Perpusnas Gelar Pameran Kenalkan Warisan Pengetahuan Nusantara

Senin, 14 September 2026 | 10:28:01 WIB
Gedung Perpusnas. [Foto: via smartcity.jakarta.go.id]

JAKARTA - Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menyelenggarakan pameran bertajuk "Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran" yang mengajak publik, terutama anak-anak dan generasi muda, mengenal kekayaan pengetahuan serta budaya Nusantara.

Pameran itu digelar dalam rangka Hari Kunjung Perpustakaan yang menjadi bagian dari langkah Perpusnas memperkuat pemanfaatan koleksi sebagai sumber pembelajaran dan pengetahuan publik.

"Selain menyimpan koleksi, perpustakaan juga menjaga ingatan bangsa agar terus dipelajari, dipahami, dan dimaknai oleh generasi berikutnya," kata Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Suharyanto dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Melalui interaksi yang lebih dekat, visual, serta mudah dipahami, masyarakat diharapkan dapat menyadari bahwa perpustakaan tidak sekadar menyimpan koleksi.

Pameran "Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran" dapat menjadi ruang perjumpaan antara generasi saat ini dengan warisan pengetahuan Nusantara. Pameran tersebut menyajikan beragam warisan manuskrip Nusantara yang telah diakui dalam Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan Memory of the World (MOW).

Suharyanto menerangkan manuskrip tidak hanya dipajang sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai warisan intelektual. Warisan tersebut merekam ide, pengetahuan, nilai, pengalaman, serta perjalanan kehidupan masyarakat pada zamannya.

"Warisan dokumenter yang tersimpan dalam manuskrip dapat menjadi pintu masuk untuk memahami identitas, kebudayaan, dan perjalanan bangsa. Warisan dokumenter juga sekaligus menggali nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa kini," tutur dia.

Lewat pendekatan yang sederhana, interaktif, dan visual, pameran dirancang untuk mendekatkan manuskrip Nusantara kepada generasi muda. Aneka reproduksi manuskrip, ilustrasi, infografis, dan elemen visual interaktif dimanfaatkan untuk membantu pengunjung memahami kisah serta pengetahuan di dalamnya.

Pameran itu terbagi ke dalam empat narasi utama. Pertama, "Warisan Indonesia untuk Dunia" memperkenalkan manuskrip sebagai rekaman perjalanan figur, peristiwa, pemikiran, dan pengalaman masyarakat Nusantara yang bernilai penting pada tingkat lokal, nasional, hingga internasional.

Sejumlah manuskrip yang dipamerkan di antaranya karya terkait Syekh Yusuf, Bo Sangaji, Sutasoma, Babad Diponegoro, Imam Bonjol, dan Trunojoyo.

Kedua, "Warisan Nilai Bersama" mengajak pengunjung melihat manuskrip sebagai media transmisi nilai, pengetahuan, kepercayaan, serta tradisi lintas generasi. Beberapa contoh yang dihadirkan antara lain Panji, Sri Tanjung, Bo Sangaji, Primbon Tengger, serta Warisan Syekh Burhanudin Ulakan.

Ketiga, "Warisan Perempuan" menyoroti bagaimana manuskrip ikut merekam pengalaman, peran, suara, dan posisi perempuan dalam kehidupan masyarakat zaman dahulu. Narasi ini salah satunya ditampilkan melalui Simbur Cahaya, Sri Tanjung, dan Panji.

Keempat, "Warisan Karya Istimewa" menyajikan manuskrip dengan karakter khusus dari segi isi, bentuk, bahasa, tradisi intelektual, maupun nilai dokumenternya. Di dalamnya mencakup Siksa Kandang Karesian, Babad Diponegoro, Nagarakretagama, La Galigo, Tambar Ni Hulit, Syair Hamzah Fansuri, dan Pecenongan.

"Keempat narasi yang disuguhkan dalam pameran ini menjadi upaya untuk mengubah cara pandang terhadap manuskrip. Pengunjung tidak hanya diajak melihatnya sebagai ‘benda lama’, tetapi memahami manuskrip sebagai sumber pengetahuan yang menyimpan cerita tentang manusia, masyarakat, pemikiran, nilai, dan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi," ujar Suharyanto.

Melalui agenda tersebut, Hari Kunjung Perpustakaan tidak sebatas menjadi momentum untuk mengajak masyarakat datang ke perpustakaan, tetapi juga memperluas pemanfaatan perpustakaan sebagai ruang belajar, berkarya, berdiskusi, dan berinteraksi dengan ilmu pengetahuan.

Hari Kunjung Perpustakaan diawali dari gagasan Kepala Perpustakaan Nasional RI pertama, Mastini Hardjoprakoso. Pada 14 September 1995, Presiden Republik Indonesia Soeharto meresmikan September sebagai Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan.

Sejak saat itu, tanggal 14 September diperingati sebagai Hari Kunjung Perpustakaan sebagai momentum mendorong masyarakat semakin akrab dengan perpustakaan dan membangun kebiasaan membaca.

Pameran "Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran" merupakan bagian dari rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan 2026 yang dihelat Perpusnas, berlangsung mulai tanggal 14 hingga 30 September 2026 di Gedung Grha Literasi, Bangunan Cagar Budaya Perpusnas, Jakarta.

Pada pameran itu, beragam kegiatan literasi disajikan untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, pelajar, hingga khalayak umum. 

Rangkaian acara tersebut mencakup kelas literasi, dialog interaktif, kelas menulis, literasi musik dan sinema, kegiatan kepustakawanan, serta agenda yang mengangkat kekayaan naskah Nusantara.

Rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan juga disemarakkan dengan Peluncuran Buku dan Gelar Wicara "Alih Wahana Naskah Ingatan Kolektif Nasional (IKON) & Memory of the World (MOW)", Penganugerahan Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan Seminar IKON–MOW "Naskah, Ingatan, dan Kolektivitas Bangsa", Penganugerahan Nugra Jasa Dharma Pustaloka kategori Pelestarian Naskah Kuno dan Penghargaan Pengelolaan Naskah Kuno Terbaik kategori Dinas Perpustakaan, serta Kelas Literasi Sinema.

Terkini