JAKARTA - Kepercayaan masyarakat terhadap transportasi berbasis rel terus menunjukkan tren penguatan yang luar biasa, terutama pada periode libur nasional. Fenomena ini terlihat jelas saat PT Kereta Api Indonesia (Persero) membukukan pencapaian signifikan pada masa angkutan libur panjang Imlek 2026 dengan total penjualan tiket mencapai 985.426 unit. Capaian ini menjadi bukti bahwa kereta api masih menjadi primadona masyarakat dalam menghindari kemacetan jalan raya sekaligus menikmati perjalanan yang tepat waktu.
Menariknya, angka penjualan tersebut justru melampaui total ketersediaan tempat duduk yang disiapkan secara statis. Angka ini melampaui jumlah kursi yang disediakan pada periode 13–17 Februari 2026, yakni sebanyak 825.086 tempat duduk. Hal ini menggambarkan betapa dinamisnya pergerakan penumpang di sepanjang jalur kereta api, di mana permintaan tetap tinggi meski kapasitas kursi pada titik keberangkatan awal telah terisi penuh.
Efektivitas Pola Perjalanan di Stasiun Antara
Muncul pertanyaan bagaimana angka penjualan bisa melebihi kapasitas kursi yang tersedia. Penjelasan teknis mengenai hal ini berkaitan dengan tingginya mobilitas penumpang jarak pendek dan menengah yang naik-turun di stasiun-stasiun penghubung. Tingginya angka penjualan dibandingkan kapasitas kursi ini terjadi karena pola perjalanan, sehingga satu kursi dapat digunakan oleh lebih dari satu penumpang di stasiun antara yang berbeda.
Melalui sistem ini, aset yang dimiliki KAI dapat bekerja secara maksimal. Berdasarkan data operasional, rata-rata okupansi harian tercatat secara konsisten melampaui angka 100 persen. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada ruang kosong yang tersisa dalam waktu lama, karena segera setelah satu penumpang turun, kursi tersebut langsung diisi oleh pelanggan lain yang telah memesan tiket dari stasiun tersebut ke destinasi berikutnya.
Puncak Arus Balik dan Apresiasi Manajemen
Kepadatan penumpang mencapai titik tertingginya pada saat libur panjang akan berakhir. Ribuan masyarakat secara serentak melakukan perjalanan kembali ke ibu kota dan kota-kota besar lainnya untuk bersiap memulai rutinitas pekerjaan. Puncak kepadatan terjadi pada arus balik Selasa dengan proyeksi lebih dari 172 ribu pelanggan melakukan perjalanan secara bersamaan.
Keberhasilan mengelola lonjakan volume pelanggan ini memicu respons positif dari pihak manajemen KAI. Transparansi data dan kelancaran layanan di lapangan menjadi kunci terjaganya kepuasan pelanggan. "KAI menyampaikan apresiasi atas kepercayaan masyarakat yang memilih kereta api sebagai moda transportasi selama libur panjang Imlek. Okupansi harian tercatat melampaui 100 persen, dipengaruhi pola perjalanan dinamis di stasiun antara," ujar Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba.
Yogyakarta Menjadi Magnet Utama Wisatawan
Dalam peta perjalanan libur Imlek 2026, wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta masih memegang kendali sebagai destinasi dengan trafik paling padat. Daya tarik budaya dan pariwisata wilayah tersebut membuat arus keberangkatan maupun kedatangan mengalami lonjakan drastis dibandingkan hari biasa. Yogyakarta mengukuhkan posisinya sebagai destinasi terfavorit selama masa libur ini.
Statistik menunjukkan bahwa mobilitas antara Jakarta dan Yogyakarta menjadi penyumbang volume penumpang terbesar dalam periode lima hari tersebut. Relasi Yogyakarta–Gambir mencatatkan volume tertinggi dengan 12.883 pelanggan, disusul oleh arah sebaliknya, Gambir–Yogyakarta, sebanyak 11.345 pelanggan. Angka-angka ini mempertegas peran strategis kereta api dalam mendukung konektivitas pariwisata antar-kota di Pulau Jawa.
Distribusi Penumpang di Kota-Kota Besar Lainnya
Selain wilayah Yogyakarta, beberapa kota besar lainnya yang menjadi pusat ekonomi dan pariwisata juga mengalami peningkatan trafik yang signifikan. Lonjakan ini merata baik pada kelas layanan premium maupun layanan menengah, menunjukkan bahwa minat bepergian dengan kereta api mencakup seluruh lapisan masyarakat.
Selain Yogyakarta, kota-kota besar lainnya seperti Semarang, Bandung, dan Surabaya juga menunjukkan trafik yang padat, terutama pada perjalanan kelas eksekutif dan ekonomi komersial yang menghubungkan pusat ekonomi dan pariwisata. Konsistensi okupansi yang tinggi di berbagai wilayah operasional ini menandakan bahwa sistem transportasi kereta api telah berhasil melakukan pemerataan distribusi penumpang secara efisien selama masa angkutan libur panjang Imlek 2026.