RI Paling Tenang Hadapi Gejolak Global: Siapkan Skenario Minyak

Kamis, 03 September 2026 | 20:56:01 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang paling tenang di dunia dalam menghadapi gejolak harga minyak global akibat ketegangan geopolitik.

Purbaya menyampaikan bahwa pihak pemerintah sudah merumuskan bermacam skenario guna mengantisipasi lonjakan harga minyak dunia, termasuk skenario terburuk jika harganya menyentuh angka US$ 100 per barel.

Berdasarkan penjelasannya, pemerintah telah mengkalkulasikan dampak kenaikan harga minyak terhadap kondisi fiskal serta menerapkan langkah strategis agar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senantiasa terjaga dengan baik.

"Walaupun harga minyak dunia sampai 100, kami kan tenang-tenang saja, salah satu negara paling tenang di dunia," ujar Purbaya ketika menghadiri acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026, pada hari Kamis (3/9/2026).

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa pemerintah memberlakukan pengetatan dan pengendalian terhadap pos belanja negara yang dinilai kurang mendesak. Sebaliknya, alokasi anggaran belanja yang dinilai lebih produktif tetap diizinkan untuk berjalan.

Penerapan strategi tersebut bertujuan untuk mempertahankan kesinambungan fiskal nasional. Purbaya mengungkapkan bahwa posisi defisit APBN hingga periode Juli 2026 tercatat berada di kisaran 0,9% dari produk domestik bruto (PDB).

Di samping mengendalikan pengeluaran belanja, pemerintah juga berkomitmen melindungi daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga minyak dunia melalui instrumen kebijakan subsidi.

Purbaya menilai bahwa kebijakan penyaluran subsidi tersebut bukanlah bentuk pemborosan anggaran. Menurut pandangannya, subsidi sangat esensial guna mempertahankan daya beli sekaligus mengendalikan laju inflasi.

"Orang bilang boros, enggak boros. Pertama saya bisa menjaga daya beli masyarakat. Kedua bisa mengendalikan inflasi," tegasnya.

Selain itu, ia memberikan peringatan bahwa kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi berpotensi memicu kenaikan suku bunga. Kondisi tersebut pada akhirnya dikhawatirkan dapat menekan aktivitas ekonomi secara keseluruhan dan memperlambat pertumbuhan.

"Kalau inflasi naik, bunga naik, ekonomi pasti melambat. Kami akan melambat arahnya," pungkasnya.

Terkini

Jaga Surplus Neraca Dagang, Mendag Pacu Diversifikasi Ekspor

Kamis, 03 September 2026 | 22:42:31 WIB

Usai 9 Tahun Absen, RI-Malaysia Bahas DHE hingga Investasi

Kamis, 03 September 2026 | 22:37:33 WIB

Komisi X DPR Desak BPS Perbarui Data Desil Bansos 2 Minggu

Kamis, 03 September 2026 | 22:28:02 WIB

Kementerian ESDM Tunggu Perpres untuk Tender PLTS 100 GW

Kamis, 03 September 2026 | 22:25:01 WIB