JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot menunjukkan kekuatan yang cukup stabil di awal perdagangan hari ini, Selasa, 27 Januari 2026.
Mata uang Garuda dibuka menguat tipis di level Rp 16.780 per dolar Amerika Serikat (AS), yang berarti mengalami penguatan sebesar 0,01% dibandingkan dengan penutupan pada hari sebelumnya yang tercatat di angka Rp 16.782 per dolar AS.
Penguatan rupiah ini memberikan sinyal positif di tengah mayoritas mata uang Asia yang mengalami pelemahan.
Pada pagi hari ini, pergerakan mata uang di kawasan Asia menunjukkan tren yang berlawanan dengan rupiah, dengan sejumlah mata uang regional yang terlihat melemah terhadap dolar AS.
Pergerakan Mata Uang Asia yang Berbeda Arah dengan Rupiah
Sementara rupiah menguat, mayoritas mata uang utama di Asia justru menunjukkan penurunan nilai. Dolar Taiwan menjadi pengecualian, mengalami penguatan 0,04% yang menempatkannya sebagai mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan ini.
Di sisi lain, mata uang lainnya di Asia mengalami penurunan, bahkan beberapa di antaranya tergerus cukup dalam.
Won Korea Selatan, Baht Thailand, dan Peso Filipina Melemah
Pada pagi ini, won Korea Selatan tercatat mengalami penurunan paling tajam di Asia dengan koreksi mencapai 0,57%. Hal ini menunjukkan pergerakan yang kurang menguntungkan bagi mata uang negara ini di pasar internasional.
Won Korea Selatan memang seringkali sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, seperti kebijakan perdagangan dan ketegangan geopolitik, yang mempengaruhi nilai tukarnya terhadap dolar AS.
Tidak jauh berbeda, baht Thailand juga mengalami penurunan yang cukup signifikan sebesar 0,37%. Begitu juga dengan peso Filipina yang tertekan 0,18%. Pelemahan ini menambah daftar mata uang Asia yang terdepresiasi pada awal perdagangan hari ini, menunjukkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar mata uang regional sedang cukup kuat.
Yen Jepang dan Mata Uang Asia Lainnya Terkoreksi
Mata uang Jepang, yen, turut menunjukkan penurunan 0,1% terhadap dolar AS. Meskipun tak terlalu besar, namun koreksi ini menambah daftar pelemahan mata uang yang terjadi di Asia pada pagi ini.
Yuan China juga mengalami sedikit penurunan, tergerus 0,06%, sementara ringgit Malaysia turun tipis sebesar 0,03%. Dolar Singapura juga terlihat melemah, meskipun hanya sedikit, dengan penurunan sebesar 0,008%.
Dolar Taiwan dan Hongkong Menguat Tipis
Sebagai satu-satunya mata uang yang menguat pagi ini, dolar Taiwan tercatat melonjak 0,04% terhadap dolar AS, menjadikannya sebagai mata uang dengan penguatan terbesar di Asia pada perdagangan pagi ini.
Dolar Hongkong juga memperlihatkan penguatan yang cukup tipis, naik 0,004%. Meskipun penguatannya terbilang kecil, kedua mata uang ini mencatatkan tren positif di tengah dominasi pelemahan yang terjadi pada sebagian besar mata uang regional.
Faktor Penyebab Pergerakan Rupiah dan Mata Uang Asia
Penguatan rupiah pada hari ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor internal maupun eksternal. Faktor domestik, seperti stabilitas ekonomi Indonesia, kebijakan moneter Bank Indonesia, serta persepsi investor terhadap prospek ekonomi Indonesia, dapat menjadi penggerak utama bagi penguatan mata uang Indonesia.
Selain itu, faktor eksternal seperti pergerakan ekonomi global, harga komoditas, dan keputusan kebijakan dari negara besar seperti AS, juga memainkan peranan penting dalam menentukan arah pergerakan nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, mata uang Asia lainnya cenderung dipengaruhi oleh kebijakan negara masing-masing serta kondisi ekonomi global yang sedang bergejolak.
Ketegangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi global, serta perbedaan kebijakan moneter antara negara-negara besar juga berkontribusi terhadap pergerakan nilai tukar mata uang di kawasan Asia.
Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed terhadap Rupiah dan Mata Uang Asia
Pergerakan mata uang di Asia, termasuk rupiah, bisa sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed).
Apabila The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga, hal ini dapat menyebabkan arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menekan nilai tukar rupiah. Namun, pada hari ini rupiah berhasil menguat meskipun ada kekhawatiran tersebut, yang menunjukkan adanya faktor-faktor lain yang mendukung kekuatan rupiah di pasar.
Di sisi lain, mata uang Asia lainnya seperti won Korea Selatan, baht Thailand, dan peso Filipina, yang cenderung lebih sensitif terhadap pergerakan suku bunga AS, terpantau mengalami pelemahan.
Kondisi ini menambah tekanan pada nilai tukar mata uang di kawasan Asia, sementara beberapa negara seperti Taiwan dan Hongkong justru dapat menguat tipis.
Bagaimana Investor Merespons Pergerakan Mata Uang Asia
Investor yang memantau pergerakan mata uang di Asia tentu harus lebih berhati-hati mengingat fluktuasi yang terjadi pada nilai tukar mata uang di kawasan ini. Sementara rupiah menguat tipis, banyak mata uang Asia lainnya terpantau melemah.
Pelemahan ini bisa menjadi sinyal bagi investor untuk lebih selektif dalam memilih instrumen investasi di kawasan Asia, terutama dalam hal investasi yang berkaitan dengan mata uang.
Bagi investor yang ingin memanfaatkan penguatan rupiah, mereka mungkin akan mempertimbangkan untuk melakukan transaksi yang melibatkan mata uang Indonesia.
Di sisi lain, untuk investor yang mengamati pasar Asia secara keseluruhan, penurunan mata uang Asia dapat menjadi kesempatan untuk membeli aset-aset tertentu dengan harga yang lebih murah.