Waspada Paparan Abu Vulkanik, Ini Dampaknya Bagi Kesehatan Kulit

Senin, 07 September 2026 | 00:01:31 WIB
Ilustrasi - Warga menggunakan masker saat berolahraga [FOTO: NET].

JAKARTA - Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Dr. Arini Astasari Widodo, SM, SpDVE memaparkan efek dari abu vulkanik tatkala menempel di permukaan kulit dapat memicu kondisi kulit menjadi kering, sensasi perih atau terbakar, gatal, hingga kemerahan atau dermatitis iritan.

“Pada kebanyakan orang, kontak singkat dengan abu tidak menyebabkan masalah kulit yang berat,” kata Arini.

Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia (Perdoski) tersebut menerangkan bahwa individu yang mengidap kulit sensitif, dermatitis atopik atau eksim, rosacea, maupun skin barrier yang tengah terganggu—misalnya pasca-tindakan laser atau peeling—perlu lebih waspada lantaran kondisi kulit mereka terbilang lebih rentan mengalami iritasi.

“Partikel abu juga dapat bersifat abrasif. Karena itu, yang perlu dihindari adalah menggosok atau mengusap abu yang masih kering di permukaan kulit karena gesekan tersebut justru dapat meningkatkan iritasi,” ujar dokter lulusan Universitas Harvard itu.

Menurut pandangannya, upaya membersihkan kulit sangat krusial untuk dieksekusi secepat mungkin pasca-terpapar abu, namun perlu dipastikan untuk tidak menggosok abu secara langsung saat kondisi masih kering.

Bila memungkinkan, lepas terlebih dahulu pakaian yang banyak terpapar abu. Bilas area kulit menggunakan air bersih yang mengalir supaya partikel terangkat tanpa menimbulkan banyak gesekan.

Ia juga menyarankan untuk mandi menggunakan air sejuk atau suam-suam kuku beserta pembersih berformula lembut. Hindari penggunaan scrub, spons bertekstur kasar, maupun menggosok area kulit terlalu keras. Setelahnya, keringkan kulit dengan metode ditepuk perlahan lalu usapkan pelembap.

Apabila area wajah mengalami iritasi, untuk sementara waktu disarankan memangkas penggunaan bahan aktif yang berpotensi memicu kulit makin sensitif seperti retinoid, AHA/BHA, peeling, atau scrub hingga kondisi kulit kembali stabil.

Lebih lanjut Arini menegaskan dalam langkah pencegahan, perlindungan fisik jauh lebih krusial dibanding penggunaan obat-obatan. Dalam hal ini, masyarakat dapat mengoleskan pelembap berformula sederhana, bebas pewangi, serta mendukung skin barrier, seperti yang mengandungi ceramide, glycerin, atau kandungan humektan dan emolien lainnya.

“Pelembap sebaiknya diaplikasikan pada kulit yang bersih dan diberi waktu agar menyerap. Tidak perlu menggunakan antibiotik atau kortikosteroid sebagai pencegahan. Jika kemudian timbul dermatitis yang cukup berat, obat antiinflamasi topikal mungkin diperlukan, tetapi sebaiknya berdasarkan pemeriksaan dokter,” katanya.

Hal lain yang turut Arini garis bawahi yakni erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda beserta penyebaran abu vulkaniknya patut diwaspadai. Masyarakat diminta untuk tetap tenang walau dari sudut pandang kesehatan kulit, abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dibanding debu harian.

Arini menjelaskan abu vulkanik terbentuk dari partikel batuan serta mineral yang teramat halus, sebagian mengantongi permukaan abrasif, dan abu yang tergolong segar dapat membawa komponen yang bersifat asam.

“Karena itu prinsip terpenting adalah mengurangi kontak langsung dengan abu, terutama ketika konsentrasi abu di udara sedang tinggi. Dampak terhadap saluran napas dan mata umumnya menjadi perhatian utama, tetapi kulit juga dapat mengalami iritasi,” tambahnya.

Terkini