Peran Strategis Kepala Sekolah Tanamkan Empat Pilar Sejak Dini

Rabu, 02 September 2026 | 17:17:31 WIB
Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI Abidin Fikri [FOTO: NET].

JAKARTA - Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI Abidin Fikri menegaskan kepala sekolah serta para pendidik memegang peran strategis sebagai garda terdepan dalam menanamkan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI sejak usia dini.

Abidin menjelaskan, Empat Pilar MPR RI yang mencakup Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, serta Bhinneka Tunggal Ika tidak boleh sekadar dipahami sebagai bahan hafalan. Nilai-nilai tersebut mesti dihidupkan melalui kebiasaan di sekolah sehingga dapat menyatu menjadi bagian dari sikap dan perilaku peserta didik dalam keseharian.

Dalam pemaparannya, Abidin secara khusus memaparkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Pancasila merupakan pedoman hidup bangsa, fondasi kehidupan bernegara, sekaligus landasan falsafah negara. Oleh sebab itu, nilai-nilai Pancasila harus menjadi pijakan bagi murid dalam berinteraksi, mengambil keputusan, menghargai sesama, serta menghadapi pelbagai dinamika zaman.

“Pancasila jangan berhenti menjadi hafalan. Pancasila adalah pedoman hidup, fondasi, dan landasan filsafat negara. Nilai-nilainya harus hadir dalam kehidupan anak-anak, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat,” kata Abidin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Hal tersebut disampaikan Abidin pada kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD Swasta Kota Bekasi, di Bekasi, Selasa (1/9).

Sekolah tidak cuma dituntut mencetak siswa yang unggul secara akademik, melainkan juga memiliki karakter, integritas, dan identitas kebangsaan.

Acara tersebut menjadi sarana penguatan pemahaman kebangsaan bagi para kepala sekolah yang memegang posisi penting dalam membangun karakter generasi muda.

Menurut Abidin, penerapan nilai Pancasila di lingkungan sekolah dapat diwujudkan lewat langkah-langkah yang sederhana namun nyata, seperti budaya gotong royong, menghormati perbedaan, membiasakan musyawarah, bertindak adil, serta menumbuhkan empati kepada sesama.

Melalui pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya mengetahui nilai Pancasila, tetapi turut merasakan dan mempraktikkannya langsung.

Abidin selanjutnya mengajak para kepala sekolah untuk memahami isi Pembukaan UUD NRI Tahun 1945, terutama alinea keempat yang memuat tujuan bernegara.

Empat tujuan tersebut mencakup melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Abidin menekankan bahwa cita-cita bernegara tersebut memiliki keterikatan erat dengan tugas pendidikan. Saat kepala sekolah dan guru mengajar para murid, mereka pada hakikatnya turut menjalankan amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Ketika bapak dan ibu kepala sekolah mendidik anak-anak, sesungguhnya bapak dan ibu sedang ikut menjalankan amanat konstitusi, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadi, tugas pendidikan memiliki dimensi kebangsaan yang sangat kuat,” katanya.

Dalam sosialisasi tersebut, Abidin juga menerangkan rekam sejarah lahirnya Pancasila dan UUD 1945, mulai dari pembentukan BPUPKI, Panitia Sembilan, hingga tahapan perumusan dan pengesahan UUD 1945.

Menurut Abidin, rekam sejarah itu krusial dikenalkan kepada generasi muda supaya mereka memahami bahwa dasar negara serta konstitusi lahir lewat proses panjang, pertukaran gagasan, silang pendapat, dan pemufakatan para pendiri bangsa.

“Kalau generasi muda memahami bagaimana Pancasila dirumuskan dan bagaimana konstitusi kami lahir, mereka akan lebih menghargai bangsa ini dan memahami bahwa persatuan Indonesia dibangun melalui proses yang tidak sederhana,” jelasnya.

Abidin menilai pemahaman sejarah tersebut sekaligus memperkukuh semangat Bhinneka Tunggal Ika. Para pendiri bangsa berangkat dari latar belakang yang beraneka ragam, namun sanggup menemukan kesepakatan untuk mendirikan Indonesia sebagai negara merdeka dan bersatu. Nilai tersebut patut terus diwariskan kepada peserta didik agar keberagaman dipandang sebagai kekuatan bangsa.

Abidin turut mengingatkan bahwa tantangan generasi muda masa kini kian kompleks akibat pesatnya teknologi dan derasnya arus informasi. Di tengah kondisi tersebut, nilai-nilai Empat Pilar dapat menjadi panduan bagi siswa untuk menyaring pelbagai pengaruh dan menentukan sikap tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Maka dari itu, Abidin mendorong kepala sekolah dan guru menjadi keteladanan dalam menerapkan nilai Empat Pilar lewat kegiatan pembelajaran maupun budaya di sekolah. Pancasila sebagai panduan hidup, UUD NRI Tahun 1945 sebagai pijakan konstitusional, NKRI sebagai tempat bernaung bersama, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai jiwa persatuan harus hadir nyata dalam kehidupan sekolah.

“Kami ingin kepala sekolah pulang dari kegiatan ini membawa semangat untuk menjadikan sekolah sebagai ruang tumbuhnya generasi Pancasilais. Dari sekolah inilah karakter bangsa dibentuk,” tutur Abidin.

Terkini