Apindo: Icomex Jadi Peluang RI Punya Indeks Harga Acuan Komoditas

Jumat, 18 September 2026 | 18:42:01 WIB
Tumpukan timah batangan dengan segel PT Timah Tbk. di gudang Kawasan Unit Metalurgi Muntok, Bangka Barat [FOTO: NET].

JAKARTA - Kehadiran Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) atau yang dikenal sebagai Indonesia Commodity Exchange (Icomex) dinilai menyimpan potensi besar dalam mendongkrak daya saing serta memperkokoh struktur ekosistem perdagangan komoditas unggulan tanah air.

Meskipun demikian, efektivitas serta keberlanjutan fungsi indeks harga acuan tersebut nantinya akan sangat ditentukan oleh tingkat kredibilitas, transparansi operasional, serta akurasinya dalam merepresentasikan dinamika pasar secara objektif.

Ketua Komite Pertambangan Mineral dan Batubara Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hendra Sinadia mengatakan, Indonesia selama ini telah menjadi produsen besar berbagai komoditas, tetapi belum memiliki indeks referensi lokal yang sepenuhnya menjadi acuan pasar.

"Indonesia punya peluang untuk membangun benchmark domestik sendiri seperti London Metal Exchange [LME] di London, Shanghai Futures Exchange [SHFE] di Cina, serta Intercontinental Exchange [ICE] dan Chicago Mercantile Exchange [CME] di Amerika Serikat," jelas Hendra kepada Bisnis, dikutip Jumat (18/9/2026).

Hendra menilai keberadaan bursa komoditas tersebut diyakini mampu mengangkat posisi tawar Indonesia di kancah perdagangan internasional, khususnya pada sektor mineral kritis dan komoditas unggulan dunia.

Kehadiran referensi harga yang merefleksikan realitas pasar domestik diandalkan bisa menjadi fondasi kokoh untuk memperluas pengaruh ekonomi nasional di ranah global, meski likuiditas dan partisipasi aktif pelaku usaha tetap menjadi prasyarat mutlak.

Dukungan pasar yang luas serta kemampuan sistem dalam memberikan kepastian keuntungan bagi produsen lokal menjadi kunci agar pelaku industri tertarik untuk bergabung dan bertransaksi di dalam platform tersebut.

"Harga acuan harus mampu mendukung produsen, diterima oleh pasar internasional, serta memberikan manfaat yang jelas agar semakin banyak pelaku industri tertarik untuk berpartisipasi," kata Hendra.

Dalam praktiknya, sektor usaha pertambangan dinilai belum bisa langsung mengadopsi harga acuan Icomex secara instan, sehingga proses transisi perlu ditempuh secara bertahap melalui dialog dan serapan aspirasi dari para pelaku industri.

Tingkat kesiapan adopsi korporasi tambang akan sangat bergantung pada reliabilitas metodologi, validitas data, serta objektivitas indeks dalam menangkap sinyal pasar, di samping memberikan nilai tambah secara praktis dalam proses negosiasi bisnis.

"Karena itu, penerapannya dapat dilakukan secara bertahap dengan melibatkan masukan dari berbagai pelaku industri," ujarnya.

Terkini