Pertamina Sulap Jelantah Dapur MBG Jadi Bahan Bakar Pesawat SAF

Jumat, 11 September 2026 | 21:37:01 WIB
Proses pengisian avtur di maskapai penerbangan [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Pertamina Patra Niaga memacu pemanfaatan minyak goreng bekas atau Used Cooking Oil (UCO) menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Kilang Pertamina RU IV Cilacap, Jawa Tengah. 

Langkah pengembangan ini dibarengi dengan pembentukan rantai ekosistem pengumpulan UCO dari bermacam sumber, termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku penanggung jawab Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro mengutarakan bahwa Pertamina menyiapkan beberapa model bisnis untuk mengumpulkan jelantah yang kelak diolah menjadi bahan baku SAF. 

Ia menyebutkan, salah satu model yang diterapkan yakni Business to Customer (B2C), yaitu penghimpunan UCO yang bersumber dari masyarakat umum, komunitas, hingga pekerja Pertamina.

“Untuk skema bisnisnya dari UCO sendiri, ada beberapa skema. Yang pertama itu adalah skema Business to Customer, jadi dari masyarakat, komunitas, kami collecting UCO-nya, minyak jelantah tadi,” kata Hermawan dalam Media Gathering Pertamax Journey Cilacap—Yogyakarta di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2026).

Guna mendukung penyerapan tersebut, Pertamina telah menempatkan fasilitas berupa dispenser minyak jelantah di sejumlah area, termasuk kawasan kilang hingga pusat perbelanjaan.

Di samping dari masyarakat, Pertamina bakal memperluas pasokan UCO lewat skema Business to Business (B2B). Model ini membidik entitas yang berpotensi menghasilkan atau mengumpulkan jelantah dalam kuantitas lebih besar.

“Kemudian juga skema Business to Business, jadi dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Hotel, Restoran, dan Kafe (Horeka), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP),” imbuh Hermawan.

Menurut Hermawan, pasokan UCO dari publik memiliki keterbatasan dari sisi volume. Oleh sebab itu, Pertamina memerlukan kolaborasi dengan pihak luar yang mampu menyediakan maupun mengumpulkan jelantah dalam skala masif.

Pengolahan UCO menjadi SAF ini merupakan tahapan lanjutan dari riset Biojet Fuel yang digarap Kilang Cilacap. Pertamina sebelumnya telah mengeksekusi uji coba manufaktur SAF berbasis teknologi co-processing menggunakan bahan baku turunan minyak sawit.

Hermawan menjelaskan proses pengembangan tersebut telah bergulir sejak Desember 2020 via uji coba SAF dengan campuran sekitar 2% Refined, Bleached, Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO).

“Nah, palm kernel oil, jadi kira-kira minyak sawit itu disuling, dibersihkan, diputihkan, dihilangkan bau-baunya, sehingga layak untuk diolah menjadi produk BBM, kira-kira seperti itu,” katanya.

Pasca uji coba perdana, Pertamina menaikkan porsi RBDPKO menjadi 2,4% demi menakar peningkatan pemanfaatannya dalam pembuatan avtur. Formulasi itu selanjutnya dicampur dengan kerosin sebelum menjalani pengujian bertahap.

“Nah, dari hasil tes dan sebagainya, akhirnya kami melakukan uji coba terbang dengan SAF tadi ya, 2,4% menggunakan airplane CN-235 untuk rute Jakarta-Bandung pada tahun 2021 Oktober,” kata Hermawan.

Proses pengujian lalu berlanjut ke penerbangan komersial. Pada Juli 2023, Kilang Cilacap mulai memproduksi SAF untuk agenda commercial flight test dengan injeksi 2,4% RBDPKO. Uji coba penerbangan tersebut dieksekusi bersama armada Garuda Indonesia menggunakan pesawat Boeing 737-800NG rute Jakarta—Solo.

“Dan sukses ya, dinyatakan sukses memang bisa diimplementasikan SAF ini,” katanya.

Seusai rentetan pengujian tersebut, Hermawan memaparkan bahwa Pertamina mulai mematangkan produksi SAF secara berkelanjutan. Pada rentang Agustus sampai Desember 2023, perseroan menempuh proses sertifikasi dan persiapan sustained production.

Fase berikutnya adalah pengembangan SAF menggunakan bahan baku UCO atau minyak jelantah. Pada proses ini, Pertamina memanfaatkan Katalis Merah Putih serta mengantongi sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) CORSIA pada 2024.

Pertamina lantas merancang katalis khusus untuk memproses UCO menjadi SAF lewat Research & Technology Innovation (RTI) Pertamina. Katalis tersebut kemudian diaplikasikan pada tahap pilot test pengolahan jelantah menjadi SAF.

Proses rekayasa katalis berlangsung sepanjang 2024, mencakup manufaktur dan pengiriman katalis hingga sertifikasi unit pengolahan UCO. Memasuki 2025, Pertamina memperkokoh ekosistem pengembangan SAF, yang ditandai oleh produksi perdana SAF berbahan baku UCO di Kilang Cilacap pada Juli hingga Agustus 2025.

Terkini

BNPB Tegaskan Status Anak Krakatau Masih Siaga Level Tiga

Jumat, 11 September 2026 | 23:16:31 WIB

Sentimen Global Menekan, IHSG Diprediksi Uji Level 6.525

Jumat, 11 September 2026 | 23:11:32 WIB

Cek Antrean BBM di Palangka Raya, Wapres Gibran Turun Tangan

Jumat, 11 September 2026 | 23:07:01 WIB

Wapres Gibran Jenguk Siswi Korban MBG di Karo

Jumat, 11 September 2026 | 23:02:02 WIB