Terdampak Asap Karhutla, Kemenhut Evakuasi Orangutan Lemah di Kalbar

Senin, 31 Agustus 2026 | 18:52:39 WIB
Kondisi orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) dalalm kondisi lemah diduga karena paparan asab kebakaran lahan di Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memindahkan satu individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) yang ditemukan terkulai lemah diduga akibat menghirup asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di dekat area perkebunan sawit warga Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Dalam siaran pers resmi Kemenhut yang diterima di Jakarta, Senin, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane mengutarakan bahwa insiden kebakaran di kawasan habitat dan ruang jelajah satwa perlu diwaspadai karena berisiko memengaruhi pergerakan serta kesehatan satwa liar.

"Kebakaran tidak hanya berdampak terhadap tutupan lahan, tetapi juga berpotensi memberikan tekanan terhadap satwa liar yang berada di sekitarnya. Karena itu, pemantauan terhadap pergerakan satwa di wilayah terdampak juga penting dilakukan. Kami mengapresiasi laporan masyarakat dan kerja sama seluruh pihak sehingga orangutan ini dapat segera mendapatkan pertolongan," kata Murlan.

Ia membeberkan bahwa proses evakuasi dilakukan BKSDA Kalimantan Barat berkolaborasi dengan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) terhadap satu individu orangutan jantan dewasa yang tergeletak tidak berdaya di kebun sawit warga Dusun 1 Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang pada Minggu (30/8).

Petugas Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi KSDA Wilayah I BKSDA Kalimantan Barat mendapatkan informasi terkait keberadaan orangutan tersebut pada pukul 07.27 WIB. Merespons laporan itu, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI langsung menerjunkan tim guna melakukan penanganan pertolongan.

Orangutan itu sejatinya telah terpantau oleh tim Orangutan Protection Unit (OPU) YIARI pada 16 Agustus 2026 di sekitar lokasi penyelamatan, namun kala itu perilakunya masih bergerak aktif. Ketika kembali ditemukan pada Minggu pagi, orangutan sudah berada dalam kondisi tak berdaya di kawasan kebun sawit warga.

Kira-kira pukul 09.13 WIB, tim mengeksekusi tindakan pembiusan secara terukur supaya pemeriksaan dan proses evakuasi berlangsung aman. Dokter hewan YIARI kemudian menjalankan pemeriksaan medis awal sekaligus memberi tindakan darurat berupa pemberian oksigen serta suplai cairan lewat infus.

Tim medis turut mengambil sampel darah, feses, dan bulu untuk kepentingan analisis pemeriksaan lanjutan. Di samping itu, dipasang pula microchip sebagai sarana identifikasi serta pemantauan individu satwa tersebut.

Sewaktu proses penyelamatan berlangsung, area hutan di dekat perkebunan sawit warga Desa Kuala Satong terpantau sedang melahap karhutla hingga memicu timbulan asap pekat. Tim di lokasi juga tidak mendapati adanya sumber air di sekitar area ditemukannya orangutan.

Berdasarkan pengamatan awal, paparnya, kondisi fisik orangutan yang melemah diperkirakan ada kaitannya dengan paparan asap serta dehidrasi. Kendati begitu, pengujian medis secara mendalam tetap wajib dijalankan untuk memastikan kondisi kesehatan total beserta pemicu utamanya.

Murlan memastikan usai dampak obat bius berangsur surut dan kondisi orangutan dinyatakan aman untuk dipindahkan, tim langsung melarikannya ke pusat rehabilitasi YIARI guna mendapatkan observasi serta perawatan medis lanjutan.

Menyikapi kejadian tersebut, Kemenhut mengimbau warga yang menjumpai orangutan maupun satwa liar lainnya di sekitar pemukiman, kebun, hingga lokasi terdampak kebakaran agar tidak mengambil tindakan sendiri.

Masyarakat diharapkan menjaga jarak aman, tidak mengganggu atau memberi pakan satwa, serta segera melapor kepada pihak BKSDA maupun jajaran petugas kehutanan terdekat.

Terkini