IHSG

IHSG Naik ke Level 7.009 di Awal Perdagangan, TPIA, BREN dan BBRI Pimpin Penguatan

IHSG Naik ke Level 7.009 di Awal Perdagangan, TPIA, BREN dan BBRI Pimpin Penguatan
IHSG Naik ke Level 7.009 di Awal Perdagangan, TPIA, BREN dan BBRI Pimpin Penguatan

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan Selasa, 7 April 2026, menunjukkan sinyal positif setelah sempat tertekan di awal pekan. Indeks langsung dibuka di zona hijau dan menembus level psikologis 7.000, didorong oleh penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Kondisi ini memberi harapan bagi pelaku pasar bahwa IHSG berpotensi mengalami pemulihan jangka pendek atau technical rebound. Namun, di balik penguatan tersebut, investor tetap diminta untuk waspada terhadap berbagai sentimen, baik dari dalam negeri maupun global, yang masih berpotensi memicu volatilitas.

IHSG Menguat di Awal Perdagangan

IHSG tercatat dibuka menguat ke level 7.009,38 pada pukul 09.02 WIB. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks naik sebesar 0,29% atau 19,96 poin. Sepanjang sesi awal, IHSG bergerak di rentang level terendah 6.995,78 dan sempat menyentuh posisi tertinggi di 7.010,08.

Pergerakan ini menunjukkan adanya minat beli yang cukup kuat di awal perdagangan. Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 305 saham tercatat menguat, sementara 117 saham mengalami penurunan dan 226 saham bergerak stagnan.

Di sisi lain, kapitalisasi pasar juga menunjukkan nilai yang signifikan, yakni mencapai Rp12.259,84 triliun. Hal ini mencerminkan masih besarnya nilai pasar saham Indonesia meski di tengah tekanan yang sempat terjadi sebelumnya.

Saham Big Caps Jadi Penopang Kenaikan

Penguatan IHSG pada pagi hari ini tidak lepas dari peran saham-saham berkapitalisasi besar yang bergerak di zona hijau. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menjadi salah satu penggerak utama dengan kenaikan sebesar 2,26% ke level Rp4.080 per saham.

Selain itu, saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) juga mencatatkan kenaikan sebesar 1,75% menjadi Rp10.200. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) turut menguat 0,46% ke posisi Rp4.380 per saham.

Kenaikan juga terlihat pada saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) yang naik 0,33%, diikuti saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang tumbuh 0,30%, serta saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) yang menguat 0,27%.

Meski demikian, tidak semua saham big caps bergerak positif. Beberapa saham justru mengalami tekanan, seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang turun 1,29% ke Rp4.960 dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang melemah 0,95% ke level Rp3.130.

Potensi Technical Rebound Usai Tekanan Asing

Penguatan IHSG hari ini dinilai sebagai bagian dari potensi technical rebound setelah tekanan jual yang terjadi pada awal pekan. Pada perdagangan Senin, 6 April 2026, IHSG ditutup melemah sebesar 0,53%.

Penurunan tersebut tidak lepas dari aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp611 miliar di pasar reguler. Tekanan jual ini terutama terjadi pada saham-saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA, serta saham sektor komoditas seperti BUMI dan BRMS.

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menjelaskan bahwa secara teknikal IHSG memiliki peluang untuk memantul dalam jangka pendek. Namun, ia mengingatkan bahwa penguatan ini masih bersifat terbatas.

"Hati-hati, jika indeks belum mampu menembus di atas level 7.050, maka IHSG masih rentan kembali terkoreksi hari ini," ujar Fanny dalam riset hariannya.

BNI Sekuritas menetapkan level support IHSG berada di kisaran 6.850 hingga 6.900, sementara level resistance berada di rentang 7.020 hingga 7.050.

Sentimen Global dan Regional Masih Jadi Penentu

Dari sisi global, pasar saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat tipis. Indeks S&P 500 naik 0,44%, Nasdaq menguat 0,54%, dan Dow Jones bertambah 0,36%.

Penguatan ini didorong oleh optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Disebutkan bahwa Pakistan tengah menyusun kerangka kesepakatan gencatan senjata selama 45 hari yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz.

Namun demikian, ketegangan geopolitik masih membayangi pasar. Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran jika kesepakatan tidak tercapai dalam waktu yang ditentukan.

Di kawasan Asia, pergerakan pasar cenderung bervariasi. Beberapa negara tengah menghadapi periode libur seperti Paskah dan Festival Qingming, yang memengaruhi aktivitas perdagangan.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi penting, seperti rilis inflasi dari Filipina dan Taiwan, serta keputusan suku bunga dari Bank Sentral Korea Selatan pada akhir pekan ini.

Dengan kombinasi berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG ke depan diperkirakan masih akan fluktuatif. Meski dibuka menguat, pelaku pasar tetap perlu mencermati berbagai faktor risiko yang dapat memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index