Astra Targetkan Dividend Payout Ratio 45-50 Persen

Kamis, 10 September 2026 | 02:27:02 WIB
PT Astra International Tbk. (Foto: NET)

JAKARTA — Presiden Direktur PT Astra International Tbk (Kode emiten: ASII) Rudy Chen menyatakan bahwa pihak korporasi bakal terus menjaga rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio sepanjang tahun 2026 pada kisaran 45 hingga 50 persen.

"Kami tahu dividen itu sesuatu yang sangat penting juga, di mana kami akan maintain atau prioritaskan dividen payout ratio di range 45-50 persen," ucap Rudy saat mengisi sesi konferensi pers Public Expose Live 2026 yang berlangsung di Jakarta pada hari Kamis (10/9/2026).

Sepanjang tahun 2026, ASII telah merealisasikan pembagian dividen tunai bernilai total Rp15,66 triliun yang diperuntukkan bagi tahun buku 2025. Angka tersebut mencakup persentase sebesar 47,82 persen dari perolehan laba bersih tahun 2025 yang menyentuh angka Rp32,76 triliun.

Rangkaian pembagian dividen tersebut terbagi atas pembayaran dividen interim senilai Rp98 per lembar saham atau secara keseluruhan mencapai Rp3,96 triliun yang telah disalurkan pada 31 Oktober 2025. 

Kemudian, perseroan melanjutkan penyaluran dividen final sebesar Rp292 tiap saham dengan total akumulasi mencapai Rp15,7 triliun yang dibayarkan tanggal 25 Mei 2026. 

Seluruh keputusan penyerahan dividen itu pun telah mendapatkan pengesahan resmi lewat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) ASII 2026.

Bergeser pada aspek kinerja keuangan, ASII membukukan angka pendapatan bersih konsolidasian senilai Rp157,9 triliun sepanjang paruh pertama atau semester I-2026, yang menunjukkan adanya koreksi turun sebesar 3 persen jika disandingkan dengan kurun waktu serupa tahun lalu. 

Sementara itu, perolehan laba bersih ASII manakala menyisihkan pos non-recurring items tercatat di angka Rp14,9 triliun atau mengalami penurunan 7 persen secara year-on-year.

Penyusutan laba bersih tersebut utamanya dipicu oleh melemahnya sumbangsih dari lini usaha Solusi Pertambangan & Alat Berat. Berbagai faktor yang melatarbelakangi kondisi tersebut meliputi minimnya kontribusi divisi tambang emas, merosotnya angka penjualan alat berat, serta berkurangnya volume operasional pada sektor jasa penambangan beserta pertambangan batu bara.

Kendati demikian, ASII turut membukukan non-recurring items senilai Rp2,4 triliun yang sebagian besar bersumber dari penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas serta penurunan nilai atau impairment

Dengan memperhitungkan seluruh pos tersebut, perolehan laba bersih grup secara keseluruhan berada di posisi Rp12,5 triliun, atau mengalami penurunan sebesar 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meninjau kondisi neraca keuangan per tanggal 30 Juni 2026, nilai aset bersih per saham ASII terpantau menguat 1 persen hingga berada di level Rp5.763. Di sisi lain, posisi total utang bersih per 30 Juni 2026—dengan mengecualikan lini anak perusahaan bidang Jasa Keuangan Grup—tercatat sebesar Rp6 triliun. 

Posisi tersebut mengalami pergeseran drastis apabila dibandingkan dengan catatan posisi kas bersih senilai Rp7,2 triliun per 31 Desember 2025. 

Transformasi posisi finansial ini utamanya didorong oleh aksi korporasi berupa akuisisi PT Arafura Surya Alam selaku perusahaan tambang emas, pelaksanaan pembelian kembali saham atau share buyback, serta dinamika pergerakan modal kerja.

Terkini

OJK Pastikan SWAP Harus Ulang Proses IPO Akibat Penundaan

Kamis, 10 September 2026 | 04:11:02 WIB

Vale Target Produksi 67.645 Ton Nikel

Kamis, 10 September 2026 | 03:58:01 WIB

Koke Minta Media Hentikan Rumor Kepindahan Julian Alvarez

Kamis, 10 September 2026 | 03:53:02 WIB