JAKARTA - Upaya pemerintah menghadirkan hunian yang lebih manusiawi bagi warga terdampak bencana terus dilakukan.
Di tengah tantangan cuaca panas yang kerap dirasakan masyarakat Aceh, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan bahwa Hunian Sementara (Huntara) 2 di Kabupaten Aceh Tamiang dibangun dengan memperhatikan kenyamanan termal bagi penghuninya. Hunian ini tidak hanya menjadi tempat berlindung sementara, tetapi juga dirancang agar lebih layak huni dan mendukung aktivitas sehari-hari warga.
Perhatian terhadap aspek kenyamanan ini menjadi penting mengingat sebagian besar warga sebelumnya harus bertahan di tenda pengungsian dengan keterbatasan fasilitas. Melalui pembangunan Huntara 2, pemerintah berupaya menghadirkan suasana tempat tinggal yang lebih aman, sejuk, dan kondusif, terutama menjelang bulan Ramadan.
Material Khusus untuk Meredam Cuaca Panas
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengungkapkan bahwa setiap unit Huntara 2 di Aceh Tamiang dilengkapi material khusus untuk meredam panas. Atap hunian menggunakan lapisan aluminium foil yang berfungsi memantulkan radiasi matahari sehingga suhu di dalam ruangan tetap terjaga.
Menurut Dody, penggunaan lapisan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi iklim setempat yang cenderung panas, terutama pada siang hari. Dengan teknologi sederhana namun efektif ini, warga diharapkan dapat merasakan suasana hunian yang lebih sejuk dan nyaman dibandingkan tenda pengungsian.
“Yang terpenting masyarakat bisa masuk ke rumah, keluar dari tenda. Kita dorong percepatan pembangunan hunian-hunian sementara di beberapa tempat, agar warga bisa beribadah Ramadan dengan lebih aman dan tenang,” kata Dody.
Langkah ini tidak hanya ditujukan untuk meredam suhu panas, tetapi juga membantu mengurangi tekanan psikologis warga yang selama ini hidup dalam kondisi darurat.
Hunian Sementara sebagai Ruang Pemulihan Warga
Keberadaan Huntara 2 diharapkan menjadi ruang pemulihan bagi masyarakat terdampak bencana. Hunian yang lebih sejuk dan tertata memberi kesempatan bagi warga untuk beristirahat dengan lebih layak, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Selain itu, hunian yang nyaman juga dinilai penting bagi keluarga yang bersiap menjalani ibadah puasa. Lingkungan yang lebih aman dan tenang diharapkan dapat membantu warga menjalani aktivitas keagamaan tanpa gangguan berarti, sekaligus memulihkan kondisi fisik dan mental pascabencana.
Kementerian PU menilai bahwa pembangunan hunian sementara bukan sekadar menyediakan tempat tinggal, tetapi juga membangun kembali rasa aman dan stabilitas sosial masyarakat selama masa transisi menuju hunian tetap.
Spesifikasi dan Kapasitas Huntara 2 Aceh Tamiang
Pembangunan Huntara 2 di Kabupaten Aceh Tamiang merupakan bagian dari program percepatan pemulihan pascabencana yang terus dilanjutkan oleh Kementerian PU. Hunian ini dibangun dengan konsep modular di kawasan Karang Baru, Aceh Tamiang, di atas lahan seluas 13.248 meter persegi.
Total luas bangunan mencapai 3.780 meter persegi yang terdiri atas 13 blok hunian dan satu mushola. Huntara 2 diperuntukkan bagi 156 kepala keluarga atau sekitar 624 jiwa. Untuk menunjang sanitasi dan kesehatan lingkungan, kawasan ini dilengkapi 78 unit toilet dan 78 unit kamar mandi.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa percepatan pembangunan Huntara 2 dilakukan agar masyarakat tidak lagi tinggal di tenda dan segera menempati hunian yang lebih layak, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
Target Penyelesaian dan Pertimbangan Lokasi
Pembangunan Huntara 2 ditargetkan rampung sebelum bulan puasa atau paling lambat pada pertengahan Februari 2026. Target ini ditetapkan agar warga dapat segera menempati hunian yang lebih nyaman dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.
Pemilihan lokasi Huntara 2 yang berada di tengah Kota Kabupaten Aceh Tamiang juga menjadi pertimbangan penting. Lokasi ini dinilai lebih tertata dan dekat dengan berbagai fasilitas umum, seperti sekolah, sehingga dapat mendukung aktivitas warga selama tinggal di hunian sementara.
Lingkungan yang lebih strategis diharapkan membantu masyarakat tetap menjalani kehidupan sosial dan pendidikan anak-anak tanpa harus terputus akibat bencana.
Penanganan Huntara di Wilayah Aceh Lainnya
Selain Aceh Tamiang, Kementerian PU juga mempercepat penanganan hunian sementara di wilayah terdampak lainnya di Provinsi Aceh. Di Kabupaten Bener Meriah, progres pembangunan Huntara telah mencapai 5,32 persen.
Sementara itu, di Pidie Jaya dan Aceh Utara, proses penanganan masih berada pada tahap awal berupa survei lokasi. Tahapan ini menjadi dasar perencanaan pembangunan Huntara agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Melalui percepatan pembangunan hunian sementara di berbagai daerah, Kementerian PU berharap pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih merata, sekaligus memastikan masyarakat terdampak memperoleh tempat tinggal yang aman, nyaman, dan manusiawi selama masa transisi menuju hunian tetap.