Rupiah Melemah ke Rp17.744/USD Tertekan Dolar dan Demo di Jakarta

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:56:02 WIB
Nilai tukar rupiah. (Foto: NET)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam sesi perdagangan hari Kamis (27/8/2026). Penguatan pada indeks dolar AS serta adanya aksi demonstrasi berskala besar menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang Garuda sepanjang hari ini.

Berdasarkan laporan data analisis dari Doo Financial Futures, rupiah parkir di level Rp17.744 per dolar AS, yang menandai koreksi melemah sebesar 19 poin atau setara 0,11% apabila dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya.

Tekanan yang mendera nilai tukar rupiah ini bergerak seirama dengan beberapa mata uang regional Asia lain. Tercatat, peso Filipina menduduki posisi terdalam dengan penurunan 0,34%, menyusul rupee India sebesar 0,13%, serta rupiah di angka 0,11%. Koreksi yang lebih ringan dialami oleh yen Jepang dengan besaran 0,03%.

Di sisi sebaliknya, dolar Taiwan keluar sebagai mata uang Asia yang menorehkan apresiasi tertinggi terhadap dolar AS yakni 0,40%, disusul won Korea Selatan yang menguat 0,36%. 

Penguatan lanjutan juga dicatatkan oleh dolar Singapura sebesar 0,10%, yuan China 0,03%, baht Thailand 0,02%, hingga dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,01% terhadap dolar AS.

Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengemukakan proyeksi bahwa mata uang Garuda terus berada dalam tekanan jual sepanjang perdagangan hari ini seiring laju penguatan dolar AS. Situasi tersebut dipicu oleh rentetan data makroekonomi AS yang memancarkan sinyal ketahanan jauh di atas ekspektasi awal.

Data teranyar menunjukkan bahwa pemesanan barang tahan lama di AS pada Juli 2026 berhasil tumbuh 1,1%, melampaui perkiraan konsensus di level 0,5%. Pada saat bersamaan, tingkat inflasi PCE tetap bertahan tinggi pada kisaran 3,7% secara tahunan, sementara inflasi inti PCE terjaga di posisi 3,3%.

Sementara itu dari ranah domestik, imbuhnya, sentimen terhadap rupiah terpantau belum pulih secara total. Gelombang aksi demonstrasi besar di Jakarta pada Kamis (27/8/2026) turut menjadi sorotan krusial para investor lantaran berpotensi memicu ketidakpastian tambahan serta mendorong pelaku pasar mengambil langkah yang lebih berhati-hati (defensif).

"Perhatian investor selanjutnya akan beralih ke pidato perdana Ketua The Fed Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026). Pernyataan Warsh menjadi penting karena kami mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed menjelang pertemuan September. 

Dengan kombinasi penguatan dolar AS, sentimen domestik yang masih rapuh, serta penantian pidato Warsh, rupiah diperkirakan bergerak volatil. Rupiah diproyeksikan berada dalam rentang Rp17.700–Rp17.800 per dolar AS pada perdagangan berikutnya Jumat (28/8/2026)."

Terkini