Lo Kheng Hong

Lo Kheng Hong Kembali Borong Saham GJTL Maret 2026, Kepemilikan Naik

Lo Kheng Hong Kembali Borong Saham GJTL Maret 2026, Kepemilikan Naik
Lo Kheng Hong Kembali Borong Saham GJTL Maret 2026, Kepemilikan Naik

JAKARTA - Aksi investasi investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menarik perhatian pasar modal. Pada awal Maret 2026, pria yang dikenal luas sebagai salah satu investor saham paling sukses di Indonesia itu tercatat menambah kepemilikan saham PT Gajah Tunggal Tbk. (GJTL).

Langkah ini menunjukkan keyakinan Lo Kheng Hong terhadap prospek emiten produsen ban tersebut. Meski kinerja keuangan perusahaan sempat menghadapi tekanan dalam beberapa periode terakhir, investor yang kerap dijuluki sebagai “Warren Buffett Indonesia” itu tetap optimistis terhadap masa depan perusahaan.

Data terbaru dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan bahwa aksi pembelian saham GJTL oleh Lo Kheng Hong masih berlanjut hingga awal Maret 2026. Penambahan kepemilikan ini semakin mempertegas strategi investasinya yang dikenal fokus pada saham bernilai murah dengan potensi jangka panjang.

Aksi Pembelian Saham Terbaru di Awal Maret 2026

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Rabu, 4 Maret 2026, Lo Kheng Hong tercatat membeli tambahan 350.000 lembar saham GJTL pada 3 Maret 2026.

Setelah transaksi tersebut dilakukan, total kepemilikan sahamnya di emiten produsen ban itu meningkat menjadi sekitar 210,48 juta lembar saham. Jumlah tersebut setara dengan 6,03 persen dari total saham yang beredar di perusahaan.

Aksi pembelian ini memperpanjang tren akumulasi saham GJTL yang telah dilakukan Lo Kheng Hong sejak beberapa waktu terakhir. Investor senior tersebut diketahui mulai meningkatkan kepemilikan saham perusahaan ini sejak akhir tahun sebelumnya.

Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa Lo Kheng Hong masih melihat potensi pertumbuhan dari perusahaan yang bergerak di sektor industri ban tersebut.

Akumulasi Saham Sejak Akhir Tahun

Pergerakan kepemilikan saham Lo Kheng Hong di GJTL memang menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Pada akhir Desember 2024, ia tercatat memiliki sekitar 182,19 juta lembar saham GJTL.

Jumlah itu kemudian meningkat secara bertahap. Hingga penghujung tahun lalu, kepemilikan sahamnya bertambah sekitar 22,02 juta lembar menjadi 204,22 juta lembar saham.

Aksi akumulasi tersebut berlanjut pada awal 2026, termasuk pembelian terbaru pada awal Maret yang menambah jumlah sahamnya menjadi lebih dari 210 juta lembar.

Pergerakan ini menunjukkan konsistensi strategi investasi Lo Kheng Hong yang kerap memanfaatkan peluang ketika suatu saham dinilai berada pada harga yang menarik.

Alasan Lo Kheng Hong Tetap Optimistis

Lo Kheng Hong sebelumnya sempat menjelaskan alasan di balik keputusannya terus membeli saham GJTL. Menurutnya, PT Gajah Tunggal Tbk. merupakan perusahaan yang bagus dan memiliki potensi.

Selain itu, ia juga menilai bahwa harga saham GJTL saat ini masih tergolong murah jika dibandingkan dengan nilai perusahaan.

Pandangan tersebut membuatnya tetap percaya diri untuk menambah kepemilikan saham meskipun kondisi kinerja perusahaan sempat mengalami tekanan.

“Yakin dengan prospek GJTL di 2026,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (19/1/2026).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa investor yang dikenal dengan strategi value investing itu masih melihat peluang pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang.

Kinerja Keuangan GJTL Hingga Kuartal III 2025

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan per 30 September 2025, PT Gajah Tunggal Tbk. mencatatkan kinerja yang mengalami tekanan dibandingkan periode sebelumnya.

Penjualan bersih perseroan tercatat sebesar Rp13,12 triliun hingga kuartal III 2025. Angka ini turun sekitar 2,38 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp13,44 triliun.

Penjualan perusahaan sebagian besar berasal dari penjualan kepada pihak ketiga di pasar lokal yang mencapai Rp10,20 triliun. Nilai tersebut turun sekitar 2,37 persen secara tahunan.

Di sisi lain, penjualan ekspor kepada pihak ketiga justru mengalami pertumbuhan. Hingga kuartal III 2025, nilai penjualan ekspor GJTL meningkat 7,43 persen secara tahunan menjadi Rp1,50 triliun.

Sementara itu, penjualan kepada pihak berelasi tercatat sebesar Rp1,67 triliun, atau mengalami penurunan sekitar 8,03 persen secara tahunan.

Selain penurunan penjualan, perusahaan juga mencatatkan kenaikan beban pokok penjualan sebesar 1,13 persen secara tahunan menjadi Rp10,62 triliun hingga kuartal III 2025.

Kondisi tersebut berdampak pada laba kotor perusahaan yang turun sekitar 14,97 persen secara tahunan menjadi Rp2,49 triliun.

Setelah memperhitungkan berbagai komponen seperti beban penjualan, beban umum dan administrasi, serta beban keuangan dan pengaruh keuntungan atau kerugian kurs mata uang asing bersih, Gajah Tunggal mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp1,03 triliun per September 2025.

Nilai tersebut mengalami penurunan sekitar 19,49 persen secara tahunan dibandingkan periode sebelumnya.

Meski demikian, aksi akumulasi saham yang dilakukan Lo Kheng Hong menunjukkan bahwa investor tersebut masih melihat prospek jangka panjang perusahaan tetap menarik, terutama ketika harga saham dinilai berada pada level valuasi yang murah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index