JAKARTA - Upaya PT BUMA Internasional Grup Tbk untuk memperluas pijakan bisnis di tingkat global kembali berlanjut.
Emiten jasa pertambangan dengan kode saham DOID ini terus mendorong transformasi portofolio usahanya agar tidak lagi bergantung pada batubara semata, melainkan semakin seimbang dengan komoditas mineral dan logam dasar.
Langkah terbaru yang ditempuh adalah memperdalam keterlibatan di sektor tambang tembaga Australia. Melalui investasi lanjutan di 29Metals Limited, DOID menegaskan komitmennya terhadap strategi diversifikasi jangka panjang sekaligus memperkuat eksistensi di pasar internasional yang dinilai memiliki prospek berkelanjutan.
Langkah Strategis Melalui Anak Usaha Singapura
Penguatan investasi ini dilakukan lewat anak usaha DOID yang berbasis di Singapura, Bukit Makmur Mandiri Utama Pte Ltd atau BUMA SG. Pada pekan lalu, BUMA SG menandatangani surat pra-komitmen untuk berpartisipasi dalam penawaran hak institusional yang dilakukan oleh 29Metals.
Dalam kesepakatan tersebut, BUMA SG berkomitmen mengeksekusi seluruh haknya secara prorata. Tujuannya adalah mempertahankan porsi kepemilikan sebesar 19,44 persen di perusahaan tambang tembaga asal Australia tersebut. Langkah ini mencerminkan strategi defensif sekaligus ekspansif, yakni menjaga posisi strategis sambil memperkuat nilai investasi yang telah ada.
Nilai transaksi penyertaan saham ini tercatat mencapai 29,16 juta dolar Australia. BUMA SG akan mengambil sebanyak 72,9 juta saham baru dengan harga 0,4 dolar Australia per saham. Penyelesaian transaksi dijadwalkan berlangsung pada 28 Januari 2026.
Dampak Transaksi terhadap Kepemilikan Saham
Setelah transaksi rampung, jumlah saham BUMA SG di 29Metals akan meningkat signifikan. Kepemilikan saham yang sebelumnya berada di level 266,82 juta saham akan bertambah menjadi 339,73 juta saham. Meski demikian, secara persentase, porsi kepemilikan BUMA SG tetap berada di angka 19,44 persen.
29Metals sendiri merupakan perusahaan pertambangan tembaga dan logam dasar lain yang beroperasi di Australia. Perusahaan ini telah menjadi salah satu investasi strategis DOID dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan upaya perseroan membangun portofolio non-batubara yang lebih kuat dan tahan terhadap fluktuasi siklus komoditas.
Karena adanya hubungan kepemilikan tersebut, transaksi ini dikategorikan sebagai transaksi afiliasi. Direktur BUMA Internasional Group, Iwan Fuad Salim, menegaskan bahwa penyertaan saham dilakukan untuk menjaga porsi kepemilikan sekaligus melindungi nilai investasi perseroan.
Diversifikasi Dinilai Sejalan dengan Transformasi Bisnis
Dari sudut pandang analis, langkah DOID ini dinilai konsisten dengan agenda transformasi bisnis yang sedang dijalankan perusahaan. Kepala Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menilai penyertaan saham di 29Metals memberikan dampak positif bagi DOID.
Menurutnya, investasi tersebut memperkuat eksposur DOID ke sektor mineral dan logam dasar, sehingga secara bertahap dapat mengurangi ketergantungan pada batubara termal. Wafi juga menyoroti peran Australia sebagai salah satu pilar penting dalam pengembangan bisnis DOID ke depan, mengingat stabilitas regulasi dan potensi sumber daya mineral yang besar di negara tersebut.
Pandangan senada disampaikan oleh Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta. Ia menilai bahwa menjaga kepemilikan di 29Metals merupakan langkah krusial karena perusahaan tambang tersebut menjadi motor utama diversifikasi DOID ke sektor mineral.
Prospek Pendapatan dan Rekomendasi Saham
Jika strategi diversifikasi ini berjalan sesuai rencana, kontribusi pendapatan dari sektor non-batubara berpotensi meningkat signifikan dalam satu hingga dua tahun ke depan. Bahkan, porsi pendapatan dari batubara disebut-sebut berpeluang turun hingga di bawah 50 persen, seiring meningkatnya peran tembaga dan logam dasar dalam struktur bisnis DOID.
Untuk prospek jangka pendek, Muhammad Wafi memperkirakan kinerja DOID pada tahun ini tetap solid. Dorongan utama berasal dari ekspansi yang agresif namun tetap selektif di sektor mineral dan logam dasar, yang dinilai memiliki permintaan jangka panjang sejalan dengan tren elektrifikasi dan transisi energi global.
Ia merekomendasikan beli saham DOID dengan target harga Rp 380. Sementara itu, Nafan Aji Gusta mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati. Ia menyarankan investor untuk mencermati lebih lanjut perkembangan kinerja perusahaan serta realisasi diversifikasi sebelum mengambil keputusan investasi, terutama di tengah dinamika harga komoditas global yang masih fluktuatif.
Dengan investasi lanjutan ini, DOID memperlihatkan keseriusannya dalam membangun fondasi bisnis global yang lebih beragam, sekaligus memperkuat posisi di sektor mineral strategis yang diyakini akan menjadi penopang pertumbuhan jangka panjang.