Urai Antrean Ketapang, Gapasdap Minta ASDP Optimalkan Dermaga LCM

Senin, 07 September 2026 | 19:22:01 WIB
Kendaraan antre di Dermaga Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur [FOTO: NET].

JAKARTA - Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) mendorong PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, mengoptimalkan Dermaga Landing Craft Mechanized (LCM) demi mengurai antrean kendaraan truk logistik.

Ketua Gapasdap Banyuwangi Nurjatim mengungkapkan Dermaga LCM (plengsengan) di Pelabuhan Ketapang sanggup diperluas lewat penyatuan kawasan dermaga menggunakan konstruksi cor beton.

"Dengan perluasan plengsengan, Dermaga LCM dapat digunakan untuk melayani bongkar muat empat kapal landing craft tank (LCT) sekaligus, karena saat ini Dermaga LCM hanya bisa digunakan bersandar tiga kapal saja," ujar dia di Banyuwangi, Senin (7/9/2026).

Menurut penjelasannya, perluasan Dermaga LCM ini kelak menggantikan Dermaga Bulusan (Ketapang) yang saat ini tak dapat dioperasikan imbas dua fender roboh ke laut dan membutuhkan perbaikan. Saat ini Dermaga Bulusan masih dapat difungsikan apabila berpasangan dengan Dermaga LCM 4 Gilimanuk (Bali).

Pihaknya memaparkan bahwa andaikata Dermaga LCM diperluas memakai konstruksi cor, jumlah armada kapal LCT yang sanggup dilayani bakal bertambah dari 9 kapal menjadi 12-13 kapal.

"Sekaligus 4 kapal bisa sandar melakukan pemuatan sebagai solusi jangka pendek pengganti sementara Dermaga Bulusan, dan tentu ini solusi tanpa mengganggu operasional lainnya," kata Nurjatim.

Perluasan dermaga LCM tersebut, lanjut dia, teramat krusial supaya jumlah kapal LCT yang beroperasi sanggup ditambah. Saat ini tersedia tiga dermaga LCM eksisting, yang mana tiap pasangan dermaga mampu melayani tiga kapal, dan bila ditambah satu dermaga lagi di LCM maka bakal menambah 3-4 kapal LCT yang beroperasi.

Nurjatim menyebut masalah kemacetan di jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang bukan disebabkan kurangnya armada kapal penyeberangan, melainkan dipicu oleh minimnya infrastruktur dermaga di lintasan penyambung Jawa dan Bali tersebut.

Bahkan, kata Nurjatim, seandainya pemangku kepentingan menyepakati perluasan Dermaga LCM Pelabuhan Ketapang, pihak Gapasdap bersiap menalangi biayanya.

Ia memerinci perluasan Dermaga LCM berbasis konstruksi cor ditaksir menyedot anggaran sekitar Rp400 juta dengan durasi pengerjaan cuma 45 sampai 60 hari.

"Kami dari Gapasdap Banyuwangi siap menalangi anggaran tersebut agar operasional penyeberangan bisa berjalan lancar," ucap Nurjatim.

Pihaknya menambahkan saat ini ada 56 kapal di lintas Ketapang-Gilimanuk, dan dalam situasi dermaga beroperasi normal, kapal yang berlayar mampu menyentuh 28-32 kapal saban harinya.

Akan tetapi, kapasitas operasi merosot menjadi kisaran 23 kapal lantaran dua dermaga (di Ketapang dan Gilimanuk) tengah menjalani peningkatan kapasitas, yakni Dermaga Ponton Pelabuhan Ketapang dan Dermaga MB II Pelabuhan Gilimanuk, serta Dermaga Bulusan yang tak sanggup difungsikan sebab prasarana saat ini belum menunjang keselamatan kapal untuk bersandar.

"Jadi, lintasan Ketapang-Gilimanuk ini bukan kekurangan kapal atau jumlah kapal sudah lebih dari cukup, tetapi jelas faktor kurangnya dermaga, jumlah kapal eksisting yang sebanyak 56 kapal itu namun yang bisa melayani operasi hanya 40 persen saja. Kapalnya banyak tapi tempat sandarnya kurang," kata Nurjatim.

Terkini