JAKARTA - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Riau kembali mengalami kenaikan.
Hal ini menguntungkan para petani mitra swadaya, karena harga untuk kelompok umur 9 tahun tercatat naik sebesar Rp19,39 per kilogram, atau 0,56 persen, menjadi Rp3.487,56 per kilogram.
Kenaikan ini berlaku untuk periode 21 hingga 27 Januari 2026. Kenaikan harga tersebut terjadi setelah adanya lonjakan pada harga minyak mentah sawit (CPO) dan kernel di pasar.
Penyebab Kenaikan Harga TBS
Menurut Defris Hatmajadi, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Provinsi Riau, harga TBS mengalami kenaikan berkat naiknya harga CPO (Crude Palm Oil) dan kernel.
Ia menjelaskan bahwa fluktuasi harga CPO di pasar dunia berpengaruh langsung terhadap harga TBS, karena minyak sawit mentah adalah bahan dasar utama dalam industri kelapa sawit.
"Harga CPO pekan ini tercatat naik sebesar Rp218,60 per kilogram menjadi Rp14.437,00 per kilogram, sementara harga kernel juga mengalami kenaikan sebesar Rp202,77 per kilogram menjadi Rp11.625,00 per kilogram," ungkap Defris, saat mengumumkan harga baru di Pekanbaru pada Rabu, 21 Januari 2026.
Dampak Kenaikan Harga untuk Petani
Kenaikan harga TBS juga berlaku untuk petani mitra plasma, yang turut merasakan keuntungan serupa. Pada kelompok umur 9 tahun, harga TBS mengalami kenaikan sebesar Rp22,13 per kilogram, atau sekitar 0,63 persen, yang menjadikan harga TBS untuk petani mitra plasma naik menjadi Rp3.543,36 per kilogram pada periode yang sama.
Defris juga menekankan bahwa kenaikan harga TBS ini adalah hasil dari naiknya harga CPO dan kernel. Dengan semakin meningkatnya harga jual di pasar, petani kelapa sawit semakin mendapatkan keuntungan.
Hal ini tentunya menjadi angin segar bagi mereka yang telah lama bergantung pada hasil tani kelapa sawit sebagai sumber utama pendapatan.
Upaya Perbaikan Tata Kelola dalam Penetapan Harga TBS
Di sisi lain, Defris Hatmajadi menegaskan bahwa pemerintah Provinsi Riau selalu melakukan perbaikan tata kelola dalam penetapan harga TBS.
Penetapan harga yang dilakukan oleh Tim Penetapan Harga Pembelian TBS kelapa sawit diharapkan dapat lebih adil dan sesuai regulasi, yang pada gilirannya dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi petani.
"Setiap kenaikan harga yang terjadi, kami berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi agar harga yang ditetapkan sesuai dengan prinsip keadilan dan transparansi bagi kedua belah pihak baik petani maupun pihak pengusaha. Hal ini juga tidak terlepas dari dukungan penuh Pemerintah Provinsi Riau dan Kejaksaan Tinggi Riau yang ikut menjaga tata kelola yang baik," ujarnya.
Peningkatan Kesejahteraan Petani melalui Harga yang Adil
Dengan adanya peningkatan tata kelola dalam penetapan harga TBS, Defris berharap kesejahteraan petani akan semakin meningkat.
Ia menegaskan bahwa komitmen bersama dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan ini akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani, yang pada akhirnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Riau secara keseluruhan.
"Tujuan kami adalah untuk memastikan bahwa harga yang diterima oleh petani sesuai dengan harga pasar yang wajar. Dengan demikian, petani dapat lebih mudah merencanakan produksi dan meningkatkan hasil tani mereka," kata Defris.
Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat
Kenaikan harga TBS ini menjadi faktor positif dalam perekonomian Provinsi Riau, khususnya bagi para petani kelapa sawit. Kelapa sawit memang menjadi salah satu komoditas utama di wilayah tersebut, dengan kontribusi besar terhadap ekonomi daerah.
Harga TBS yang lebih baik akan memberikan efek domino yang menguntungkan bagi masyarakat setempat, mulai dari petani hingga sektor lainnya yang terlibat dalam industri kelapa sawit.
Strategi Ke Depan dalam Menghadapi Fluktuasi Harga TBS
Meski harga TBS kelapa sawit saat ini menunjukkan tren positif, namun para petani tetap perlu waspada terhadap fluktuasi harga yang sering terjadi di pasar global.
Dalam hal ini, pemerintah Provinsi Riau berkomitmen untuk terus memperbaiki mekanisme penetapan harga agar tetap adil dan terjangkau bagi semua pihak yang terlibat.
Pemerintah juga diharapkan dapat menyediakan fasilitas pendukung bagi petani, seperti pelatihan dan akses ke pasar yang lebih luas, untuk memastikan pertumbuhan sektor pertanian yang lebih berkelanjutan.
Peningkatan Kemitraan antara Petani dan Pengusaha
Di samping itu, kemitraan antara petani dan perusahaan pengolah kelapa sawit menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa harga TBS yang ditetapkan tetap menguntungkan bagi semua pihak.
Dalam hal ini, pihak pemerintah daerah bersama dengan perusahaan pengelola kelapa sawit harus memperhatikan keseimbangan antara kepentingan industri dan kesejahteraan petani.
Melalui kemitraan yang saling menguntungkan, diharapkan dapat tercipta keberlanjutan dalam produksi dan distribusi hasil kelapa sawit.
Pemerintah Provinsi Riau telah menunjukkan perhatian serius terhadap kesejahteraan petani dengan terus melakukan perbaikan dalam penetapan harga TBS kelapa sawit.
Kenaikan harga yang tercatat saat ini memberikan harapan baru bagi petani kelapa sawit di Riau, terutama untuk mendorong peningkatan hasil produksi dan pendapatan mereka.
Ke depan, keberlanjutan sektor kelapa sawit diharapkan akan semakin baik, dengan adanya kebijakan yang mendukung dan kolaborasi antar semua pihak.