LRT Jabodebek Normal Usai Gempa M6,5 Seribu

Sabtu, 12 September 2026 | 19:39:03 WIB
PT Kereta Api Indonesia (Persero) memberikan jaminan bahwa seluruh fasilitas serta operasional LRT Jabodebek terpantau aman serta beroperasi secara normal pascagempa bumi bermagnitudo 6,5 yang berpusat di Pantai Timur. (Foto: NET)

JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia (Persero) memberikan jaminan bahwa seluruh fasilitas serta operasional LRT Jabodebek terpantau aman serta beroperasi secara normal pascagempa bumi bermagnitudo 6,5 yang berpusat di Pantai Timur, Kepulauan Administrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta pada Sabtu (12/9/2026) pagi pukul 04.23 WIB.

Manajer Hubungan Masyarakat LRT Jabodebek Radhitya Mardika menyebutkan bahwa jajarannya langsung bergerak cepat melaksanakan pemeriksaan menyeluruh terhadap infrastruktur layanan usai memperoleh kabar terjadinya gempa. 

Pengecekan ini ditujukan untuk menjamin jalur lintasan, sistem persinyalan, area stasiun, hingga fasilitas penunjang lainnya agar senantiasa berada dalam kondisi yang aman.

“Petugas di pusat kendali operasi segera melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan petugas di lapangan,” ujar Radhitya dalam siaran pers, Sabtu (12/9/2026).

Proses peninjauan lapangan tersebut mulai digulirkan sejak pukul 04.30 WIB. Berdasarkan hasil penelusuran, petugas sama sekali tidak mendapati adanya kerusakan fisik ataupun kendala teknis yang berpotensi mengganggu aspek keselamatan serta kelancaran perjalanan LRT Jabodebek, sehingga operasional dipastikan tetap berjalan normal.

Selain pemeriksaan manual, pengawasan situasi turut ditunjang oleh perangkat Seismic Detection Alarm System (SDAS) yang berfungsi menyajikan data akurat terkait pengaruh getaran gempa terhadap infrastruktur. 

Sistem pengamanan tersebut menjadi acuan penting bagi petugas dalam mengambil tindakan penanganan lanjutan secara sigap.

“LRT Jabodebek memastikan setiap informasi terkait gempa ditindaklanjuti melalui pemantauan dan pemeriksaan prasarana. Keselamatan perjalanan dan pengguna menjadi prioritas dalam setiap kondisi,” tutup Radhitya.

Sementara itu, pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut memaparkan detail peristiwa gempa bumi tektonik berkekuatan M6,5 dengan kedalaman mencapai 368 kilometer di wilayah perairan tersebut. 

Walau demikian, hasil pemodelan resmi memastikan bahwa aktivitas seismik itu sama sekali tidak memicu potensi gelombang tsunami.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dalam akibat aktivitas intraslab. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser turun [oblique normal]," ujar Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto dalam siaran pers, Sabtu (12/9/2026).

Terkini