Kemenag Sebut AICIS+ 2026 Terima Ribuan Abstrak dari 21 Negara

Jumat, 11 September 2026 | 18:09:31 WIB
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amien Suyitno [FOTO: NET].

JAKARTA — Kementerian Agama mengabarkan bahwa gelaran The 25th Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2026 menghimpun 3.420 abstrak dari 21 negara serta 607 lembaga sampai penutupan masa pendaftaran pada 9 September 2026.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amien Suyitno memaparkan bahwa tingginya angka abstrak mesti diselaraskan dengan penguatan kualitas substansi. Salah satu tolok ukur utama AICIS+ yakni mewujudnya integrasi antara studi keislaman dengan aneka disiplin ilmu.

“Indikator utama dari AICIS+ adalah terwujudnya konsep integrasi. Artinya, baik dari sumber maupun para asesor, semua materi yang diinvestasikan harus menggambarkan kajian yang tidak hanya Islamic Studies semata, tetapi juga integrasi dengan kajian berbasis natural sciences,” ujar Suyitno dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Menurut pandangannya, karya tulis yang masuk mesti dikelompokkan secara tematik guna memantau arah perkembangan corak riset yang disusun oleh para akademisi. Pemetaan tersebut dapat mencakup kajian pure Islamic Studies, applied research, hingga penelitian yang memadukan studi keislaman dengan cabang ilmu lainnya.

“Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa PTKI kami sudah berwajah integrasi, yang mempertemukan kajian keislaman, lingkungan sosial, hingga natural sciences yang diekspresikan dalam forum AICIS+,” kata dia.

Penguatan sinergi keilmuan ini juga bakal ditunjukkan dalam gelaran expo AICIS+ 2026. Ia menggarisbawahi bahwa ajang expo tidak sekadar dirancang untuk memamerkan profil instansi, melainkan menjadi etalase bagi produk-produk inovasi serta hasil penelitian yang memberikan faedah nyata.

Karya yang dipamerkan dapat bersumber dari PTKI maupun instansi di luar PTKI. Bentuknya pun bervariasi, mulai dari inovasi materi ajar hingga hasil riset terapan yang sanggup dimanfaatkan khalayak luas.

“Untuk expo, yang ditampilkan bukan nama lembaganya, melainkan produknya. Produk tersebut bisa berupa inovasi bahan ajar atau hasil riset dari lembaga mana pun, baik PTKI maupun luar PTKI,” kata Suyitno.

Pihak panitia pun saat ini tengah mematangkan sarana bagi riset-riset terapan yang sanggup memberikan solusi atas persoalan publik. Sejumlah sektor yang dipacu di antaranya teknologi modifikasi cuaca, mitigasi bencana geologi dan gempa, mitigasi perubahan iklim, hingga penelitian untuk menjawab tantangan sosial.

Model pendekatan tersebut diharapkan mampu memperluas spektrum riset yang disajikan dalam AICIS+, sehingga ajang akademik ini tak cuma membedah kajian keislaman secara teoretis, melainkan turut mempertemukannya dengan riset terapan dan dinamika ilmu pengetahuan.

Terkini