transjakarta maupun moda lanjutan (last mile) merupakan komponen penentu agar penumpukan tidak sekadar bergeser dari bawah tanah menuju ke badan jalan.

Yusuf turut menekankan urgensi pemerataan faedah ekonomi. Alokasi ruang bagi pelaku UMKM dinilai krusial untuk dipersiapkan secara matang, didukung skema tarif sewa yang kompetitif, serta pendampingan intensif agar para pengusaha skala kecil sanggup memanfaatkan tingginya trafik pengunjung.

“Ruang ritel di extended concourse bisa menjadi jalan bagi UMKM untuk naik kelas, tetapi syaratnya harus jelas,” katanya.

Yusuf menaruh harapan besar agar pusat keramaian baru ini sanggup mengemban fungsi yang lebih luas daripada sekadar penyediaan ruang tambahan bagi pengguna jasa MRT. 

Infrastruktur tersebut diharapkan menjelma sebagai langkah strategis dalam merajut mobilitas serta aktivitas kawasan via ruang bawah tanah, sekaligus menguji kapabilitas pengelola dalam merawat titik keseimbangan antara kelancaran transit, geliat komersial, serta kelayakan arus mobilitas di permukaan jalan.

Terkini