Beasiswa Satu Semester bagi Mahasiswa Terdampak Gempa NTT

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 21:27:32 WIB
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto. (Foto: NET)

JAKARTA — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menyiapkan program bantuan biaya pendidikan bagi sekitar 4.000 sampai 5.000 jiwa mahasiswa yang tertimpa musibah bencana gempa bumi di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkapkan bahwa alokasi bantuan gelombang pertama ini diberikan selama jangka waktu satu semester guna meringankan beban finansial mahasiswa terdampak.

Brian menjelaskan bahwa pihak pemerintah telah menjalankan proses pendataan secara terpadu bersama Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) serta para pemimpin perguruan tinggi setempat.

"Kemarin kami sudah datang ke Maumere, Manggarai, kami sedang meminta didata ya. Jadi kami sudah kerja sama dengan LLDikti dengan rektor, jadi kami akan memberikan beasiswa untuk kali pertama ini kami berikan satu semester untuk mengurangi beban mereka," kata Brian usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto menerima Presiden Timor Leste José Ramos-Horta di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Berdasarkan laporan catatan awal, jumlah korban dari kalangan mahasiswa yang terdampak diperkirakan mencapai kisaran 4.000 hingga 5.000 orang. Angka penerima manfaat tersebut masih terbuka untuk bertambah jika hasil verifikasi data lanjutan menunjukkan skala kerusakan dan korban yang lebih masif.

"Jadi tahap pertama kemarin data sudah ada sekitar 4.000-5.000 yang terdampak ya, itu akan kami berikan beasiswa. Kalau nanti ternyata jumlahnya lebih kami akan tambahkan," ujarnya.

Lebih lanjut, Brian menerangkan bahwa kebijakan penyaluran beasiswa ini belum langsung diputuskan untuk jangka waktu panjang. Pemerintah akan meninjau ulang perkembangan situasi dan kondisi para mahasiswa setelah masa bantuan satu semester tersebut rampung.

"Kami akan lihat pertama untuk satu semester dulu ya. Nanti kalau memang dampaknya masih berkelanjutan kami akan tambah lagi di tahun depan di semester yang berbeda," katanya.

Anggaran Perguruan Tinggi Terdampak Dialihkan

Di samping menyalurkan dukungan langsung kepada peserta didik, pihak Kemendiktisaintek juga tengah mendata tingkat kerusakan fisik fasilitas ruang belajar perguruan tinggi di zona bencana NTT. 

Brian menyebutkan bahwa pemerintah siap mengkaji ketersediaan anggaran serta program berjalan demi mengalihkan dana guna memulihkan sarana kampus yang rusak.

"Yang kedua juga kami sedang mendata beberapa kerusakan-kerusakan dari kampus-kampus yang ada, perguruan tinggi yang ada di daerah bencana," ujarnya.

"Kami akan lihat kemungkinannya anggaran dan program yang masih berjalan kami akan alihkan ke bantuan untuk pembangunan atau perbaikan fasilitas-fasilitas yang terdampak karena bencana di NTT," lanjut Brian.

Pelibatan Mahasiswa dalam Pemulihan Lewat KKN Tematik

Pada aspek lain, Kemendiktisaintek turut menggerakkan peran aktif mahasiswa untuk terjun langsung membantu pemulihan daerah lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik. 

Sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari kampus wilayah bencana dilaporkan telah menjalin komunikasi dengan organisasi mahasiswa di Pulau Jawa guna mengidentifikasi kebutuhan riil masyarakat.

"Kami juga akan mengirimkan mahasiswa-mahasiswa yang kebetulan kami ada program KKN tematik ya, mahasiswa berdampak," katanya.

Beberapa institusi pendidikan tinggi yang mahasiswanya terlibat dalam koordinasi tersebut mencakup Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, Universitas Nusa Cendana (Undana), Politeknik El Bajo Commodus, hingga Universitas Mataram (Unram). 

Para perwakilan mahasiswa ini telah berdiskusi bersama aliansi BEM asal Pulau Jawa demi merumuskan langkah penanganan yang tepat sasaran.

"Jadi kemarin beberapa BEM dari daerah terdampak gempa, ada Universitas Kristen Indonesia Ruteng, Santo Paulus Ruteng, ada Undana, ada Elbajo, Politeknik Bajo, kemudian ada Unram juga, mereka bertemu dengan teman-teman yang BEM yang ada di Jawa," ujarnya.

Melalui sinergi tersebut, para mahasiswa dapat merancang program bantuan yang benar-benar relevan dengan urgensi situasi di lapangan.

"Nah itu sekarang teman-teman mahasiswa kami menyusun program untuk memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan yang riil yang diketahui oleh tadi yang mahasiswa sudah mendata kebutuhan-kebutuhan yang urgen dibantu di daerah NTT yang terdampak bencana," pungkas Brian.

Terkini