Pertamina Kumpul Minyak Jelantah MBG untuk Bahan Bakar SAF

Kamis, 10 September 2026 | 02:19:31 WIB
PT Pertamina. (Foto: NET)

JAKARTA — PT Pertamina melalui Kilang Unit IV Cilacap tengah menjajaki pemanfaatan minyak jelantah yang bersumber dari program makan bergizi gratis (MBG) serta Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). 

Langkah strategis ini dilakukan guna mengolah limbah tersebut menjadi bahan bakar pesawat udara ramah lingkungan atau sustainable aviation fuel (SAF).

“UCO (used cooking oil / minyak jelantah) nanti dikumpulkan dari SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), KDMP,” kata Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro saat ditemui dalam acara temu media nasional di Cilacap, Jawa Tengah, pada hari Kamis (10/9/2026).

Berdasarkan penjelasannya, pengelolaan minyak jelantah yang berasal dari SPPG serta KDMP ini menggunakan skema antarkorporasi (business-to-business atau BtoB) demi mencukupi ketersediaan pasokan bahan baku UCO yang nantinya diproses menjadi avtur hijau.

Di samping mengandalkan sektor MBG dan koperasi desa, pengumpulan minyak jelantah turut melibatkan sektor perhotelan, restoran, kafe, serta berbagai pemasok lain, salah satunya adalah Gabungan Pengusaha/Pelaku Usaha Limbah Minyak Goreng Indonesia (Gapulimgi).

Berdasarkan paparan data, asosiasi Gapulimgi menyimpan potensi pasokan UCO yang sangat melimpah dengan estimasi volume mencapai kisaran 240.000 hingga 300.000 ton per tahunnya.

Tidak hanya mengandalkan skema BtoB, pihak perusahaan pun menerapkan pendekatan langsung kepada konsumen (business-to-consumer atau BtoC) guna mengumpulkan limbah minyak jelantah yang berasal dari lingkup rumah tangga, masyarakat luas, maupun komunitas tertentu.

Lebih lanjut, Hermawan menjelaskan bahwa penetapan harga beli UCO via skema BtoC tersebut berada di kisaran Rp6.000 untuk tiap liternya, sementara nilai transaksi melalui skema BtoB diproyeksikan jauh lebih tinggi.

Sebagai catatan sejarah, produksi perdana SAF di tanah air telah direalisasikan pada kurun waktu Juli hingga Agustus 2025 yang didahului oleh serangkaian uji coba penerbangan komersial pada September 2023 dengan memanfaatkan armada pesawat Garuda Indonesia berjenis Boeing 737-800.

Agenda uji terbang tersebut mengaplikasikan campuran 2,4 persen minyak inti kelapa sawit yang sudah melewati tahapan pemurnian, pemutihan, serta penghilangan bau (refined, bleached, and deodorized kernel oil atau RBDPKO).

Ke depannya, pihak Pertamina menetapkan target untuk meningkatkan persentase kandungan SAF hingga menyentuh angka 3 persen.

Produk SAF sendiri telah sukses mengantongi sertifikasi berstandar internasional yakni International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). 

Bahan bakar ini kini telah dimanfaatkan oleh sejumlah maskapai penerbangan domestik seperti Garuda Indonesia dan Pelita Air, serta beberapa maskapai mancanegara guna mencukupi kebutuhan operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali.

Terkini

OJK Pastikan SWAP Harus Ulang Proses IPO Akibat Penundaan

Kamis, 10 September 2026 | 04:11:02 WIB

Vale Target Produksi 67.645 Ton Nikel

Kamis, 10 September 2026 | 03:58:01 WIB

Koke Minta Media Hentikan Rumor Kepindahan Julian Alvarez

Kamis, 10 September 2026 | 03:53:02 WIB